SENIN, 29 AGUSTUS 2016
  
SUMENEP --- Kerusakan tangkis laut yang ada di Desa Padike, Kecamatan Pulau Talango, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, semakin lama tambah parah. Pasalnya walaupun sudah berjalan sekitar sepuluh tahun yang lalu, kerusakan penahan ombak tersebut tak kunjung mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah setempat, sehingga masyarakat selalu mengeluh khawatir air laut sampai tiba ke pemukiman warga.

Kondisi tangkis laut yang mengalami kerusakan parah
Sampai saat ini kerusakan tangkis laut yang ada di bibir pantai tersebut sangat memprihatinkan, karena keberadaan beton tangkis laut sudah hancur berantakan, apalagi ditambah dengan hantaman ombak yang cukup besar tangkis laut itu semakin parah. Namun sayangnya kondisi itu belum mampu mengetuk hatuk hati pihak terkait untuk segera memperbaikinya, sehingga terkesan diabaikan begitu saja.

“Kerusakan tangkis laut yang ada di desa ini dari hari ke hari semakin parah, tetapi meski begitu inisiatif dari pemerintah untuk memperbaikinya belum ada sama sekali. Sehingga sekitar sepuluh tahun tangkis laut tersebut dibiarkan rusak parah, sehingga masyarakat sering mengeluh dengan keberadaan tangkis laut ini” kata Syaiful Anwar (31), salah seorang warga setempat, Senin (29/8/2016).


Disebutkan, bahwa saking terlalu lama tak kunjung diperbaiki, tangkis laut yang sudah hancur membuat tanah yang berada di bibir pantai tersebut terus terkikis hingga kurang lebih 3 meter. Sehinggga sebelumnya batas bibir pantai yang jauh dari jalan akses warga setempat, kini sudah mendekati jalan, akibatnya ketika ombak dan angin sedang besar, air luat terhempas sampai ke jalan desa yang biasa dilintasi oleh masyarakat.

“Jadi masyarakat yang melintas harus lebih hati-hati, karena bisa basah ketika terkena hempasan air laut yang sampai ke jalan. Bahkan masyarakat khawatir jika ini terus dibiarkan, karena kemungkinan besar air laut akan masuk ke rumah warga” jelasnya.

Selama ini masyarakat seringkali memasang tanggul seadanya dengan menggunakan bambu, namun dengan adanya hantaman ombak besar, bambu-bambu tersebut akhirnya hancur berantakan. Sehingga mereka tidak punya pilihan lain, sebab minimnya ketersediaan bahan dan alat untuk memperbaiki tangkis laut membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. 
(M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: