RABU, 31 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Pengrajin tenun di Dusun Gamplong, Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman, selama ini dikenal sebagai penghasil stagen atau ikat pinggang wanita khas Jawa. Namun seiring perkembangan zaman, jumlah pengguna stagen menurun drastis. Mereka pun kemudian mencoba bertahan dengan menenun serat alam. 

Beragam produk tenun serat alam
Sejak mendapatkan pesanan menenun serat alam untuk dibuat beragam alat keperluan seperti alas meja, alas piring dan tas, para pengrajin tenun tradisional atau yang masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ABK) di dusun Gamplong, Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman, bergairah lagi. Pasalnya, tenun berbahan serat alam seperti akar wangi, mendong, enceng gondok, bambu dan bahkan lidi, kini semakin banyak diminati.

Padahal, sebelum mengenal ide untuk menenun beragam serat alam itu, para pengrajin tenun di Dusun Gamplong yang sejak puluhan tahun lalu hanya memproduksi stagen tersebut bisa dikatakan mati suri. Ibarat hidup segan, mati tak mau, pengrajin tenun Dusun Gamplong sebelum ini hanya mampu bertahan saja.

Menenun serat alam
Tenun serat alam, telah membuat para pengrajin tenun terbuka wawasannya untuk lebih berkreasi dan berinovasi. Semangat para penenun pun kembali tumbuh, sehingga saat ini Dusun Gamplong dikenal sebagai pengrajin tenun serat alam. Hasil tenun serat alam Dusun Gamplong bahkan sudah merambah pasar luar negeri seperti Jerman dan Norwegia.

Pengrajin tenun serat alam Dusun Gamplong, Waludin, ditemui Rabu (31/8/2016) mengatakan, saat pertama mendapatkan pesanan tenun serat alam itu banyak pengrajin tenun yang kebingungan. Tidak tahu cara menenunnya, juga tidak tahu serat alamnya seperti apa dan di mana bisa mendapatkannya. Namun setelah tahu, ternyata bahan serat alam itu mudah diperoleh dan harganya pun murah. 

Waludin, pengrajin tenun serat alam
"Mulailah kami menekuni tenun serat alam itu yang ternyata pasarnya sangat menjanjikan" ujarnya. 

Selain karena harga jual produk tenun serat alam berupa alas meja, alas piring, tas dan bahkan karpet lidi yang tergolong murah, berkisar antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, kata Waludin, beragam produk berbahan serat alam itu banyak disukai juga karena ramah lingkungan. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: