RABU, 17 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Upacara Bendera memperingati kemerdekaan RI melibatkan seluruh warga petani dan perwakilan kedinasan terkait di Monumen Perjuangan Plataran di Dusun Kiyudan Selomartani, Kalasan, Sleman, diadakan rutin setiap tahun. Monumen Plataran sendiri merupakan saksi sejarah meninggalnya ratusan kadet akademi militer karena serangan Belanda di tahun 1949.

Erlina Hidayati, Inspektur Upacara
Upacara bendera yang dilangsungkan di Monumen Perjuangan Taruna atau yang lebih populer disebut Monumen Plataran, selalu melibatkan seluruh warga setempat dan mengangkat seni tradisi dan budaya setempat. Pasalnya, warga meyakini jika memajukan bangsa tanpa berdasar kepada akar budaya bangsa sendiri, justru akan mudah roboh.

Karenanya, Upacara Bendera di monumen tersebut selalu disertai kirab bregodo dan gunungan hasil bumi, yang setelah upacara bendera selesai kemudian diperebutkan warga. Dengan melibatkan unsur budaya setempat, pun terbukti mampu meningkatkan antusiasme warga dalam mengikuti upacara bendera memperingati kemerekaan RI. 

Fragmen detik-detik proklamasi 
Warga rela meninggalkan sejenak aktifitasnya bercocok tanam, dan dengan khidmat mengikuti jalannya upacara bendera. Sementara dalam upacara bendera kali ini, bertindak sebagai inspektur upacara adalah Kepala Bidang Sejarah, Bahasa Dan Sastra Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata DI Yogyakarta, Erlina Hidayati.

Dalam pidatonya, Erlina meengingatkan, para pejuang telah dengan tulus iklas tanpa pamrih memerdekaan negeri ini, sehingga generasi sekarang harus mampu mengambil teladan dari para pejuang tersebut. 

Kirab Gunungan
"Generasi penerus harus selalu bersyukur kepada Tuhan atas anugerah kemerdekaan ini, dan terus semangat pantang menyerah untuk membangun bangsa", ujarnya.

Setelah upacara bendera selesai, sebuah fragmen yang menceritakan detik-detik proklamasi dan pembacaan teks proklamasi juga disajikan. Lalu, sesudah itu dua gunungan hasil bumi berupa sayuran dan buah serta satu gunungan teh diarak keluar dari monumen untuk diperebutkan warga. Dalam sekejap, gunungan pun diserbu warga hingga ludes tanpa sisa.

Warga berebut gunungan
Sementara itu, rangkaian acara peringatan 71 tahun kemerdekaan RI di Desa Selomartani, diawali sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB dengan acara tabur bunga di komplek makam setempat. Makam itu semula merupakan makam seorang pejuang yang gugur dalam serangan Belanda pada tahun 1949. Setelah itu kemudian kirab bregodo menuju monumen tempat digelarnya upacara bendera.

Siswandi mengatakan, Monumen Plataran merupakan saksi sejarah meninggalnya para kadet atau taruna Militer Akademi (MA) yang saat itu berada di desa Selomartani. Saat itu, katanya, pada 24 Februari 1949 Belanda menyerang MA karena hendak mencari Komarudin. Perang sengit terjadi dan akhirnya seorang taruna bernama Husein yang oleh Belanda disangka Komarudin dipenggal kepalanya.

Belanda lalu membawa kepala Husein sebagai bukti telah berhasil menumpas nyawa Komarudin, dan tubuh Husein dimakamkan di makam dusun setempat. Karenanya, dalam setiap peringatan upacara bendera, warga selalu melakukan tabur bunga di makam untuk mendoakan arwah para pejuang taruna. Siswandi mengatakan, jenazah tubuh Husein sudah sejak lama dipindahkan ke Makam Pahlawan Kusuma Negara, namun petilasan atau bekas makamnya di dusun setempat masih dilestarikan. 

Sementara guna mengenang peristiwa penyerbuan Belanda itu, dibangunlah Monumen Perjuangan Taruna, dengan patung gagah sosok pahlawan bernama Husein. Monumen yang lebih dikenal dengan Monumen Plataran dibangun atas prakarsa Mayor Jenderal TNI Wijogo Admodarminto dan diresmikan pada tanggal 11 Nopember 1977. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: