SENIN, 22 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Menjadi pemimpin baik dari tingkat desa hingga ke tingkat nasional merupakan sebuah ujian, sebuah tugas berat yang butuh sebuah komitmen.

Antonius B. Ludju Kepala Desa Nita

Semua orang mempunyai peluang untuk itu. Namun, keberhasilan sebagai seorang pemimpin diukur dari apakah pemimpin itu bisa menempatkan dirinya sebagai pengabdi, pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya.

“Saya pikir semua orang mempunyai peluang, semuanya tergantung kepada pribadi masing-masing,” ujar Antonius B. Ludju.

Kepala desa Nita kecamatan Nita kabupaten Sikka ini kepada Cendana News yang menemuinya Senin (22/8/2016) mengatakan, setiap pemimpin khususnya kepala desa bisa memimpin rakyatnya dengan baik.

“Saat menjabat atau menerima tugas sebagai kepala desa atau perangkat desa posisikan dirimu sebagai pengabdi desa,” tegasnya.

Logo Desa Nita
Ketika seseorang menjadi pengabdi desa pesan Antonius maka segala hal lainnya diringgalkan  demi menjalankan tugas kewajiban untuk membangun desa.

Berilah dirimu sebagai seorang pengabdi pesan kepala desa yang menghantar desa Nita meraih juara satu desa tingkat nasional 2016. Rangkul seluruh masyarakat dengan cara apa saja, semua masyarakat harus dilibatkan dalam setiap proses pembangunan di desa.

“Saya yakin, bila kita terbuka masyarakat pasti mau terlibat. Kami membangun sebuah bangunan bisa dalam 3 hari meski idealnya butuh waktu beberapa minggu” ungkapnya.

Hal ini bisa terjadi kata Antonius karena ada kerjasama dan partisipasi dari semua masyarakat di desa. Desa Nita juga sudah dijadikan desa contoh,sebagai tempat belajar bagi desa lainnya di Indonesia

“Ini pekerjaan rumah yang besar. Lomba di satu sisi mendorong kita untuk berbuat lebih baik, bukan mengukir prestasi dan selesai,” paparnya.

Dengan penetapan desa Nita sebagai desa contoh lanjut Antonius,pihaknya akan mempersiapkan diri lebih baik lagi.Penghargaan baginya melecut pihaknya untuk terus berinovasi dan memacu kreatifitas dalam membangun desa.

“Saya hanya bekerja tulus dan apa adanya bukan untuk mengejar popularitas apalagi penghargaan,” tegasnya.

UU Desa yang ada saat ini sebut Antonius merupakan spirit baru, roh baru bagi desa. Disitu ada konsep Membangun Desa dan Desa Membangun. Ketika membangun desa maka perlu pendekatan politis dan demokratis, ada alurnya, peraturan yang mengatur.

Sementara konsep desa membangun,perlu swadaya, kemandirian semua perangkat desa dan elemen masyarakat dalam membangun desa. Semua itu sebutnya tergantung kepada kepala desa dan masyarakat desa.

“Jangan hanya mengeluh dananya kurang tapi dari dana yang kecil kita bisa berbuat banyak hal,” tuturnya.

Saat ditanyai terkait petugas pendamping desa yang ada saat ini, Antonius mengatakan, mungkin pendamping desa masih menemukan kira-kira posisi mereka dimana.

Meski desa lain mengkritik petugas pendamping desa lanjutnya, dirinya terbuka dan mengajak mereka sama-sama belajar. Menurutnya banyak desa yang mengatakan pendamping desa hampir tidak ada, tidak kelihatan kerjanya hingga saat ini.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: