RABU, 3 AGUSTUS 2016

SEKITAR KITA --- Bambang Prasetyo, bayi berusia sepuluh hari terserang tumor ganas di bagian punggungnya. Parahnya, dari hari ke hari tumor yang menjangkit anak ketiga dari pasangan Sri Rejeki dan Suparmi ini terus membesar. Ironisnya, keterbatasan biaya karena berasal dari keluarga yang kurang mampu membuat perawatan Bambang hanya di kediamannya. 


Warga Kuncen RT 5, RW 3, Desa Waru, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah itu mengaku tak mampu jika harus mengoperasi  tumor anaknya. Beberapa kali dibawa ke dokter, dan dirujuk di sejumlah rumah sakit ternama di Solo dan Yogyakarta, orang tua bayi tersebut memilih membawanya pulang. 

“Tidak punya biaya jika harus dioperasi. Sudah dua kali saya periksakan ke dokter, tapi ya itu lagi kendalanya biaya,” ucap Sri Rejeki kepada Cendana News, Rabu pagi (3/8/16). 

Diceritakan ayah bayi itu, sejak lahir Bambang memang sudah mengidap tumor di badannya. Saat lahir tumor yang ada di punggung hanya ukuran kecil, dan saat lahir secara cesar itu tumor itu langsung meletus hingga menilmbulkan lubang kecil. Keluarga mengaku kaget dengan adanya luka tersebut, dan sempat menanyakan kepada dokter terkait. 


“Selama dalam kandungan juga normal, ibunya tidak merasakan hal yang janggal,” paparnya.  

Menurut Sri, awalnya lubang  kecil pada punggung Bambang dari ke hari justru timbul seperti gumpalan daging. Bahkan memasuki usia sepuluh hari ini, benjolan seperti daging itu semakin besar dan saat ini besarnya hampir sekepal  tangan orang dewasa. Pihak keluarga semakin khawatir, karena setiap hari Bambang selalu menangis. 

“Apalagi kalau lukanya kesentuh, anak saya pasti menangis. Kemarin hampir setengah hari menangis terus, mungkin merasakan sakitnya itu,” ungkapnya. 

Selama ini, di keluarga Sri Rejeki dan Suparmi tidak ada riwayat penyakit tumor pada keluarganya. Bahkan dua anak yang sebelumnya dilahirkan juga tidak ada kendala sakit apapun. Namun, berbeda dengan nasib Bambang, yang sejak lahir sudah terjangkit tumor ganas di bagian tubuhnya. 


“Dua kali melahirkan anak saya sebelumnya juga tidak ada apa-apa. Baru ini kok ada benjolan daging di punggung anak saya,” keluh Suparmi sembari merenungi nasibnya. 

Ibu anak tiga tersebut hanya bisa pasrah, dan berharap ada uluran tangan dari Pemerintah setempat. Sebab, dirinya tidak mempunyai harta benda berharga kecuali rumah yang ia tempati.  

“Kerja saya hanya buruh bungkus rambak, sementara suami saya sopir batu bata jika ada yang mmebutuhkan. Jadi memang tidak punya biaya sama sekali,” tambahnya. 

Akan Jual Rumah Untuk Biaya Perawatan Anak 

Ditengah kondisi sulit dan pelik ini, pihak keluarga mengaku terus berusaha untuk bisa menyembuhkan putra semata wayangnya tersebut. Berbagai upaya tengah dilakukan, seperti mengajukan surat keterangan tanda miskin (SKTM), pengajuan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Namun sejumlah usaha itu baru proses berjalan. 


“Tapi katanya prosesnya panjang untuk mencari surat keringan. Sampai satu bulan katanya,” lanjut Sri Rejeki.

Melihat kondisi sakit Bambang yang kian mengkhawatirkan dan selalu menangis, keluarga merasa tidak mampu lagi untuk menahan. Di tengah uluran tangan dari pemerintah maupun dermawan, Sri Rejeki berencana menjual rumah  yang saat ini ditempatinya. Orang tua mengaku tidak  mempunyai harta apapun kecuali rumah mereka. 

“Ya bagaimana lagi,  menunggu bantuan juga belum pasti, saya jual rumah saja. Sementara nanti bisa tinggal di rumah orang tua dulu,” imbuhnya. 

Rumah dengan ukuran yang tak begitu besar itu rencannaya dijual Rp 50 juta. Sebab, informasi dari dokter, biaya untuk operasi  tumor yang menjangkit Bambang mencapai Rp 30 juta. 

“Dari bidan desa memberitahu jika operasi Bambang paling tidak harus ada Rp 30 juta, uang begitu banyak kalau tidak jual rumah tidak punya. Ya terpaksa saya akan jual saja,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: