SENIN, 22 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Meski menolak Sabda Raja, Heru Syafrudin Amali menegaskan hal itu bukan berarti pihaknya memusuhi keraton dan Sultan HB X. Justru yang dilakukannya karena rasa cintanya kepada Sultan dan demi menjaga tradisi. Karenanya, ia menegaskan, tidak akan pernah ada aksi apa pun kecuali menyuarakan pendapat dengan cara damai.

Buku Tolak Sabda Raja
Dalam bedah buku Tolak Sabda Raja, Amali mengatakan, alasan penolakan tersebut karena pihaknya meyakini jika Sabda Raja itu sebenarnya juga bertentangan dengan hati nurani Sultan sendiri, adat dan paugeran serta agama Kesultanan Mataram Islam. Semestinya, lanjut Amali, semua itu bisa dibicarakan dan diselesaikan secara adat. Anggapan yang menyatakan paugeran tertinggi adalah titah raja, menurutnya, pun tidak benar. 

"Sebab, dalam Islam seorang raja itu tetap manusia yang tidak mungkin sempurna dan bisa saja salah, sehingga titah raja tetap harus berada dalam koridor paugeran atau sunatulloh", jelasnya, sembari mengimbuhkan, jika keraton itu bukan milik raja, melainkan milik dinasti.

Sementara itu, Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat yang akrab disapa Romo Tirun, dalam pemaparannya di acara bedah buku tersebut, Minggu (21/8/2016) malam, menyebut, jika semua persoalan menyangkut Sabda Raja dan polemiknya terjadi karena selama ini jiwa kesatria telah hilang. Menurutnya, jiwa kesatria itu adalah jiwa yang mempunyai idealisme, komitmen yang tinggi, integritas moral dan nurani yang bersih.

KRT Jatiningrat
Dijelaskan Romo Tirun, idealisme itu berarti memikirkan semua hal dengan serba luhur. Komitmen berarti mampu melakukan hal-hal yang menjadi pemikiran idealismenya dan integritas moral berarti semua tindakannya didasarkan kepada norma-norma kebaikan atau moral. Sedangkan nurani yang bersih itu berarti jujur.

Namun, dengan hilangnya jiwa kesatria itu, kata Romo Tirun, membuat banyak pihak kemudian bersikap dwi muka atau bermuka dua dalam menyikapi persoalan yang terjadi di keraton, dan tidak mampu bicara benar dengan berbagai alasan. Karenanya, Romo Tirun menyatakan, Sabda Raja tidak hanya telah memecah belah keluarga. Namun, juga abdi dalem, para pejabat, dan masyarakat.

"Berdasarkan naluri saya dalam mempelajari sejarah keraton, memang tidak ada satu pun Raja yang sepenuhnya mampu melaksanakan tugas dan kewajiban sebagaimana makna nama gelar rajanya. Namun, hal itu bukan berarti gelar raja itu kemudian harus diganti", pungkasnya. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: