MINGGU, 21 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Pantai Timang berada di Kecamatan Tepus, Gunungkidul, selama ini dikenal sebagai pantai yang indah dan berombak besar. Namun seiring maraknya pariwisata Gunungkidul, Pantai Timang yang memiliki daratan batu karang yang berada sekitar 50 meter dari bibir pantai menjadi obyek wisata tersendiri yang menantang.


Daratan berupa batu karang yang disebut Pulau Karang itu, menjadi daya tarik bagi wisatawan yang cukup bernyali menghadapi ketinggian dan ombak besar. Pasalnya, untuk menuju ke Pulau Karang itu, wisatawan harus menaiki gondola yang ditarik manual oleh sejumlah orang.

Di Pantai Timang, debur ombak yang besar dan kencang sesekali datang menghantam karang yang bertebing curam. Pecahan ombak yang menghantam batu karang bahkan terdengar berdebum keras selayaknya ledakan bom. Sementara bebatuannya begitu tajam. Maka, dibutuhkan nyali bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi menyeberangi pantai itu menuju Pulau Karang, dengan menaiki gondola yang hanya ditarik dengan tenaga manusia.

Bagi wisatawan yang cukup mempunyai nyali, menyeberangi pantai dengan gondola menjadi tantangan yang mengasyikkan dan sensasional. Salah satu operator gondola, Suparno, ditemui Minggu (21/8/2016) mengatakan, wisatawan cukup membayar Rp. 150.000 untuk bisa merasakan sensasi menaiki gondola itu. Setelah sampai di Pulau Karang, katanya, wisatawan akan bisa menyaksikan keluasan Laut Selatan yang dikenal dengan ombaknya yang dahysat.

Gondola sendiri, kata Suparno, sebenarnya sudah ada sejak tahun 1997. Saat itu, gondola digunakan oleh para nelayan setempat untuk menyeberang ke Pulau Karang guna mencari lobster. Waktu itu di setiap musim hujan, para nelayan bekerjasama menyeberangi pantai dengan gondola pada sore hari untuk memasang jebakan lobster. Lalu, keesokan harinya para nelayan kembali lagi untuk mengambil lobster-lobster yang terperangkap dalam jebakan tersebut.


Seiring berjalannya waktu, beberapa tahun kemudian lobster-lobster di Pantai Timang tak lagi sebanyak dahulu. Nelayan pun tak lagi mau mencari lobster di Pulau Karang, karena hasil tangkapan tak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Gondola kemudian dibiarkan mangkrak, dan semenjak pariwisata Gunungkidul digalakkan, warga memanfaatkan gondola itu sebagai obyek wisata alternatif yang menantang.

Namun demikian, lanjut Suparno, seringkali wisata gondola terkendala oleh cuaca. Pasalnya, dengan debur ombak yang dalam kondisi normal sudah cukup besar, menjadi berbahaya jika terjadi cuaca ekstrim atau gelombang tinggi. Sementara untuk menjamin kenyamanan dan keamanan wisatawan, perawatan gondola dilakukan setiap hari. "Mulai dari pemeriksaan tali dan kelancaran roda gondola," pungkasnya.
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: