SENIN, 22 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Ratusan warga desa Nita menanti kedatangan Kepala Desa Nita yang akan tiba di Bandara Frans Seda Maumere Sabtu (20/8/2016). Warga antusias menyambut sang Kades dengan membawa alat musik dan penari.

Kepala desa Nita, Antonius B.Ludju
Sambutan warga ini beralasan sebab, desa Nita baru saja ditetapkan sebagai juara lomba antar desa seluruh Indonesia tahun 2016. Keberhasilan ini membuat sang Kades hadir di Jakarta menerima penghargaan dan mengikuti upacara bendera HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara.

Saat ditemui Cendana News, Senin (22/8/2016) Kepala Desa Nita Antonius B. Ludju membenarkan hal ini. Dikatakan Antonius, saat evaluasi penilaian perkembangan desa dan kelurahan tingkat nasional dimana Desa Nita meraih juara satu.

“Transparansi dan keterlibatan warga dalam pembangunan membuat kami bisa meraih juara satu. Penilaian dilakukan secara berjenjang dari tingkat kecamatan hingga nasional,” ujarnya.

Dikatakan Antonius, sesuai Permendagri No. 81 Tahun 2015 tentang evaluasi perkembangan desa dan kelurahan ada 3 kategori penilaian yakni penyelenggaraan pemerintahan, inovasi dan kemasyarakatan.

Apa yang dibuat di desa terangnya hanya sederhana saja dengan tema-tema kebersamaan dan sebagainya yang belum dibuat oleh semua desa. Semuanya dilakukan bukan dalam kerangka lomba tapi selaras semangat membangun desa dan desa membangun.

“Kita mau membangkitkan semangat, spirit untuk membangun desa. Program inovatif yang dilaksanakan ini, ternyata dilihat sebagai sesuatu yang lain oleh tim penilai,” ungkapnya.

Instrumen terkait penilaian imbuh Antonius, sudah diatur di dalam UU Desa dan Permendagri. Tetapi roh dan spirit ini dijabarkan di tingkat desa dalam bentuk apa.

Sebenarnya segala peraturan ini sambungnya hanya pedoman sementara kreatiftas dan kreasi dalam menjabarkannya berada di desa itu sendiri.

“Ada 3 hal yang saya tekankan dan dilaksanakan di Nita partisipasi, transparansi dan akuntabel,” terangnya.

Kades Nita dijemput warga dan diarak dari bandara menuju desa Nita usai pulang dari Jakarta.

Antonius mencontohkan, forum Musrembang di Nita bukan hanya di tingkat dusun tapi dibuat dari tingkat RT dan RW untuk membangun gagasan dari masyarakat.

Aparatur desa juga memiliki SOP dalam bekerja serta diberikan kegiatan pendukung seperti bimtek, retret, refresing dan lainnya. Sebab menurut Kades muda ini, dasarnya dari aparatur dahulu.

“Aparaturnya harus kuat dan siap untuk melayani masyarakat terlebih dahulu baru bisa melaksanakan pekerjaannya,” tegasnya.

Terkait transparansi bebernya, setiap pembuatan APBDes selalu melibatkan masyarakat dan publikasikan dilakukan dengan membuat banner yang dipasang di kantor desa dan tempat umum lainnya serta membuat leaflet atau brosur dan dibagi ke setiap rumah di desa Nita.

Hal ini dilakukan agar masyarakat bisa mengetahui dan mengontrolnya. Tidak ada yang disembunyikan kata Antonius, sebab ini kan uang rakyat.

Setiap kegiatan jelas dan masyarakat tahu, kegiatan ini anggarannya berapa. Segala kegiatan di desa dikerjakan secara swadaya dan swakelola termasuk sumber daya dan segala keperluan pembangunan bahannya harus memakai yang ada di desa.

“Kecuali tidak ada di desa misalnya semen dan bahan bangunan lainnya baru bisa dibeli di Maumere atau tempat lainnya,” ungkapnya.

Pengerjaan segala macam item pembangunan papar Antonius, dibagi secara rata ke setiap RT dan RW dan dikerjakan secara swakelola. Dengan demikian masyarakat pelan-pelan mulai sadar ternyata mereka sendiri yang membangun desa.

Ada sedikit pengaruh juga terkait anggaran, jelasnya dimana misalnya anggaran 20 juta rupiah masyarakat bisa membangun sebuah gedung yang bila dihitung anggarannya bisa 100 juta rupiah.

Rasa memiliki yang tinggi dari masyarakat sebutnya ditambah transparansi dan akuntabilitas yang menyebabkan hal ini bisa terwujud. Semua desa ucapnya tentu bisa juga melakukan hal senada.

“Masyarakat bisa tahu kinerja pemerintah pencapaiannya bagaimana dan apa yang belum dikerjakan,” pungkasnya.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: