SABTU, 20 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Akhir pekan menjadi kesempatan istimewa para penghobi wisata alam bebas diantaranya dengan mengunjungi destinasi wisata bahari yang ada di ujung paling Selatan Pulau Sumatera yang mulai dikenal sebagai wisatawan dan dikenal dengan tanjung Tua. Lokasi ini berjarak sekitar 8 kilometer dari Jalan Lintas Sumatera dengan jalur darat dengan kondisi jalan beraspal bagus. Kondisi jalan diantara perbukitan lengkap tersaji dengan sempurna dengan area pertambakan dan perkebunan yang akan menuju lokasi Tanjung Tua.


Didi Hodidi (34) selaku pengelola sekaligus ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Tua mengungkapkan lokasi Tanjung Tua saat ini merupakan wisata alam yang masih sangat alami dengan kondisi pepohonan yang masih alami diantaranya Pandan laut, Ketiung ,Waru, ketapang, Nyamplung yang tumbuh di sekitar tebing dan perbukitan di wilayah tersebut. Pohon pohon tersebut menjadi peneduh alami dengan ratusan kursi terbuat dari bambu dan kayu yang berasal dari sekitar wilayah tersebut.

Kondisi Tanjung Tua yang masih alami saat ini dikelola secara mandiri oleh Pokdarwis yang beranggotakan sekitar 30 orang yang sebagian besar merupakan warga Desa Bakauheni dengan melakukan pengelolaan diantaranya berjualan dan membersihkan area wisata tersebut. Kelengkapan yang sedang dipersiapkan di lokasi wisata tersebut diantaranya penginapan karena saat ini pengunjung masih melakukan kunjungan tanpa menginap.

“Pelan pelan akan kita buat lokasi wisata ini memiliki tempat tempat persinggahan dan juga cottage cottage untuk beristirahat bagi para pengunjung namun saat ini masih dalam pengembangan dan keterbatasan dana pengelola,” ungkap Didi Hodidi saat ditemui media Cendana News di pantai Tanjung Tua,Sabtu (20/8/2016)

Wisatawan yang berkunjung ke Tanjung Tua saat ini tak perlu merogok kocek yang dalam untuk menikmati keindahan wisata bahari tersebut dengan Rp10ribu yang digunakan sebagai uang parkir,keamanan dan pemeliharaan untuk akses jalan. Pengunjung bahkan bisa menikmati birunya laut Selat Sunda dari bibir pantai dari kursi kursi terbuat dari bambu di pinggir batu batu keras yang menurut sejarah merupakan endapan lava muntahan dari letusan Gunung Krakatau.

Menyimpan pesona keindahan alam yang mempesona, Tanjung Tua juga sarat dengan wisata sejarah religi yang turun temurun oleh warga sekitar dikenal sebagai kampung yang hilang. Sejarah Tanjung Tua dikenal sebagai kampung yang hilang tersebut hingga kini masih dikenal dengan lokasi yang menyimpan misteri.

Salah satu kearifan lokal yang masih menjadi lokasi ziarah warga sekitar diantaranya dengan adanya lokasi persinggahan para wali dengan adanya petilasan sebanyak tiga lokasi di tempat tersebut. Beberapa wisatawan yang berniat melakukan wisata religi bahkan sengaja datang pada malam hari dan bukan sekedar menikmati keindahan wisata Tanjung Tua.


Didi mengungkapkan ada beberapa pilihan buat wisatawan saat mengunjungi Tanjung Tua diantaranya menikmati keindahan Gunung Krakatau pada saat cuaca cerah dengan kondisi mengepulkan asap, penghobi memancing bisa memancing ke lokasi tanjung yang merupakan spot memancing tanpa harus menggunakan perahu, penghobi wisata religi dapat melakukan ziarah di petilasan para wali dan juga penghobi fotografi bisa mendokumentasikan keindahan Tanjung Tua dari atas tower mercusuar.

Mercusuar atau tower dengan lampu suar sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan kini sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan karena dari atas tower wisatawan bisa melihat dua sisi pantai Pulau Sumatera baik sisi Barat maupun Timur. Kedua sisi terlihat membiru dan hijau dengan pasir putih yang kerap diabadikan pengunjung yang berada di lokasi tersebut.

Selain hal-hal seperti itu, Didi mengakui beberapa wisatawan yang datang diantaranya peneliti yang melakukan penelitian terkait dampak letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang jejaknya masih telihat pada batu-batu yang ada di tebing sekitar Tanjung Tua. Batu batu besar berwarna hitam sebagian berada di pantai bahkan sebagian ada di perbukitan sebagian terlihat seperti batu-batu magma yang membeku dan banyak berserakan di lokasi tersebut.

Saat ini Didi mengaku kunjungan wisatawan ke lokasi wisata Tanjung Tua berkisar ratusan orang karena sebagian merupakan wisatawan penghobi petualangan. Selain itu akses jalan yang masih terbatas hanya bisa dilalui kendaraan roda dua membuat Pokdarwis Pantai Tanjung Tua berharap ada sentuhan dari pemerintah daerah berupa pembangunan infrastruktur pendukung diantaranya jalan, lokasi istirahat serta sarana lain untuk wisata.

“Berdasarkan pengamatan saya kunjungan wisatawan lebih banyak karena foto-foto Tanjung Tua banyak diunggah melalui media sosial sehingga tak hanya pengunjung dari dalam negeri melainkan dari luar negeri juga” ungkap Didi.


Didi mengaku lokasi Tanjung Tua menjadi lokasi favorit yang sangat ramai dikunjungi saat akhir pekan. Kondisinya yang masih alami membuat wisatawan pecinta petualangan bisa mengabadikan momen-momen perjalanan yang menantang dengan melewati kebun-kebun milik penduduk diantaranya kebun coklat, kebun pisang, kebun jagung serta perkebunan lain yang masih alami.

Destinasi wisata paling ujung Selatan Pulau Sumatera terus dikembangkan oleh Kecamatan Bakauheni khususnya Desa Bakauheni dengan melakukan pembenahan serta penataan akses jalan dan fasilitas di lokasu tersebut. Kepala Desa Bakauheni, Syahronie, mengaku potensi wisata bahari tersebut diakuinya sudah dikenal sejak lama namun semakin ramai dikunjungi seiring dengan membaiknya akses jalan ke lokasi tersebut.

Kondisi jalan yang sebagian besar terbuat jalan semen dan paving membuat pengunjung bisa melakukan perjalanan menggunakan kendaraan roda dua sementara pengguna kendaraan roda empat harus berhenti di kampung Sukarame dan dilanjutkan dengan sarana ojek motor.

“Rencananya akan dilakukan pembebasan lahan selebar empat meter agar akses jalan bisa memungkinkan untuk kendaraan roda empat bisa masuk” ujar Syahronie.

Ia bahkan berharap tempat wisata tersebut akan semakin dikenal karena selain semakin mengenalkan destinasi wisata bahari di Bakauheni juga bisa meningkatkan perekonomian warga. Peningkatan ekonomi warga tersebut diantaranya dengan menjadi lahan mata pencaharian warga yang berjualan di lokasi wisata Tanjung Tua dengan menjual makanan dan minuman ringan diantaranya hasil bumi masyarakat sekitar diantaranya kelapa muda, pisang muli serta hasil perkebunan lainnya.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: