JUMAT, 12 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Ratusan warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai Way Sekampung perbatasan Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Selatan kerapkali mengalami limpasan banjir air rob. Kondisi yang terjadi saat air pasang dari perairan laut pesisir Timur Lampung tersebut selain merendam pemukiman warga juga merendam infrastruktur umum di wilayah tersebut diantaranya jalan,halaman masjid dan halaman sekolah. Bahkan warga terpaksa melakukan aktifitas dengan perahu dan sebagian harus meninggikan rumah agar limpasan rob tidak membanjir ke perumahan.


Kondisi banjir air rob yang sudah berlangsung selama bertahun tahun di Dusun Kuala Jaya Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi dibenarkan oleh kepala desa Bandar Agung ,Syamsul Anwar yang mengakui kondisi tersebut terjadi saat air pasang rob melanda dusun setempat. Sekitar ratusan kepala keluarga bahkan harus mendirikan rumah dengan menggunakan sistem panggung mengantisipasi banjir rob yang datang secara musiman.

“Fenomena banjir rob memang menjadi sebuah persoalan yang kami alami terutama saat pasang tertinggi air dari laut naik melalui muara kemudian melimpas ke perumahan warga namun hingga kini kami belum mendapat bantuan untuk pembuatan tanggul” ungkap Samsul Anwar saat berbincang dengan Cendana News di Desa Bandar Agung, Jumat (12/8/2016)

Ia mengakui kondisi elevasi atau kenaikan permukaan air laut yang masih sering terjadi membuat pemukiman warga,area tambak serta fasilitas umum lainnya terus terendam banjir limpasan dari rob laut. Kondisi tersebut bahkan diprediksi sering terjadi saat peristiwa bulan Purnama sehingga mengakibatkan pasang tertinggi yang tak bisa dibendung.


Samsul mengakui telah berusaha mengupayakan untuk pembuatan tanggul di titik titik tertentu menghindari limpasan rob pasang air laut. Namun karena keterbatasan dana mengakibatkan tanggul hanya bisa dibangun pada bagian tertentu di dusun Kuala Jaya tersebut diantaranya pada bagian masjid dan sekolah yang merupakan fasilitas umum.

Ia mengaku limpasan banjir rob akan mengalami puncak tertinggi lima tahun sekali meski pada tahun ini belum ada limpasan rob yang cukup tinggi namun cukup mengganggu aktifitas warga dengan terendamnya jalan dan halaman masjid dan sekolah.

Tanggul penahan menurutnya telah dibangun pada bagian tertentu yang berhadapan dengan Sungai Way Sekampung dan garis pantai namun pada saat musim hujan dan kondisi pasang tertinggi membuat air membanjir ke pemukiman warga.


“Kami berharap pemerintah bisa melakukan pembuatan tanggul lebih tinggi di sepanjang garis pantai dan garis sungai terutama di sekitar muara sehingga bisa meminimalisir terjadinya banjir rob akibat kenaikan permukaan laut” ungkapnya.

Dampak dari banjir rob diakui dirasakan oleh warga Dusun Kuala Jaya terutama saat banjir rob mengakibatkan genangan hingga lutut orang dewasa. Seperti diungkapkan Samsudin,ia mengisahkan peristiwa rob tertinggi mengakibatkan dirinya sulit mencari air bersih karena sebagian sumur terkena air laut. Meski demikian ia tidak mempersoalkan air laut yang naik ke daratan namun air limpasan rob tersebut membawa serta sampah dari sungai.

“Banyaknya sampah mengakibatkan bau busuk di pemukiman dan berimbas pada kesehatan dan kami terpaksa membeli air bersih dari tempat yang jauh” ungkap Samsudin.

Sebagian anak anak yang duduk di bangku sekolah dan bersekolah di SDN 2 Bandar Agung yang terimbas banjir rob juga mengakibatkan penyakit diare dan kulit karena anak anak sering bermain air di areal sekolah dan saat pulang. Sementara di perumahan warga terpaksa dibuat panggung untuk menghindari air masuk ke rumah warga yang sebagian besar merupakan nelayan.

Dampak dari seringnya banjir rob, air bahkan masuk ke jalanan dan menggenangi jalan yang masih berupa jalan tanah sehingga menyulitkan warga melakukan aktifitas saat akan keluar dari dusun di tengah area tambak tersebut. Beberapa kendaraan yang nekat melintas melalui jalur darat bahkan terpaksa terjebak dalam kubangan lumpur akibat jalan digenangi air.


Warga berharap pemerintah dapat mencari solusi untuk menaggulangi banjir rob yang sebagian mengganggu aktifitas warga dan anak anak sekolah. Selain itu dampak banjir rob pada saat pasang tertinggi mengakibatkan akses jalan darat tidak bisa dilalui dan harus menggunakan transportasi air berupa perahu kayu.

“Selain jauh di pedalaman kami sering terisolir saat air rob datang dan jalanan dipenuhi air sehingga kami memilih jalur sungai dan laut” terang Samsudin.

Beruntung tahun ini banjir rob di pemukiman warga hanya menggenang sebatas pergelangan kaki sementara saat pasang tertinggi bisa sebatas lutut orang dewasa. Kondisi air pasang rob bahkan dikeluhkan siswa sekolah yang nyaris tidak pernah mengenakan sepatu saat berangkat sekolah dan memilih menggunakan sendal jepit atau boots kedap air.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: