RABU, 31 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Dalam upaya pelestarian nilai-nilai luhur perjuangan 1945 maka masyarakat memerlukan gambaran sejarah perjuangan bangsa secara visual. Dalam hal ini, sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia tidak lepas dari terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Oleh karena itu, pimpinan TNI di era 1970-an memandang perlu dibangun sebuah museum Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang berisi sejarah pembentukan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan perkembangan organisasi TNI dari masa ke masa.


Karena hubungan sejarah TNI dengan perjuangan kemerdekaan sangat erat maka dengan adanya museum Angkatan Bersenjata maka masyarakat juga dapat sekaligus melihat secara visual bagaimana sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam waktu bersamaan. Dengan dasar pemikiran tersebut Pimpinan TNI memberikan tugas kepada Kepala Pusat Sejarah TNI saat itu, Brigjen TNI Nugroho Notosusanto untuk mempersiapkan rencana pembangunan Museum TNI.

Pembangunan dimulai pada 15 November 1971 dengan merenovasi sekaligus memugar bekas rumah Ibu Dewi Soekarno (wisma yaso). Setelah melalui masa pembangunan yang cukup panjang akhirnya sebuah Museum bernama Satria Mandala berdiri di atas tanah seluas 56.670 m2 untuk kemudian diresmikan pada 5 Oktober 1972 oleh Presiden Soeharto.

Museum TNI Satria Mandala Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI) di Jalan Gatot Subroto Jakarta ini berisi koleksi-koleksi berupa diorama, senjata, foto, patung pahlawan, Panji-panji, pesawat terbang, kendaraan tempur, meriam, rudal, miniatur alat tempur, dan ruangan khusus berisi sejarah serta koleksi pribadi Empat Jenderal paling berpengaruh dalam sejarah pembentukan serta perjalanan TNI itu sendiri yakni : Panglima Besar Jenderal Besar TNI Soedirman, Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo, Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution, dan Jenderal Besar TNI HM.Soeharto.

Lintas sejarah perkembangan dan perjuangan TNI sudah dimulai jauh dari masa revolusi 1945 namun momentum yang dijadikan tonggak awal adalah saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta di Jalan Pegangsaan timur No.56 Jakarta yang dihadiri para anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Walikota Jakarta, para pemuda serta rakyat Jakarta.

Proklamasi dipandang sebagai puncak perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari penjajahan untuk kemudian menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Lebih dari itu, Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah juga adalah pertanda lahirnya sebuah negara baru yang dicapai melalui perjuangan fisik dan diplomasi. Dalam rangkaiannya, maka bangsa Indonesia menjadi sebuah negara bernama Republik Indonesia yang oleh rakyat melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) memilih pemimpin besar revolusi Ir.Soekarno serta Drs.Muhammad Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Disamping itu, negara inipun menjadikan Pancasila sebagai Ideologi negara dengan Undang Undang Dasar 1945 sebagai payung hukum bagi seluruh rakyatnya.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir ditengah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Oleh karena itu dapat disebut bahwa TNI merupakan produk dari perjuangan itu sendiri. Bagai seorang bayi kecil yang mulai merangkak maka perkembangan TNI berawal dengan terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR), badan-badan perjuangan dan kesatuan-kesatuan polisi. BKR dan badan perjuangan yang kemudian berkembang secara bertahap menjadi Tentara Nasional Indonesia hingga kini dikenal dengan nama TNI.

Secara garis besar, perkembangan organisasi TNI dimulai dari terbentuknya BKR pada 22 Agustus 1945. Selanjutnya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat pada 5 Oktober 1945. Kemudian berubah lagi menjadi Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) pada 7 Januari 1946. Berbagai perbaikan terus dilakukan oleh para tokoh-tokoh pendirinya lalu pada 25 Januari 1946 berganti nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Transformasi terus berlanjut sampai akhirnya tinta emas sejarah mencatat tanggal 3 Juni 1947 TRI berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Diawal kemerdekaan, TNI bersama rakyat Indonesia harus berhadapan dengan perjuangan fisik melawan pendudukan Jepang, Inggris (sekutu), dan Belanda sang penjajah yang masih terus berusaha untuk tidak mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia. Tercatat berbagai pertempuran heroik yang harus dijalani :

Palagan Semarang (1945)

Pertempuran 5 (lima) hari antara para pemuda Semarang, Tentara Republik Indonesia, Polisi Nasional, didukung seluruh rakyat melawan pasukan berani mati Jepang " Kido Butai " akibat terbunuhnya seorang dokter muda bernama Dr.Kariadi oleh kebrutalan tentara Jepang kala itu. Alibi dan tujuan pihak Jepang menyerbu Semarang dengan membabi-buta adalah karena salah satu pemimpin mereka Mayor Jenderal Nakamura ditawan oleh kelompok pejuang di Magelang. Oleh karena itulah mereka menyerang Semarang dengan tujuan menawan Gubernur Semarang Mr.Wongsonegoro.


Palagan Ambarawa (1945)

Berawal saat Letnan Kolonel Isdiman dari Resimen Purwokerto mendapat perintah dari Panglima Jenderal Soedirman untuk bergerak bersama pasukannya ke Ambawara. Namun di tengah jalan mereka dihadang serangan udara tentara Inggris (sekutu). LetKol Isdiman akhirnya gugur. Karena itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman menunjuk Letnan Kolonel Gatot Subroto menggantikan LetKol Isdiman serta mengumpulkan perwira lainnya dari wilayah perang gerilya seperti Letnan Kolonel Soeharto, Soegeng, dan Imam Adrongi untuk melakukan serangan balasan dengan Panglima Jenderal Soedirman memimpin sendiri penyerbuan tersebut. Palagan Ambarawa merupakan sejarah pengerahan pasukan terbesar dari Tentara Republik yang melibatkan beberapa batalyon dan resimen dari divisi militer Indonesia kala itu.


Pertempuran Surabaya (1945)

Berawal dari kedegilan Belanda yang menghina kebijakan Pemerintah Republik Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di seluruh nusantara termasuk Kota Surabaya. Bendera Merah Putih di Hotel Yamato (Hotel Oranye) diturunkan Belanda dan diganti Bendera Belanda berwarna Mereh-Putih-Biru. Tindakan itu menyulut kemarahan para pemuda, laskar, dan Tentara Keamanan Rakyat di Surabaya. Perwakilan pemuda Surabaya terlibat perkelahian dengan pemuda Belanda lalu para pemuda Surabaya memanjat ke atap gedung untuk merobek warna biru dari bendera Belanda hingga yang tersisa hanya warna Merah Putih saja (bendera Indonesia). Insiden berlanjut dengan beberapa kontak senjata dalam skala kecil di kota Surabaya. Namun atas permintaan Inggris dan Belanda kepada Presiden Soekarno maka Pemimpin Besar Revolusi berhasil meredakan suasana hingga ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata di Surabaya.

Pada 30 Oktober 1945 malam hari, Pimpinan pasukan Inggris untuk Jawa timur Brigadir Jenderal Mallaby bersama puluhan pasukan Gurkha (pasukan bayaran Inggris dari India) melintas di jembatan merah dan berpapasan dengan milisi pemuda bersenjata Indonesia. Terjadi kesalahfahaman dan akhirnya mendaratlah sebutir granat kedalam mobil BrigJend Mallaby hingga ia tewas ditempat. Pihak Inggris (sekutu) murka dan memberi ultimatum agar seluruh pemuda bersenjata, laskar, dan kekuatan bersenjata TKR (Tentara Keamanan Rakyat) menyerahkan senjata tepat tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi. Namun jawaban yang didapat Inggris dan Belanda bukanlah kiriman senjata melainkan sebuah pertempuran hebat yang ditengarai memakan korban kurang lebih 16 ribu pejuang dan Tentara Indonesia tewas, kurang lebih 2000 pasukan Inggris dan Gurkha tewas, serta ratusan ribu penduduk sipil mengungsi dan kehilangan tempat tinggal akibat serangan membabi-buta Inggris ke kota Surabaya dari darat-laut-udara. Muncul tokoh-tokoh gerakan perjuangan disini yaitu Bung Tomo (Sutomo) dari pejuang dan tentara serta KH.Hasyim Asy'ari dari kalangan santri. Pertempuran Surabaya 10 November 1945 merupakan pertempuran terhebat sepanjang sejarah perjuangan bangsa dan perjalanan TNI di Indonesia yang diabadikan sebagai Hari Pahlawan oleh pemerintah RI hingga hari ini.


Bandung " Lautan Api " (1946)

Berawal dari mendaratnya pasukan Inggris (sekutu) dan NICA (Belanda) di Kota Bandung, namun karena dari jauh-jauh hari sudah terjadi ketegangan antara pasukan Inggris dengan para pejuang maka terjadi bentrokan-bentrokan senjata skala kecil antara para pejuang dan Tentara Republik Indonesia (TRI). Melihat gelagat kurang mengenakkan maka pasukan Inggris mengeluarkan ultimatum berupa pelucutan senjata bagi para pejuang, Tentara, dan Polisi.

Para pejuang, Tentara, dan polisi yang merasa kalah jumlah personil akhirnya berunding dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat yang menghasilkan keputusan untuk mengosongkan Kota Bandung. Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia (TRI) Kolonel Abdul Haris Nasution memerintahkan mobilisasi besar-besaran bagi rakyat Bandung untuk mengosongkan kota. Namun dibalik itu, karena tidak rela Bandung dikuasai Inggris dan Belanda maka pada malam 24 Maret 1946 para pejuang bersama tentara dan polisi membakar seluruh rumah yang kosong ditinggalkan penduduk sehingga Bandung kala itu menjadi lautan api. Setelah melakukan pembakaran, maka mereka menunggu datangnya pasukan Inggris dan Belanda di tengah kota yang dalam keadaan terbakar dipenuhi asap hitam tebal. Saat kedua pasukan bertemu maka terjadilah pertempuran hebat di Dayeuh Kolot.

Dari peristiwa ini muncul sebuah peristiwa heroik dari dua orang pejuang bernama Muhammad Toha dan Ramdan dari Barisan Rakjat Indonesia (BRI) yang melakukan aksi bom bunuh diri di dalam gudang senjata besar milik Inggris dan Belanda.


Pertempuran Medan Area (1946)

Dengan dalih melucuti sisa pasukan Jepang di Kota Medan yang sudah menyerah kalah dalam perang pasifik, maka pihak Inggris dan Belanda turut memberi ultimatum kepada para pejuang bersenjata dan Tentara Republik Indonesia untuk turut meletakkan senjata. Pasukan Inggris lalu membatasi wilayah Medan dengan tulisan : " Fixed Boundaries Medan Area " dengan tujuan mengisolasi kota tersebut lalu melakukan penyerbuan.

Akhirnya, merasa terhina oleh perlakuan itu, ditambah lagi dengan insiden penginjakan lencana merah putih milik salah satu pemuda bangsa asing di sebuah hotel wilayah kota Medan maka meletuslah pertempuran antara barisan pejuang bersama Tentara Republik Indonesia melawan pasukan Inggris dan Belanda di Medan. Namun karena kalah jumlah dan perlengkapan persenjataan maka Sekutu berhasil menduduki Medan pada April 1946. Tidak menyerah sampai disitu maka seluruh kekuatan bersenjata kembali menghimpun kekuatan di luar kota Medan dan melancarkan serangan-serangan secara bergerilya demi merebut kembali kota Medan. Selama kurang lebih dua tahun pasukan Inggris dan Belanda di kota Medan harus terus menahan nafas akibat serangan-serangan frontal baik sporadis maupun terencana dari Tentara republik dan para milisi pejuang. Api perang gerilya dan perlawanan akhirnya meluas sampai ke kota lain seperti Siantar dan Brastagi. Bahkan kota lain di wilayah pulau Sumatera pun bangkit melakukan perlawanan serupa mulai dari Padang, Bukittinggi, sampai Banda Aceh.


Pertempuran 5 Hari di Palembang (1946)

Sadar dengan keadaan Palembang yang kaya akan hasil bumi serta merupakan sarana transportasi penghubung strategis melalui Sungai Musi maka pemerintah RI kala itu sudah memperkuat barisan Tantara Republik Indonesia di Palembang. Namun apa yang ada dipikiran pemerintah juga sama dengan yang ada di otak para kolonialis Belanda.

Setelah pihak Inggris (sekutu) menyerahkan Palembang kepada NICA (Belanda) maka pihak Belanda segera mendaratkan pasukan dari kekuatan darat, laut, dan udara yang cukup besar disana. Bahkan mereka berhasil mengintimidasi pemerintah RI untuk bernegosiasi perihal batas atau garis embarkasi bagi pasukan Belanda dan pasukan pemerintah dalam hal ini Tentara Republik Indonesia (TRI). Namun perundingan tersebut hanyalah akal Belanda untuk terus memperkuat posisi kekuatan militernya di Palembang demi sebuah tujuan besar merebut pulau Sumatera kedepannya.

Tidak terima dengan perlakuan tersebut maka pasukan TRI bersama pejuang rakyat yang ada melakukan perlawanan hingga terjadilah kontak senjata dari masing-masing daerah embarkasi yang sudah disepakati. Namun, Belanda akhirnya sering melanggar garis tersebut dengan melakukan provokasi melakukan penerobosan sambil melepaskan tembakan membabi-buta. Atas keadaan itu, maka Panglima Komando TRI wilayah Sumatera Jenderal Mayor Suharjo Warjowardoyo mengeluarkan perintah siaga melalui RRI (Radio Republik Indonesia) Palembang ke seluruh pasukan TRI wilayah Sumatera agar siaga penuh menunggu perintah dari Komando militer pusat untuk sebuah pertempuran besar.

Akhirnya kedegilan Belanda sudah melampaui batas kala menembak Komandan Divisi Dua Palembang, Letnan Satu A.Riva'i yang sedang melakukan patroli pemantauan pos-pos penjagaan TRI. Dengan kondisi perut tertembus peluru, Letnan A.Riva'i masih dapat meloloskan diri untuk melaporkan keadaan yang terjadi di lapangan. Ditambah lagi Belanda menangkap seorang anggota laskar pejuang lalu mengeksekusinya di dalam benteng mereka karena dianggap secara sepihak melanggar garis embarkasi. Maka pada satu kesempatan meletus pertempuran hebat antara pasukan TRI dengan pasukan Belanda di Charitas, Palembang yang mengakibatkan pasukan Belanda terkepung dan terancam terbunuh semuanya. Situasi mereda, sisa pasukan Belanda bisa selamat setelah Komandan tertinggi pasukan Belanda di Palembang meminta kepada Panglima Divisi Dua TRI Palembang, Kolonel Hasan Kasim dan Gubernur Sumatera selatan dr. M. Isa untuk meredam kemarahan pasukan TRI. Walau sudah mendapatkan pelajaran berharga, namun Belanda sudah tidak punya muka dan terus melakukan provokasi dari tembakan sporadis sampai rombongan tentara mabuk yang melewati garis embarkasi sambil melepas tembakan kearah rakyat.

Dengan situasi yang sudah tidak bisa ditolerir, maka pemerintah sipil wilayah Sumatera selatan, Kota Palembang, beserta Komandan Divisi TRI berembuk lalu memutuskan sebuah penyerbuan sekaligus bentuk perlawanan dari bangsa Indonesia terhadap kedegilan Belanda. Oleh karena itu, meletuslah pertempuran lima hari lima malam di kota Palembang yang memakan korban jiwa dan harta benda cukup besar. Kota Palembang hancur lebur dan luluh lantak akibat serangan mortir angkatan darat Belanda sekaligus serangan pesawat tempur Belanda. Pertempuran di kota Palembang adalah pertempuran yang paling melelahkan namun pasukan TRI terus melakukan serangan dan perlawanan dibantu laskar pejuang sampai amunisi terakhir yang mereka miliki.


Pertempuran berakhir setelah Komandan Tertinggi pasukan Belanda kembali harus meminta pertolongan pemerintah RI pusat untuk menengahi dalam sebuah perundingan. Walau dengan perasaan kecewa namun pihak TRI sebagai prajurit yang memegang sumpah prajuritnya harus tunduk kepada perintah. Pertempuranpun berakhir, gencatan senjata ditandatangani dengan hasil kesepakatan yang jauh dari harapan pasukan TRI dan rakyat palembang khususnya.


Peristiwa Merah Putih di Manado (1946)

Berawal saat pemuda Indonesia di Sulawesi Utara atau Manado dari pasukan KNIL Kompi VII dibawah pimpinan Ch. Taulu dan Mayor Wuisan mengajak seluruh rakyat merebut kekuasaan dari pihak Belanda di tiga kota, yaitu Manado, Tomohon, dan Minahasa pada 14 Februari 1946. Mereka menawan sekitar 600 orang pasukan Belanda, pejabat militer, dan pemerintahan sipil Belanda di Sulawesi Utara. Setelah itu, para pejuang tersebut memproklamirkan bahwa Sulawesi Utara adalah milik Negara Republik Indonesia.

Mereka menanggalkan status mereka sebagai pasukan KNIL dan menggantinya dengan Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) dibawah pimpinan Mayor Wuisan. Kemenangan tersebut dirayakan dengan mengibarkan Bendera Merah Putih di seluruh pelosok Minahasa. Di lain pihak, Dr. Samuel Jacob Ratulangi atau dikenal akrab dengan Sam Ratulangi diangkat sebagai Gubernur Sulawesi pertama dengan tugas memperjuangkan keamanan serta kedaulatan rakyat Sulawesi sebagai bagian besar dari Negara Republik Indonesia.


Puputan Margarana, Bali (1946)

Saat itu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) wilayah Bali masuk dalam Pasukan Divisi Sunda Kecil dibawah pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Saat Kolonel Ngurah Rai sedang memenuhi panggilan Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta, mendaratlah kurang lebih 2.000 orang pasukan Belanda yang difasilitasi oleh para pengkhianat bangsa di pulau Bali (penduduk Bali yang pro Belanda).

Betapa terkejut Kolonel Ngurah Rai karena sekembalinya ia ke Bali pasukannya sudah porak poranda dan tercerai berai. Ia pun berusaha mengumpulkan kembali pasukannya yang hanya tersisa kurang lebih 90 orang. Sementara itu Belanda dengan dibantu para pengkhianat bangsa yang memfasilitasi kedatangan mereka terus melancarkan bujuk rayu kepada Kolonel Ngurah Rai untuk bergabung dengan Belanda.

Jawaban Kolonel Ngurah Rai dan pasukannya terhadap Belanda adalah dengan menggempur Markas Polisi NICA di Tabanan, Bali selama dua hari dua malam. Ia dan pasukannya berhasil memenangkan pertempuran sengit tersebut dengan satu detasemen polisi Belanda berikut senjatanya berhasil ditawan dan disita pasuka TKR Divisi Sunda Kecil pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Setelah itu ia dan pasukannya mundur teratur ke desa Margarana.

Hari itu juga Belanda mengejar pasukan Ngurah Rai ke Margarana dengan dibantu telik sandi orang-orang pribumi yang pro Belanda. Di desa Margarana, ratusan tentara Belanda menggempur markas pasukan Ngurah Rai dengan serangan mortir dan infanteri. Namun mereka tidak dapat melumpuhkan Divisi kecil Ngurah Rai, bahkan mereka dapat dipukul mundur. Bantuanpun datang dari Makasar untuk Belanda berupa pasukan infanteri dan pesawat pengebom.

Desa Margarana dibombardir habis-habisan sambil pasukan infanteri Belanda terus merangsek masuk melakukan pengepungan. Saat itulah Kolonel I Gusti Ngurah Rai mengumpulkan perwira dan anak buahnya untuk sebuah perlawanan akhir, yaitu " Puputan " atau bertempur habis-habisan. Dan yang terjadi adalah mereka terus mempertahankan diri di Margarana sampai seluruh anggota pasukan berjumlah kurang lebih 90 orang gugur termasuk sang pemimpin yaitu Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Sedangkan sekitar 400 tentara Belanda tewas di Margarana dalam usaha mereka meringkus I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya hari itu.


Peristiwa Sangasanga, Kutai Kartanegara (1947)

Sangasanga adalah sebuah daerah di Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) yang kaya akan hasil bumi khususnya minyak. Mendaratnya tentara Belanda (NICA) disana disambut dengan rencana penyerbuan oleh para pemuda pejuang dan Laskar Tentara Republik.

Tanggal 26 Januari 1947 melalui acara parade kesenian, maka para pejuang, tentara, dan rakyat memanfaatkan situasi dengan saling berbagi senjata. Mereka berhasil mengelabui tentara Belanda yang melakukan penjagaan. Tepat tanggal 27 Januari 1947 mereka melancarkan serangan frontal ke jantung pertahanan pasukan Belanda di Sangasanga Muara.

Serangan tersebut berhasil membunuh banyak sekali pasukan Belanda dan rakyat menurunkan bendera Belanda yang berwarna Merah-Putih-Biru, kemudian merobek warna biru (hingga hanya tersisa Merah-Putih) lalu menaikkan kembali bendera tersebut sebagai tanda bahwa Sang saka Merah Putih berkibar di Sangasanga, Kutai Kartanegara. Sampai hari ini, di Sangasanga setiap tanggal 27 Januari diperingati sebagai hari kemenangan dalam sebuah acara upacara kenaikan bendera.


Serangan Umum 1 Maret " 6 Jam Di Yogyakarta " (1949)

Tanggal 19 September 1948 Belanda menyerbu Yogyakarta untuk meneguhkan gembar-gembornya di dunia internasional bahwa Pemerintah Indonesia berikut Angkatan Bersenjatanya sudah tidak ada. Kala itu Letkol Soeharto sebagai Komandan Brigade X/Divisi III-Wehrkreise III memegang tanggung jawab penuh atas pertahanan dan keamanan Yogyakarta.

Oleh sebab itu, ia menjawab kedegilan Belanda dengan memimpin Serangan Umum tanggal 1 Maret 1949 yang berhasil menguasai Kota Yogyakarta selama 6 Jam. Serangan tersebut berhasil membelalakkan mata dunia sekaligus mempermalukan pemerintah dan tentara Belanda karena Pemerintah Republik Indonesia dan Angkatan Bersenjatanya ternyata tetap berdaulat. Tidak heran jika sepak terjang kepemimpinan Letkol Soeharto dalam Serangan Umum Satu Maret sampai membuat Panglima Besar Jenderal Soedirman menjulukinya sebagai 'Bunga Pertempuran'. Setelah perang kemerdekaan berakhir, maka Brigade X yang legendaris tersebut berganti nama menjadi Garuda Mataram dengan Letkol Soeharto tetap sebagai komandannya.

Masih banyak pertempuran lainnya yang harus dilewati TNI bersama para pejuang dari rakyat Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Selanjutnya, seakan tidak ada habisnya tantangan perjuangan maka TNI dan rakyat Indonesia harus menghadapi usaha-usaha Belanda yang ingin kembali menguasai wilayah Republik Indonesia melalui Agresi militer Belanda pertama 21 Juli 1947 sampai Agresi Militer kedua 19 Desember 1948.

TNI juga melakukan perjuangan bergerilya dibawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Namun disaat TNI bersama rakyat berkonsentrasi menghadapi upaya-upaya militer dan diplomasi Belanda, didalam negeri tumbuh pengkhianat-pengkhianat yang melakukan pemberontakan. PKI (Komunis) berusaha menusuk dari belakang dengan melakukan pemberontakan pada 18 September 1948. Dan TNI berhasil menumpas gerakan PKI sampai ke pucuk pimpinan dari organisasi komunis di Indonesia tersebut.

Pada masa perang kemerdekaan, para pejuang menggunakan senjata tradisional seperti keris, pedang, mata tombak, mandau, rencong, trisula, bambu runcing, senapan kayu, granat "gombyok" yang terbuat dari besi cor dan tali rami, ranjau anti personel dari bambu, serta bom molotov dan bom tarik (trek bom). Di Sumatera bagian selatan ada senjata "kecepek" mulai dari pistol, sten, senapan, dan meriam.

Sementara Angkatan Laut Indonesia melalui Kapten Laut D. Ginagan melakukan eksperimen membuat kapal selam di Kalibayem, Yogyakarta. Pada era ini TNI Angkatan laut sudah diperkuat dua kapal perang KRI HangTuah dan KRI Pattimura. Selain itu juga diperkuat kapal " Kapten Pahlawan Laut " jenis late, Gadjah Mada 408, LCVP, Antaredja, Prins Bernhard, Srikaton, Sindoro, Semeru, Dermawan, Diponegoro, Tini, Gull Speed Boat, Malioboro, dan Look On Kapal Motor. Didukung pula dengan Alat utama sistim pertahanan (Alutsista) darat seperti Panserwagen, Meriam, Mortir tipe 89, Mitraliur, Sten Gun MK II, Owen Gun MK I, dan Thompson.


Sedangkan Angkatan Udara Republik Indonesia melalui tangan-tangan terampil mekaniknya berusaha melakukan kanibalisasi pesawat tempur ex Jepang untuk dimodifikasi. Juga membuat pesawat peluncur (glider) jenis Zogling dan Helikopter dengan motor BMZ. Di era ini juga diperkuat pesawat sumbangan rakyat Aceh jenis Dakota VI CLA yang diberi nama Pesawat RI-001 Seulawah.

Dengan seluruh kekuatan dan laskar yang dimiliki maka TNI di era ini yang masih menjadi embrio dari sebuah organisasi militer di tanah air berusaha memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Keterbatasan senjata maupun personil yang dimiliki tidak membuat TNI mundur sejengkalpun untuk terus berjuang bersama rakyat Indonesia. Semua dilakukan hanya dengan keluhuran tekad untuk mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa Indonesia dari kedegilan bangsa lain serta para pengkhianat bangsa sendiri yang berusaha merongrong Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila.

Semangat tidak kenal menyerah dengan didukung oleh seluruh rakyat Indonesia membuat Tentara Nasional Indonesia terus berjuang di awal era pembentukannya. Hal ini mewakili amanat pendirian tentara sejak 1945 bahwa " Tentara Tidak Mengenal Menyerah " ( Pangsar Jenderal Besar TNI Soedirman ) dan " Tentara Kita Adalah 70 Juta Rakyat Indonesia ( Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo ).
[Miechell Koagouw]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: