RABU, 10 AGUSTUS 2016

SOLO --- Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tengah focus mengembangkan pemanfaatan tenaga nuklir  untuk swasembada pangan di Indonesia, terutama di bidang pertanian. Dengan memanfaatkan tenaga  nuklir, Batan telah menghasilkan sejumlah varietas baru yang dinilai lebih unggul dibanding dengan varietas yang selama ini ada.


Hal ini diungkapkan Kepala Batan Prof Djarot Sulistio Wisnubroto, saat menghadiri Symposium Internasional Penerapan Teknologi Nuklir, yang dihadiri ilmuwan dari berbagai Negara yang telah memanfaatkan energi nuklir.  Di bidang pertanian, Djarot menyatakan batan telah mengeluarkan satu varietas benih padi baru yang sudah dilakukan uji coba dan hasilnya sangat bagus.

“Jika varietas padi benih lokal produknya kurang maksimal, tak tahan lama dan masa tanamnya panjang, namun dengan radiasi nuklir dapat tahan lama, usianya juga pendek. Dan yang lebih penting adalah masyarakat merasakan rasanya enak,” ungkap Prof Djarot disela-sela Symposium, dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harkitnas)  ke 21 yang  digelar di Pendapi Gedhe, Balaikota Solo, Rabu siang (10/8/16).

Dijelaskan lebih lanjut, dengan pengembangan sekaligus pemanfaatan tenaga  nuklir untuk pertanian ini masyakat diminta tidak khawatir. Sebab, semua proses pengembangan nuklir di bidang pertanian ini seluruhnya aman.  Jika selama ini kekhawatiran terhadap nuklir adalah hulu ledak dan radiasinya yang berbahaya untuk kesehatan, pengembangan nuklir yang dilakukan Batan itu benar-benar telah aman.

“Pemanfaatan nuklir ini hanya benihnya saja yang dilakukan radiasi. Sementara lahan pertanian tetap seperti biasa. Termasuk regenerasi tanaman pasca benih yang diberi radiasi nuklir juga aman,” tekannya.


Selain mengeluarkan satu varieties baru jenis padi, Batan juga telah mengembangkan varietes jenis tanaman pangan lainnya.  Seperti  tanaman kedelai yang saat ini Batan telah mengeluarkan 10 varietes baru hasil radiasi nuklir, serta beberapa tanaman pangan pendukung seperti kacang panjang.

“Dengan  pengembangan teknologi nuklir  kita mendukung kedaulatan pangan, dan ini  sangat membantu  Kemandirian Pangan Nasional,” imbuhnya.

Hingga saat ini terdapat 24 daerah yang memanfaatkan trobosan Batan dalam pengembangan teknologi nuklir di bidang pertanian tersebut.  Puluhan daerah itu tersebar di Indonesia di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan sejumlah daerah lain di Indonesia. Untuk wilayah Jawa Tengah sendiri yang telah menggunakan benih tanaman varietes baru dari Batan ini seperti di daerah Klaten, Boyolai, dan Sukoharjo.

“Dari berbagai daerah telah menggunakan varietes baru dari Batan ini hasilnya bagus. Hanya saja kita tidak bisa berjualan, biasanya kita serahkan ke swasta dan mereka yang menjualnya. Ada catatan dari kita, yakni bagaimana varietes baru hasil trobosan pemanfaatan teknologi nulir ini masuk dalam struktur di Kementrian Pertanian agar dapat dimanfaatkan oleh seluruh petani di Indonesia,” pungkasnya. (Harun Alrosid).
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: