SENIN, 29 AGUSTUS 2016

MALANG --- Keberhasilan Universitas Brawijaya (UB) kembali menjadi juara umum untuk ke lima kalinya di ajang Pekan Imiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang di selenggarakan di Institut Pertanian Bogor (IPB), tidak dapat dilepaskan dari raihan medali yang berhasil di sumbangkan para mahasiswa di masing-masing Fakultas, salah satunya yaitu Fakultas Pertanian (FP). 


Disebutkan, Fakultas Pertanian berhasil menyumbangkan tiga buah medali yakni satu emas dan dua perak dari tiga tim yang mereka kirimkan. Raihan medali emas tersebut berhasil di peroleh lewat Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian masyarakat melalui sebuah program Gerakan Adiwiyata Gembira (GATRA) yang di gagas lima orang mahasiswa dari FP UB yaitu Rizki Abi Amrullah, Tifana Rasyitagani, Arkadyah Dina Figianti, Aditya Resty Maulidha dan Anita Dwy Fitria serta Sisca Fajriani Sp. Mp sebagai dosen pembimbing.

"Kami sangat bersyukur berhasil meraih medali emas di ajang PIMNAS, karena sebenarnya kami masih pemula di bidang penulisan. Bahkan sampai sekarang ini rasanya belum percaya kalau tim kita mampu menyumbangkan medali emas untuk UB" ungkap Rizky Abi Amrullah, Jumat (26/8/2016). 

Hal senada juga di ungkapkan dua anggota lainnya Arkadyah dan Tifana. Mereka mengaku senang dan bangga karena meskipun baru pertama kalinya mereka mengikuti PIMNAS namun mereka bisa langsung menyumbangkan medali emas sehingga UB kembali menjadi juara umum untuk ke lima kalinya.

Menurut Rizky sebagai ketua tim mengatakan bahwa kelebihan dari program GATRA ini adalah metode yang di gunakan yaitu metode pendekatan Freedom of Expression (FOX).

"Pendekatan melalui metode FOX ini biasanya banyak digunakan oleh pendidikan seni, tapi oleh kami metode tersebut kita terapkan di pendidikan lingkungan hidup. Karena dengan metode ini tidak mematenkan  atau menerapkan kurikulum pendidikan lingkungan hidup yang baku" ungkapnya. 


Imbuhnya, Jadi dalam metode FOX, kami menyebarkan kuisoner kepada siswa dan dari kuisoner tersebut kita akan mengetahui apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan. Sehingga input dari program kami ini adalah timbulnya kesadaran individu tanpa adanya paksaan.

Sementara itu, ia juga menjelaskan ide awal dari terciptanya program GATRA ini adalah kebutuhan akan adanya penghijauan di beberapa area diantaranya area sekolah. Pemilihan sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Khodijah sebagai tempat di jalankannya program GATRA dilatar belakangi bahwa sangat minimnya penghijauan terutama area tanam pada di sekolah tersebut.

"Hampir seluruh area sekolah MI Khodijah sudah tertutupi oleh perkerasan dan tidak ada tanah terbuka yang bisa untuk digunakan sebagai tempat bertanam sehingga kami putuskan untuk melaksanakan program ini di sekolah tersebut" ungkapnya.

Untuk menghijaukan area sekolah tersebut, timnya membuat vertikal garden menggunakan vertibag. Timnya juga mengajarkan penanaman sayuran kepada anak-anak yang kemudian berlanjut ke pembuatan hidroponik wig. Mereka juga mengevaluasi seluruh tanaman yang ada disana.

"Tanaman-tanaman yang mati kita ganti dengan yang baru kemudian kita beri sosialisasi mengenai perawatannya kepada pihak sekolah. Harapannya, nantinya program ini akan terus berlanjut dan yang akan melanjutkannya nanti adalah dari warga sekolah itu sendiri mulai dari Guru, staf dan siswa" ucapnya.

Lebih lanjut Rizky mengatakan, untuk kedepannya ia bersama timnya akan membuat sebuah buku panduan mengenai program GATRA, sehingga buku panduan tersebut nantinya bisa di terapkan ke sekolah-sekolah lain yang memiliki permasalahan yang sama.
(Agus Nurchaliq)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: