SABTU, 20 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Masyarakat penganut Hindu Bali di Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampubg melangsungkan upacara Pitra Yadnya Maha Gotra Tirta Arum di Desa Sidoluhur Kecamatan Bakauheni dan dilangsungkan di tempat yang sudah disiapkan sebelumnya di area pemakaman desa setempat.


Panitia Upacara Pitra Yadnya, Andi mengatakan, Upacara Pitra Yadnya merupakan upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal dan pengabenan secara massal yang dilakukan masyarakat setempat dalam kurun waktu lima tahun sekali.

Acara ngaben massal dilakukan untuk meringankan beban masyarakat yang kurang mampu karena jika dilakukan sendiri-sendiri membutuhkan dana yang cukup besar mencapai ratusan juta rupiah. Selain itu prosesi ini merupakan ritual suci umat Hindu turun temurun yang harus dilestarikan sebagai keberagaman tradisi di Lampung Selatan.


“Jika dilakukan secara massal mungkin keluarga yang mengikuti hanya mengeluarkan dana Rp.6 juta, sehingga ini semacam gotong royong dalam melakukan pengabenan dan semua biaya dipikul secara bersama oleh masyarakat," ungkap Andi ketua panitia Pitra Yadnya kepada Cendana News, Sabtu (20/8/2016).

Pada acara tersebut kata dia, terdapat sekitar 10 jasad yang dingabenkan, terdiri atas sebanyak 9 sawe (jasad orang dewasa) dan 1 ngelungah (jasad anak-anak) yang diharapkan ruhnya akan mendapat tempat suci di khayangan (surga).

“Namun prosesi ngaben ini bukan jasad secara fisik, namun ruh orang yang telah meninggal agar kembali kepada sang pencipta,” tambahnya.

Salah satu warga lain, Wayan Loji  (35) mengungkapkan, dari kegiatan tersebut ia merasa terbantu, sebab ia mengaku bisa mengabenkan jasad anaknya yang meninggal karena sakit. Ia bersyukur bisa memenuhi kewajibannya sebagai umat Hindu dan tetap bisa menjaga kebersamaan dengan warga lainnya.


Menurutnya, acara seperti ini membawa kultur agama dan tradisi masyarakat sehingga sangat perlu mendapat perhatian agar tetap dilestarikan di daerah itu. Upacara ngaben massal tersebut selain menjadi upacara suci, namun kegiatan tersebut menjadi tontonan menarik bagi warga lainnya bahkan dari luar Kecamatan Bakauheni yang ingin melihat dari dekat prosesi ngaben massal tersebut.

"Saya belum pernah melihat ngaben massal seperti ini sehingga sewaktu diajak kawan saya melihat untuk mengetahui prosesnya," ujar Aji, salah satu warga Bandung yang sedang berlibur di rumah salah satu kawannya di Bakauheni.

Dari pantauan Cendana News, kaum wanita yang mengikuti prosesi Pitra Yadnya tersebut membawa persembahan persembahan yang diletakkan di atas kepala mereka, sementara kaum laki-laki mengenakan ikat kepala (udeng) khas yang dipergunakan untuk persembahyangan dan bertugas mengangkat sawe dan ngelungah yang disiapkan dalam tempat khusus.

Sawe dan ngelungah yang sudah disembahyangkan secara bersama-sama selanjutnya dilangsungkan pengabenan diiringi doa doa khusuk para anggota keluarga yang turut serta dalam pitra yadnya tersebut.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: