MINGGU, 14 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Puluhan hektar padi milik petani di Desa Kelaten Kecamatan Penengahan yang mulai berisi mendapat serbuan hama burung pipit yang menyerang padi berisi pada pagi hingga sore hari. Serangan hama burung membuat kewalahan petani akibat burung-burung kecil tersebut datang secara berombongan dengan kelompok kelompok kecil sekitar 20-25 ekor bahkan beberapa kelompok bisa mencapai ratusan ekor.


Menurut salah satu petani di Desa Kelaten, Suhardi (40) gerombolan burung pipit atau emprit tersebut umumnya memakan bulir padi yang baru mulai berisi sehingga mengakibatkan padi menjadi gombong (kosong) karena dihisap oleh serbuan burung. Dampaknya dipastikan petani akan merugi jika tanaman padi miliknya tidak dijaga karena akan berdampak kerugian bagi para petani.

“Musim panen sebelumnya hampir tidak ada hama burung emprit tapi tahun ini kami dibuat kewalahan dengan serbuan burung yang memakan padi milik kami sehingga harus dijaga agar kami tetap bisa panen” ungkap Suhardi saat ditemui Cendana News, Minggu (14/8/2016)

Ia menegaskan bagi petani di wilayah tersebut burung emprit dalam jumlah cukup banyak menjadi hama yang cukup mengkhawatirkan sehingga petani harus bekerja keras dan mengeluarkan biaya tambahan untuk menghalau serbuan burung burung kecil tersebut agar petani tetap bisa panen.

Kerja keras petani dilakukan diantaranya dengan berangkat ke sawah sejak pagi hari karena serbuan burung cenderung terjadi saat masih pagi. Selain itu petani harus terpaksa berhari hari di sawah untuk menghalau burung yang menyerang tanaman padi milik petani.

Suhardi bahkan bersama anaknya membuat meriam terbuat dari kaleng yang dengan bahan bakar terbuat dari spritus dan pematik dari korek api gas. Meriam kaleng tersebut difungsikan untuk menimbulkan suara keras yang bisa digunakan untuk mengusir burung emprit agar tidak mendekati areal sawah petani. Ledakan dari meriam kaleng yang dibuat sedemikian rupa terbukti efektif menghalau serbuan hama burung.


“Meski hanya dari kaleng bekas meriam yang digunakan bisa mengusir hama burung yang menyerang area sawah kami agar kerugian tidak semakin besar,”ungkapnya.

Selain itu barang bekas lain juga digunakan oleh para petani dengan membuat orang orangan sawah dan memasang berbagai barang bekas terutama plastik dan kaleng bekas di sawah,mengusir dengan menggunakan ketapel serta teriakan teriakan serta memasang jaring di atas tanaman padi agar hama burung tak menjangkau padi. Proses menunggu dan menghalau hama burung tersebut diakui oleh Suhardi akan dilakukan selama hampir satu bulan sejak padi mulai berisi hingga menjelang panen.

Bagi petani yang memiliki modal cukup diantaranya menggunakan teknik menghalau hama burung dengan jaring yang dibeli dengan harga satu roll jaring mencapai Rp40-45ribu sehingga petani harus mengeluarkan biasa sekitar Rp2,2 juta untuk satu hektar sawah karena kebutuhan jaring petani mencapai 8 rol jaring.

Kondisi serangan hama burung pada tanaman padi diakui juga oleh petani lain, Ansori (35) yang menggunakan tali rafia dan plastik-plastik bekas yang digunakan untuk menakut nakuti burung. Ansori membentangkan tali sepanjang ratusan meter dan mengaitkan tali pada pohon kelapa serta tonggak bambu yang bisa ditarik dengan tidak lupa menggantungkan kaleng bekas berisi kerikil dan batu. Kerikil dan batu tersebut dimasukkan ke dalam kaleng untuk menimbulkan bunyi-bunyian keras untuk mengusir burung.

Upaya mengusir hama burung dengan bunyi teknik lain yang digunakan oleh petani diantaranya menggunakan kentongan terbuat dari bambu.

Berbagai cara untuk mengusir hama burung tersebut menurut Ansori dilakukan untuk mengurangi tingkat kerugian dan produktifitas tanaman padi yang menurun akibat serangan gerombolan hama burung emprit. Saat kondisi normal petani bisa memperoleh hasil sebesar 6 ton perhektar namun dengan adanya serangan hama petani hanya bisa memperoleh sebesar 5 ton. Sebab selain hama burng sebelumnya petani menghadapi berbagai persoalan hama diantaranya adalah hama wereng, tikus, keong emas serta banjir dan kekeringan yang mengakibatkan gagal panen.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: