KAMIS, 18 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Kebutuhan akan bibit kayu tanaman kayu produksi perkebunan dan tanaman kehutanan yang semakin tinggi membuat warga Desa Rawi mulai mengembangkan lokasi pembibitan sebagai lokasi pengada dan pengedar benih dan bibit. Sebagian warga Desa Rawi yang tinggal di kaki Gunung Rajabasa bahkan memiliki lokasi pembibitan yang dikelola secara mandiri diantaranya dengan menyiapkan lokasi pembibitan beragam diantaranya ada yang mengkhususkan tanaman perkebunan dan tanaman kehutanan. Beberapa warga diantaranya memiliki lokasi pembibitan seluas 500 meter persegi dan sebagian ada yang memiliki luas 1 hektar yang digunakan sebagai lokasi pembibitan dan pembenihan mandiri.


Salah satu warga yang melakukan proses pembibitan tanaman perkebunan diantaranya Mahmud(40) membudidayakan bibit tanaman cengkeh dan kakao yang sudah dilakukan selama hampir dua tahun. Selaku penyedia bibit tanaman perkebunan dirinya mengaku telah menyediakan ribuan bibit tanaman cengkeh, kakao dan tanaman perkebunan lain yang banyak ditanam masyarakat sebagai tanaman produksi.

“Saya menyediakan bibit tanaman produksi berbagai jenis yang selama ini ditanam masyarakat sebagai tanaman investasi, selain dari wilayah sini peminat bibit sebagian juga dijual ke luar wilayah,“ ungkap Mahmud saat ditemui media Cendana News, Kamis (18/8/2016)

Mahmud mengaku usaha pembibitan yang dilakukan olehnya merupakan salah satu usaha yang dikembangkan oleh warga Rawi dan menjadi salah satu upaya memberdayakan masyarakat sekitar Gunung Rajabasa berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Mahmud mengaku pemberdayaan masyarakat di bawah kaki Gunung Rajabasa bermula saat kondisi lereng Gunung Rajabasa yang mulai kurang ditanami sehingga berimbas sumber air bersih bagi masyarakat. Setelah itu proses pembuatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) dilakukan untuk proses reboisasi lereng Rajabasa dibawah bimbingan Kementerian Kehutanan yang menyediakan bibit secara gratis untuk penghijauan lahan kritis.

Bermula dari kecocokan iklim dan pembuatan bibit yang mulai dikenal masyarakat, proses pembuatan bibit dilakukan secara swadaya oleh sebagian masyarakat secara mandiri dan dijadikan sebagai sumber penghasilan dengan menjual bibit. Bermula dari usaha pembibitan tersebut sebagian masyarakat terus melakukan proses pembibitan yang diperuntukkan bagi penyediaan bibit masyarakat.

“Masyarakat awalnya ada yang melakukan proses produksi dengan naungan kelompok dan pelatihan cara budidaya sehingga sebagian banyak yang mengembangkan sendiri dengan bekal pelatihan oleh Kementerian Kehutanan”ungkap Mahmud.


Pelatihan budidaya bibit berbagai tanaman tersebut diantaranya terkait proses sertifikasi dan perizinan sehingga bibit yang disiapkan dan akan dikomersialkan memiliki sertifikat yang terjamin. Dampaknya penjualan bibit tanaman perkebunan dan kehutanan bersertifikat mulai diminati oleh sebagian masyarakat dengan adanya jaminan mutu benih yang telah dibudidayakan masyarakat.

Salah satu upaya pembibitan berbasis masyarakat tersebut juga mulai dikembangkan oleh salah satu warga yang mengembangkan usaha pembibitan berfokus pada tanaman lokal bersertifikat dengan jumlah cukup bahkan menghasilkan bibit berkapasitas 200 ribu batang pertahun. Usaha pembibitan masyarakat skala menengah tersebut dikelola oleh CV Naura Kanza Indah Lestari selama ini telah menyediakan bibit ribuan benih dan bibit tanaman bersertifikat kehutanan dan perkebunan.

Menurut direktur CV Naura Kanza Indah Lestari,Komarudin, jenis bibit yang diproduksi pada lokasi pembibitan diantaranya bibit tanaman sengon, medang, mahoni, gmelina, damar mata kucing, bayur, petai, pulai, jati, gempol, mahoni daun kecil, akasia, cempaka, ketapang, waru gunung, serta berbagai tamanan produksi dan kehutanan.

Komarudin mengungkapkan keistimewaan bibit sengon (paraserlanthes falcataria) yang disiapkan oleh usaha pembibitan tersebut diantaranya jenis sengon super asli wilayah Lampung dengan sertifikat sumber benih Nomor: 014/BPTH.Sum-2/SSB/2015 Tanggal 31 Desember 2015.

“Kita kembangkan tanaman bibit sengon lokal karena selama ini masyarakat banyak mengambil bibit dari luar pulau Sumatera dan usaha kita membudidayakan bibit lokal” ungkapnya.

Ia mengakui tempat pembibitan seluas satu hektar tersebut selama ini mampu menghasilkan jenis bibit diantaranya sengon sebanyak 80 ribu batang, medang sebanyak 6 ribu batang, mahoni sebanyak 10 ribu batang, Gmelina sebanyak 6 ribu batang, damar mata kucing sebanyak 15 ribu batang,bayur 3 ribu batang, petai 2 ribu batang.


Selama ini ia mengaku menjamin jenis bibit sengon yang dibudidayakannya mendominasi lokasi pembibitan yang dikelola dan dijual olehnya memiliki sertifikat namun berbagai jenis tanaman bibit lainnya tetap disediakan. Bibit sengon super lokal yang dikembangkan menurut Komar dijamin dengan usia bibit yang mencapai 4 bulan setinggi 2 meter sehingga bisa digunakan untuk tanaman investasi. Perbedaan benih lokal yang lebih super dibandingkan dengan bibit dari luar daerah.

“Sistem penanaman dengan pola penanaman yang sudah tepat maka tanaman sengon super ini bisa dipanen dengan masa tanam selama empat tahun dan bisa dijadikan tanaman investasi“ ungkap Komar.

Ia berharap dengan banyaknya permintaan yang tinggi akan bibit sengon super asli Lampung tersebut bisa menjadi sarana untuk rehabilitasi dan reboisasi bahkan tidak hanya di Lampung tapi permintaan sampai ke wilayah Padang Sumatera Barat.

Komarudin juga mengaku masyarakat saat ini masih kurang berminat melakukan investasi dalam bentuk kayu. Sebagai upaya menyediakan bibit ia berharap dengan lahan seluas satu hektar bisa ditanam sebanyak 10 ribu batang dengan hasil panen dalam bentuk rupiah mencapai ratusan juta.

“Artinya kita usaha pembudidayaan sekaligus untuk mengajak masyarakat memanfaatkan lahan tidur salah satunya dengan menanam tanaman sengon lokal” ungkap Komarudin.

Selama ini proses penjualan bibit dilakukan oleh Komarudin dengan sistem keliling dan sebagian dibeli oleh kelompok pemberdayaan hutan dan perseorangan yang menanam kayu untuk investasi jangka menengah.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: