SENIN, 22 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Semua diawali saat berlabuhnya Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok baru, AKBP Hanny Hidayat menggantikan pendahulunya AKB Hengky Haryadi (11/05/2016). Kedatangannya disambut oleh dua Reog atau Dadak Merak serta diarak mulai pintu masuk sampai tempat upacara Sertijab (serah terima jabatan). Tiada yang menyangka penyambutan tersebut bukan sekedar selebrasi penyambutan biasa, melainkan milik para anggota Polres yang sudah dirintis sejak tahun 2015 dalam bentuk sebuah grup kesenian Reog Ponorogo.


Gayungpun bersambut, ternyata AKBP Hanny Hidayat merupakan seorang sosok pimpinan kepolisian yang memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan berikut pelestarian seni budaya nusantara. Setelah melalui perjalanan cukup panjang melalui persiapan yang mencakup segala hal, maka Acara Parade Reog Ponorogo Se-Jabodetabek di Anjungan Jawa timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kemarin (13/08/2016) menjadi ajang penampilan perdana grup 'Singo Budoyo Mudho' jajaran Polres Pelabuhan (KP3) Tanjung priok.

Penampilan mereka yang kompak berhasil mengundang decak kagum serta simpati berikut apresiasi dari khalayak pengunjung Taman Mini Indonesia Indah khususnya Anjungan Provinsi Jawa Timur. Apresiasi terhadap mereka dari acara perdana tersebut berlanjut dengan sebuah undangan khusus untuk tampil dalam Pekan Jambore Nasional di Bumi Pramuka Cibubur pada tanggal 18 Agustus 2016.

Dengan kekuatan 24 orang penari, grup Reog Singo Budoyo Mudho dipimpin Ketua Iptu Joko Nugroho penanggungjawab tim Kapolres Pelabuhan Tanjung priok AKBP Hanny Hidayat bersama Wakapolres Pelabuhan Tanjung priok Kompol Rully Indra W ditambah seorang koreografer seni tradisi kreasi Nyoman Semedi dari Komunitas Wayang orang Bharata Senen Jakarta Pusat, menyimpan banyak cerita dibalik kegiatan yang mereka lakukan.

Tim penari Reog Ponorogo Singo Budoyo Mudho Polres Pelabuhan (KP3) Tanjung Priok merupakan gabungan unsur-unsur anggota dari tiga Polsek yang berada dibawah naungan Polres Pelabuhan Tanjung priok di Jakarta Utara, yakni Polsek Pelabuhan kawasan Kalibaru, Polsek Pelabuhan kawasan Sunda Kelapa, dan Polsek Pelabuhan kawasan Muara Baru.

Para penari juga terdiri dari Polwan (Polisi wanita) dan Polki (Polisi laki-laki) dari beragam bagian di kepolisian wilayah Polres Metro Pelabuhan Tanjung priok yakni dari Reserse, Intel, dan lalulintas (lantas). Mereka juga berasal dari beragam etnis nusantara, yakni Sumatera Utara (Batak), Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan Betawi (Jakarta).

Penggagas sekaligus Ketua grup Reog Singo Budoyo Mudho di lingkungan jajaran Polres Metro Pelabuhan Tanjung Priok, Iptu Joko Nugroho sedikit mengisahkan, proses rintis yang dilakukan sejak tahun 2015 ini melalui proses yang cukup panjang, mulai dari proses ijin kegiatan kepada Kapolres sampai mengumpulkan para anggota yang memang bersedia membagi waktunya serta memiliki minat untuk ikut terjun ke dunia seni khususnya seni tari khas Nusantara Reog Ponorogo.

"Beruntung sekali Kapolres ternyata sosok yang memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan dan pelestarian seni budaya nusantara khususnya kesenian Reog Ponorogo. Jadi kami benar-benar mendapat dukungan penuh," jelas Iptu Joko Nugroho saat ditemui Cendana News di Anjungan Provinsi Jawa timur TMII.

Ia juga menambahkan, grup 'Singo Budoyo Mudho' sudah memiliki jadwal latihan rutin di Mapolres Pelabuhan Tanjung Priok sekali dalam seminggu.

"Khusus untuk pementasan, maka persiapan latihan kami tiga kali dalam satu minggu," imbuhnya.

Arahan Koreografer kreasi Nyoman Semedi turut memberikan warna tersendiri dalam lakon 'Kelono Brantas Dadak Merak' yang selalu dilakukan grup tari Reog Ponorogo 'Singo Budoyo Mudho' Polres Pelabuhan Tanjung Priok. Unsur kreasi modern yang dimasukkan berupa adegan pertempuran Patih Bujang Ganom (Bujang Anom) melawan Dadak Merak menggunakan senjata laras panjang modern tampak tidak mengurangi keaslian kisah legenda tersebut dimana Dadak Merak sebenarnya takluk oleh Prabu Kelono Sewandono melalui keampuhan pecut pusaka 'Samandino' miliknya.

Nyoman Semedi mengatakan, dalam melatih rekan-rekan penari dari jajaran kepolisian memang dibutuhkan perhatian khusus serta kesabaran. Terutama dalam setiap adegan dalam lakon Reog Ponorogo dimana berisi banyak sekali dinamika gerakan terutama dari Pasukan Jatil (Pasukan berkuda) Kerajaan Bantar Angin yang dipimpin Prabu Kelono Sewandono.

"Tingkat kesulitan melatih rekan-rekan polisi dalam menari adalah dari sisi mengolah kelenturan tubuh. Akan tetapi untuk kedisiplinan, kekompakan, serta stamina melahap porsi latihan, mereka adalah yang terbaik dari sekian banyak penari yang pernah saya arahkan koreografinya," terang Nyoman Semedi menambahkan.


Dalam penampilan mereka dihadapan remaja maupun pemuda-pemudi Pramuka di Jambore Nasional 2016 baru-baru ini para penari semakin menunjukkan kesolidan baik dari gerakan dalam setiap adegan maupun kekompakan. Unsur-unsur gerakan maupun berupa mimik mengundang tawa juga turut disisipkan Nyoman Semedi untuk lebih memeriahkan suasana.

Fenomena grup 'Singo Budoyo Mudho' dari jajaran Kepolisian Polres Pelabuhan (KP3) Tanjung Priok ini sementara diyakini merupakan yang pertama muncul dari jajaran Kepolisian Republik Indonesia. Bukan berarti belum ada, mungkin sudah ada juga namun belum mendapatkan kesempatan tampil dikarenakan banyak hal maupun kendala lainnya. Hal tersebut diutarakan oleh Wakapolres Pelabuhan Tanjung Priok Kompol Rully Indra W saat Cendana News melontarkan sedikit pertanyaan terkait keberadaan grup tari serupa di jajaran POLRI.

"Belum bisa memastikan apakah 'Singo Budoyo Mudho' adalah yang pertama, akan tetapi menurut saya, esensinya dari kemunculan kami bukanlah itu, melainkan bagaimana setiap warga negara walau dari beragam latar belakang profesi dapat turut serta melestarikan budaya nusantara. Itu pesan moral dari kemunculan kami," ucap Kompol Rully Indra.

Siapapun di negara ini dapat menjelma menjadi pemerhati sekaligus pelestari seni budaya nusantara. Dan hal itu merupakan tanggungjawab semua elemen bangsa Indonesia khususnya dari sisi lintas profesi. Jajaran Polres Metro Pelabuhan (KP3) Tanjung Priok yang bertempat di Jl Pelabuhan Nusantara II No.1 Tanjung Priok Jakarta Utara bersama Grup Seni Reog Ponorogo 'Singo Budoyo Mudho' adalah salah satu fenomena yang menjadi kenyataan mengenai peran serta setiap warga negara dalam melestarikan seni budaya nusantara lintas profesi.
[Miechell Koagouw]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: