JUMAT, 5 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Waluyo (62), warga Kampung Suryoputran PB 3 /43 Panembahan, Kraton yang dikabarkan "hidup lagi" setelah setahun dianggap mati dan telah dimakamkan, kini disibukkan dengan persiapan mengurus surat-surat kependudukannya. Setelah dianggap mati semua berkas kependudukan dan hak hidupnya secara administratif juga telah dipunahkan, sehingga juga harus diurus untuk dihidupkan lagi.

Waluyo saat berjalan di depan rumahnya
Setelah kembali ke rumahnya sejak beberapa hari lalu, Waluyo yang sempat setahun dianggap meninggal mulai menjalani kehidupannya lagi. Namun, tentu saja kehidupan Waluyo tak lagi sama dengan kehidupannya sendiri setahun lalu, ketika belum dianggap mati.

Salah seorang tetangga Waluyo yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, Waluyo sekarang seperti sedikit mengalami gangguan jiwa. Sehari-hari hanya berjalan ke sana ke mari dan duduk di bawah pohon beringin yang berada tak jauh dari rumahnya. Saat hendak ditemui sejumlah awak media pada Jumat (5/8/2016), Waluyo memang menunjukkan perbedaan sikap. Saat hendak ditemui itu, Waluyo meminta kepada awak media untuk menunggunya, dengan alasan hendak membeli rokok sebentar.

Namun, salah seorang tetangga Waluyo kemudian memberitahu awak media jika Waluyo tidak membeli rokok. Melainkan duduk melamun di bawah pohon beringin. Sejumlah awak media pun kemudian ditemui oleh isterinya, Alim Eskatina (63).

Istri Waluyo
Menurut Alim, kini keluarga sedang menyiapkan beberapa berkas-berkas kematian Waluyo, termasuk dokumen rumah sakit yang merawatnya selama enam hari akibat kecelakaan. Berkas-berkas itu akan digunakan pihak keluarga untuk menghidupkan lagi hak-hak Waluyo, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) dan lainnya.

Pihak Kecataman Kraton pun telah bertindak proaktif dengan mengundang keluarga Waluyo untuk melakukan klarifikasi. Demikian pula pihak Kepolisian Sektor Kraton dan PT Jasa Raharja, turut dalam pertemuan itu guna memastikan kebenaran data dan fakta menyangkut 'hidupnya kembali' Waluyo setelah mati dan menerima uang santunan meninggal dari PT Jasa Raharja Cabang Yogyakarta.

Namun demikian, pihak keluarga Waluyo hingga kini masih belum mengerti bagaimana harus mengurus kembali surat-surat kependudukan Waluyo, karena ada banyak tahapan yang harus dilalui. Dalam pertemuan di Kecamatan itu, kata Alim, dimungkinkan akan ada proses pembongkaran makam yang selama ini diyakini sebagai makam Waluyo, juga mungkin akan ada tes DNA guna memastikan kebenaran jati diri Waluyo.

"Kami menunggu pihak perangkat desa saja bagaimana nanti prosesnya," kata Alim, sembari menambahkan, jika keluarga merasa sedikit cemas, terkait uang santunan Jasa Raharja yang terlanjur diterimanya. "Kalau harus dikembalikan, kami tidak akan mampu," pungkasnya.
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: