KAMIS, 4 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Seiring dengan semakin menipisnya sumber daya alam dan energi, berbagai upaya mencari sumber daya alam pengganti atau alternatif dilakukan. Salah satunya dengan mengolah sampah untuk dijadikan sumber energi alternatif tenaga listrik.


Melalui penerapan teknologi gasifikasi sampah dengan alatnya yang disebut gasifier dan terdiri dari beberapa komponen, sampah bisa diolah menjadi syn gas, yang kemudian disalurkan ke alat yang bernama mesin gas atau engine gas untuk memutar dinamo pembangkit listrik sehingga menghasilkan listrik. Dengan cara tersebut, selain menjadi solusi sumber daya alam dan energi juga menjadi solusi bagi pengolahan sampah yang jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya.

Namun, guna membangun gasifier itu diperlukan lahan seluas 6.000-7.000 meterpersegi dan memakan waktu pembangunan selama kurang lebih 9 bulan. Sementara mesin gasifikasi selama ini diproduksi oleh beberapa negara, antara lain Kanada, Swiss dan Perancis. Hal demikian diungkapkan salah satu tenaga ahli PT Surveyor Indonesia, Aris Arnadi, yang merupakan pelaksana proyek gasifikasi sampah di Yogyakarta, Kamis (4/8/2016).

Aris mengatakan, pihaknya kini sedang dalam tahap survey lapangan di tempat yang akan dibuat sebagai gasifier yaitu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Piyungan di Bantul. Dengan luas lahan 2,5 Hektar, TPA Piyungan selama ini menjadi tempat pembuangan akhir sampah dari Kabupaten, Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta dengan jumlah sampah yang ditampung setiap harinya sebanyak 450 Ton.

Proyek pembangunan Gasifier di TPA Piyungan akan dimulai awal tahun 2017, merupakan program Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah DI Yogyakarta. Sedangkan jumlah anggaran yang diperlukan sebesar Rp. 100 Milyar.

Kota Yogyakarta menjadi satu dari lima kota lain di Indonesia yang dipilih oleh Direktorat EBTKE Kementerian ESDM sebagai pilot project atau program percontohan pengolahan sampah menjadi gas sumber energi lis­trik. Adapun empat kota lainnya adalah Medan, Pontianak, Bandar Lampung dan Mataram.
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: