SABTU, 27 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Pertanian merupakan pembangunan multi sektor dari hulu ke hilir. Dari sekian banyak faktornya, pengairan menjadi kebutuhan paling mendasar bagi terwujudnya pembangunan di sektor pertanian itu. Karenanya, keberadaan embung atau waduk sebagai sumber irigasi pertanian menjadi penting untuk dijaga kelestariannya.


Kelestarian usaha pertanian yang umumnya berada di daerah dataran bawah, memerlukan kelestarian ekologi daerah atas atau daerah-daerah pegunungan agar ketersediaan air senantiasa terjaga. Dan, keberadaan waduk atau embung berperan mempertahankan dan menjaga kelestarian ekologi kawasan pegunungan atau daerah atas sebagai sumber air tersebut. Lebih dari itu, kelestarian daerah atas juga mampu menjadi penahan atau pencegah terjadinya banjir bandang dan tanah longsor. 

Waduk Sermo yang berada di Desa Hargowilis, Kokap, Kulonprogo, merupakan salah satu waduk besar seluas kurang lebih 5 Hektar. Sejak diresmikannya oleh Presiden Soeharto pada 20 November 2016, hingga sekarang Waduk Sermo masih berfungsi dengan baik. Bahkan, Waduk Sermo selama ini menjadi salah satu penyangga utama pertanian Kulonprogo yang memiliki luasan lahan pertanian mencapai 10.300 Hektar.

Karena peran pentingnya waduk itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dalam sebuah kunjungan kerjanya di Yogyakarta pekan ini memilihnya sebagai lokasi temu lapang dan jaring aspirasi, serta penyerahan simbolis bantuan alat dan mesin pertanian berupa traktor dan pompa air kepada sejumlah petani di Kulonprogo, agar bisa memantau sekaligus memastikan Waduk Sermo masih berfungsi maksimal dalam menjaga kelestarian ekologi daerah atas maupun dalam penyediaan suplai air untuk pertanian.

Sebagaimana sering disampaikan Titiek Soeharto di berbagai kesempatan, para petani, nelayan dan pembudidaya ikan merupakan ujung tombak terwujudnya kedaulatan pangan, termasuk pemenuhan protein. Setiap jengkal lahan dan potensi bangsa yang kaya ini harus dipotimalkan untuk terwujudnya kedaulatan pangan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan maupun ketahanan ekologi.

Titiek dalam kunjungannya di Waduk Sermo pun menyempatkan diri menebar benih ikan nila sebanyak 20.000 ekor, yang diharapkan bisa menjadi inspirasi warga sekitar akan pentingnya pemanfaatan waduk sebagai sarana budi daya perikanan air tawar, yang juga memiliki andil bagi tercipatnya kedaulatan protein.


Seperti diketahui, Waduk Sermo juga merupakan kawasan bebas memancing bagi masyarakat dan wisatawan. Karenanya, tebar benih Ikan nila juga diharapkan bisa lebih mendorong tumbuhnya ekowisata melalui kegiatan memancing oleh para wisatawan. Tentu saja, tebar benih tersebut juga dalam rangka mendorong Kelompok Budi Daya Ikan, khususnya pembibitan ikan, agar terus tumbuh dan berkembang sebagai salah satu mata rantai terwujudnya kedaulatan pangan.

Pelestarian ekologi daerah atas atau kawasan pegunungan, tentu saja tidak cukup hanya dengan membangun waduk, embung atau bendungan. Namun juga harus melestarikan vegetasi kawasan pegunungan. Karenanya, selain menebar benih ikan, Titiek Soeharto juga melakukan penanaman tanaman pohon langka di kawasan Waduk Sermo.

Penanaman pohon langka menyiratkan pesan kepada publik, bahwa kesadaran melakukan penghijauan atau reboisasi sebagaimana pernah digalakkan oleh Presiden Soeharto melalui gerakan penanaman kembali, perlu dihidupkan lagi.

Pasalnya, menciptakan keamanan dan kenyamanan lingkungan, merupakan tanggung jawab bersama, yang salah satunya bisa dilakukan melalui gerakan sadar menanam. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: