KAMIS, 11 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Indikasi bangkitnya komunisme di Indonesia semakin dirasa nyata adanya, terlebih saat ini ketika banyak pihak mencoba memposisikan PKI sebagai korban negara. Melalui berbagai media dan upaya, komunis ditengarai terus mencoba meraih simpati masyarakat, dengan menganggap peristiwa 1965 sebagai bentuk pelanggaran HAM yang dilakukan Negara kepada PKI.


Menyikapi adanya potensi bahaya bangkitnya paham komunisme itu, Benteng Budaya Yogyakarta menggelar diskusi bertema Bela Negara Dan Pancasila di Gedung Dewan Perwakilan Daerah DI Yogyakarta, Kamis (11/8/2016). Diskusi dilakukan dengan membedah buku berjudul Ayat-ayat Yang Disembelih' (AAYD) karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon. 

Buku tersebut dipilih karena dinilai mampu memberikan fakta lain yang menunjukkan kekejaman PKI yang terjadi sebelum tahun 1965. Selain dua penulis buku AAYD tersebut, juga hadir sebagai narasumber Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Drs. Afnan Hadikusumo, Divisi Riset Gerakan Bela Negara Nasional, Husni Sutikno, Budayawan Institut Seni Indonesia, Dr. Aris Wahyudi M.Hum dan Dosen Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Sindung Cahyadi.

Ketua Benteng Budaya, Sigit Sugito mengatakan, diskusi buku dalam rangka Bela Negara dan Pancasila tersebut merupakan awal dari sebuah gerakan kontinyu dalam rangka meningkatkan paham dan wawasan kebangsaan melalui pendekatan budaya dan kajian-kajian kearifan lokal. Sementara dalam diskusi kali ini, Buku AAYD dipilh sebagai tema diskusi karena buku itu mampu memberikan informasi kepada masyarakat tentang kekejaman PKI yang dilakukan sebelum tahun 1965.


"Buku ini sengaja diketengahkan sebagai upaya memberi informasi tentang komunis di Indonesia dari sisi lain, karena saat ini ada indikasi pihak-pihak tertentu yang mencoba memposisikan komunis atau PKI sebagai korban negara untuk meraih simpati", ujarnya.

Sigit mengatakan, diskusi dan dialog budaya menjadi cara efektif dalam memberikan informasi yang berimbang kepada masyarakat. Persoalan Pengadilan Rakyat di Den Haag, Belanda, kata Sigit, sebenarnya tidak perlu terjadi. Pasalnya, menurut Sigit, kultur budaya Indonesia sangat memungkinkan terjadinya dialog tanpa harus berpihak kepada yang kalah atau yang menang. Terlebih dalam kasus komunisme, kata Sigit, tidak ada yang menang kecuali Pancasila dan NKRI.

"Karena itu, bela negara harus dimaknai dengan meneguhkan dan senantiasa menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa dan NKRI sebagai bentuk negara", ujarnya. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: