RABU, 3 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Potensi pertanian terintegrasi dengan peternakan menjadi sumber penghasilan serta peluang masyarakat pedesaan untuk meningkatkan taraf hidup ekonomi dan pemberdayaan berkelanjutan. Salah satu desa dengan potensi pertanian terintegrasi dengan peternakan diantaranya Desa Tamansari, Kecamatan Ketapang kabupaten Lampung Selatan. 


Berdasarkan data luasan lahan pertanian seluas lebih dari 250 hektar dengan populasi ternak rata rata per kepala keluarga sebanyak 3 ekor menjadikan desa tersebut memiliki peluang meski belum tergarap secara maksimal terutama dibidang pemanfaatan energi terbarukan. Sumber pakan melimpah dari lahan pertanian jagung, padi, pisang dimanfaatkan menjadi sumber pakan alami bagi ternak warga. Selanjutnya kotoran ternak tersebut dimanfaatkan sebagian oleh masyarakat sebagai bahan pembuatan biodigester kotoran ternak sapi, kerbau dan kambing.

Kepala Desa Tamansari Kecamatan Ketapang, Supardjo, merupakan salah satu kepala desa yang melakukan pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Pemanfaatan biodigester kotoran ternak sapi dipilihnya sebagai alternatif energi terbarukan yang menghasilkan biogas untuk keperluan memasak dan penerangan lampu yang dikelola dengan pendekatan ekonomi hijau. Bermodalkan kemauan dan finansial yang cukup Supardo secara langsung memberikan contoh pemanfaatan energi terbarukan bersumber dari kotoran ternak. Selain bisa dilakukan dengan areal terbatas dan menjaga kebersihan lingkungan, sisa dari pembuatan biodigester tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk.


"Saya sudah merasakan pemanfaatan biodigester kotoran ternak sapi ini hampir selama setahun dan hasilnya sudah saya kalkulasikan mampu menekan penggunaan bahan bakar gas elpiji dan listrik berbayar terutama untuk penggunaan keperluan rumah tangga," ungkap Supardjo saat dikonfirmasi media Cendana News, Rabu (3/8/2016).

Potensi yang besar dari pemanfaatan lahan pertanian dan peternakan tersebut diakui oleh Supardjo bukan tanpa kendala terutama bagi masyarakat pedesaan yang memiliki ekeonomi terbatas. Mahalnya proses pembuatan instalasi biodigester penghasil bio gas merupakan salah satu faktor kendala masayarakat di desanya belum mampu untuk mengaplikasikan konsep energi terbarukan tersebut. Besarnya kemauan masyarakat untuk memanfatkan sumber energi yang ramah lingkungan tersebut oleh sebagian masyarakat terbentur peralatan yang masih sukar didapat dan harus ditebus dengan nilai uang yang tak sedikit. Akibatnya sebagian masyarakat hanya mampu menyerap ilmu dan mengetahui proses pembuatan digester meski belum mampu mengaplikasikannya.

Supardjo, sebagai kepala desa mengungkapkan biaya pembuatan instalasi tersebut berkisar 5-7 juta yang dihitung dari pembelian alat alat instalasi bio gas, biaya tukang, serta alat alat penunjang lainnya seperti kompor bio gas serta lampu. Meski demikian ia optimis pemanfaatan energi terbarukan dengan penunjang potensial masayarakat pedesaan yang memiliki lahan pertanian terintegrasi dengan peternakan sapi, kerbau, kambing bisa dimanfaatkan. Sementara potensi atau modal berupa hewan ternak rata rata sudah dimiliki oleh masyarakat di sekitar desanya.


Ia bahkan sempat mengusulkan proses pemanfaatan energi terbarukan tersebut bisa dibuat secara massal dengan biaya murah sehingga masayarakat di pedesaaan terutama yang belum terjangkau listrik dan gas bisa memanfaatkan potensi yang ada di pedesaan. Ia mencontohkan selama ini limbah kotoran sapi milik warga desanya masih sebatas dibuang dan dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman dan belum dikelola secara maksimal. Ia mengaku jika ada kepedulian dari pihak terkait, akademisi, pemerintah untuk membuat instalasi bio gas yang lebih sederhana dan murah maka penerapan biodigester limbah sapi yang awalnya tidak memiliki nilai ekonomi bisa mendatangkan penghasilan dan lapangan kerja.

Sepanjang tahun 2013-2016, Supardjo mengakui, pengembangan tekhnologi biogas di beberapa desa yang ia ketahui masih ada puluhan warga yang memanfaatkan bio gas dan ia berharap tahun ini akan ada pengembangan lebih lanjut. Pemanfaatan bio gas setidaknya telah mampu menghemat penggunaan gas dan listrik rata rata sebesar Rp500ribu perbulan atau dikalkulasikan sebesar Rp6juta per tahun. Hematnya biaya untuk pembelian energi tersebut sangtat terasa ketika harga elpiji dan tarif dasar listrik pada saat tertentu mengalami kenaikan.

Salah satu solusi mengatasi mahalnya pembuatan bio gas, sepanjang tahun ini Supardjo mengaku akan menerapkan sistem subsidi silang dengan pola swadaya. Pola tersebut diantaranya dengan melakukan iuran untuk pembuatan instalasi biodigester biogas kotoran sapi untuk masing masing rumah tangga pemilik ternak. Pola semacam arisan dilakukan untuk memberi kesempatan keluarga yang memperoleh arisan memiliki dan membeli instalasi dengan sistem pengerjaan gotong royong dan terus berjalan hingga target warga desanya mampu memiliki bio gas terutama para pemilik ternak.

"Awalnya akan sulit namun harus dicoba dan perlu ada keinginan untuk saling membantu karena kendala mahalnya pembuatan bio gas akan bisa diatasi dengan sistem subsidi silang dan bekerjasama," ungkapnya.

Pembuatan dengan sistem gotong royong tersebut setidaknya mampu menekan biaya operasional dengan pengerjaan dilakukan secara bersama dan bergantian. Sehingga pembuatan bio gas dari kotoran ternak tidak lagi menjadi proses yang memerlukan biaya mahal dalam penerapannya.

Sementara itu akademisi di salah satu Perguruan Tinggi di Lampung, Johansah, mengaku beberapa mahasiswa yang kini tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) memiliki kesempatan untuk menerapkan ilmu sekaligus membantu masyarakat dalam mengelola lingkungan dan memanfaatkan limbah menjadi energi terbarukan.

"Beberapa pekan lalu mahasiswa kami di salah satu desa di Tanggamus menerapkan pemanfaatan limbah kulit kakao untuk bio gas serta memanfaatkan untuk pakan ternak dengan sistem fermentasi," ungkap Johansyah yang juga dosen fakultas ekonomi tersebut.

Saat ini ia mengakui, potensi di pedesaan diperlukan berbagai pihak yang mampu menularkan ilmu terapan sederhana agar masyarakat desa bisa memanfaatkan barang barang yang ada di sekitarnya untuk peningkatan taraf hidup. Ia bahkan mengaku di beberapa lokasi di Suoh Lampung Barat, beberapa mahasiswanya belajar bagaimana memanfaatkan air di pegunungan untuk sumber energi terbarukan pembuatan turbin listrik. Namun pengembangan lebih lanjut untuk pemanfaatan alat yang lebih sederhana dan murah masih menjadi tantangan berbagai pihak. 

Pantauan Cendana News, pemanfaatan lahan peternakan berbasis pertanian juga telah dimanfaatkan di wilayah Desa Batuliman, Kecamatan Candipuro. Sistem peternakan dengan pola Siskapi (sistem perkebunan sawit dan sapi). Pemilik lahan perkebunan kelapa sawit memanfaatkan pelepah, daun sawit dengan mengolahnya menjadi sumber pakan sapi milik kelompok tani sapi beranggotakan sebanyak 10 orang. Limbah sawit berupa kulit sawit dan daun sawit yang dicacah dengan mesin khusus mampu menghasilkan pakan sapi yang bisa diawetkan dengan sistem fermentasi. Selanjutnya kotoran sapi hasil peternakan sapi tersebut dimanfaatkan untuk pembuatan bio gas. Meski demikian penerapan sistem pembuatan biogas masih jarang diterapkan dengan sistem perorangan akibat mahalnya pembuatan instalasi bio gas.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: