MINGGU, 14 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Kekayaan sendra tari dalam budaya Nusantara sudah tidak terbantahkan oleh siapapun di dunia ini. Tari tradisi merupakan salah satu magnet wisatawan di daerah manapun di seluruh nusantara tercinta ini, namun seiring perkembangan jaman yang semakin modern maka lahir pula genre tari tradisi kreasi. Maksudnya adalah, tarian tersebut merupakan sebuah tari tradisi namun dipadukan dengan kreasi modern tanpa mengurangi sedikitpun nilai tradisional tarian itu sendiri.

Yunita Tri Nurdyawati, Laila Nafisa, Finabila Syafitri, Ainun Pangestu Putri Munif, dan Windi Septiani Saputri membawakan Tari Nandak Ganjen 
Sebuah tarian tradisional biasanya akan mengangkat kisah-kisah legenda masyarakat lokal sampai dengan kejadian situasional didalam tatanan kehidupan masyarakat itu sendiri. Salah satu tari tradisi kreasi milik masyarakat Betawi atau Jakarta yang cukup kondang sekarang adalah Tari Nandak Ganjen.

Artikulasi dari Nandak Ganjen jika diambil berdasarkan nama tarian tersebut adalah berasal dari dua kata yaitu Nandak (dalam bahasa Betawi artinya menari) dan Ganjen (sebuah istilah populer di Jakarta yang berarti genit atau centil).

Nandak Ganjen pertama kali diciptakan oleh seorang seniman Betawi yang juga putra Betawi asli bernama Sukirman atau akrab disapa Bang Ntong yang sudah malang melintang di kesenian Gambang Kromong dan Topeng Betawi sejak tahun 1970. Keseharian Bang Ntong adalah sebagai Ketua dari Grup musik Gambang Kromong Ratna Sari sekaligus seorang pemerhati kelestarian kesenian Betawi.

"Ada sinopsis berupa pantun ; Buah cempedak buah durian, sambil nandak cari perhatian, nah berawal dari situlah Nandak Ganjen diciptakan," terang Bang Ntong saat ditemui Cendana News di Anjungan Provinsi DKI Jakarta Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Bang Ntong kembali melanjutkan keterangannya, Tari Nandak Ganjen yang diciptakannya tahun 2000 tersebut merupakan sebuah tarian kreasi yang menceritakan seorang gadis belia yang baru beranjak dewasa atau dalam istilah modern di Indonesia adalah gadis ABG (Anak Baru Gede). Dimana dalam proses peralihan tersebut mulai nampak keceriaan remaja dibarengi kecentilan namun terkadang kecentilan-kecentilan itu berujung pada kekonyolan lucu yang membuat siapapun yang melihatnya akan tersenyum-senyum.

"Contohnya begini, misalnya dia mulai belajar dandan, tapi tidak bertanya dulu bagaimana cara dandan yang baik dan benar, maka nanti hasilnya berlebihan atau istilah orang Betawi menor. Bukannya cakep malah serem tu anak," Bang Ntong melanjutkan dengan logat Betawinya.

Beragam kecentilan, kegenitan, berikut canda tawa seorang gadis remaja coba diterjemahkan oleh Bang Ntong dalam bentuk gerak tari. Mulai dari awal para penari keluar dari belakang panggung sampai gerak kaki, tangan, maupun putaran-putaran kecil yang mereka lakukan dalam tarian tersebut coba dipadukan oleh Bang Ntong dengan hentakan musik Gambang Kromong yang riang.

Dalam acara Evaluasi Diklat Tari Betawi (13/08/2016) di Anjungan Provinsi DKI Jakarta TMII, tari Nandak Ganjen dibawakan oleh lima orang gadis belia nan lucu yakni : Yunita Tri Nurdyawati, Laila Nafisa, Finabila Syafitri, Ainun Pangestu Putri Munif, dan Windi Septiani Saputri. Kelimanya dengan diiringi musik Gambang Kromong Ratna Sari dalam ritmik pentatonik modern berhasil mengundang decak kagum dan sedikit memancing senyum serta tawa pengunjung karena gerakan-gerakan tari dibarengi ekspresi yang memang menarik dan lucu.

Untuk kostum para penari, terbilang ceria karena menggunakan perpaduan beberapa warna seperti kuning, hijau, merah, warna emas, serta warna hijau pastel nan teduh. 

Busana yang dikenakan penari Nandak Ganjen.
Busana yang dikenakan para penari Nandak Ganjen mengambil bentuk busana kebaya Topeng Betawi yang dipadukan dengan toka-toka (penutup dada) teratai, Ampreng (penutup bagian pinggang depan kebawah), Andong (penutup bagian pinggang belakang kebawah), dan selendang. Untuk aksesoris kepala digunakan kreasi berbentuk sumpit-sumpit berwarna keemasan yang terinspirasi dari akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa.

Menurut Bang Ntong, Tari Nandak Ganjen jika dibawakan oleh penari dewasa maka si penari akanmelakukan tarian tersebut sambil bernyanyi. Sehingga dalam tari Nandak Ganjen selain olah gerak tubuh maka seorang penari juga dituntut untuk bisa melakukan olah nafas yang baik agar suara yang dikeluarkan untuk menyanyi nantinya akan terdengar keras, utuh, serta bulat.

"Dalam iven Evaluasi Diklat Tari Betawi ini Nandak Ganjen dibawakan oleh anak kecil, jadi mereka belum mendapatkan pelatihan olah nafas agar dapat menari sambil menyanyi, tapi ini sih sudah bagus ya untuk penari seusia mereka berlima, minimal eksplorasi gerak tari dan mimik lucunya dapet, jadi penonton yang hadir juga benar-benar terhibur semuanya," pungkasnya.(Miechell Koagouw)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: