KAMIS, 18 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- 71 Tahun usia kemerdekaan Republik Indonesia, warga pulau Pemana desa Pemana kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur masih terus menaruh harapan untuk segera merdeka dari permasalahan air bersih. 4.272 jiwa penduduk pulau tersebut masih harus terus berjuang untuk mendapatkannya.


“Untuk mendapatkan air, kami harus mengambilnya di sumur yang terletak sejauh 3 kilometer dari desa kami,”ujar salah seorang warga yang berprofesi sebagai nelayan, Mamidah kepada Cendana News, Kamis (18/8/2016).

Disebutkan, air bersih diambil dari sumur di Ngolo dimana untuk satu jeriken ukuran 30 liter dihargai 2.500 rupiah. Kondisi jalan juga sangat memprihatinkan, saat musim hujan sepeda motor sering tergelincir.

“Masih jalan tanah dan merupakan jalan usaha tani. Masyarakat sudah lama mengusulkan agar diperbaiki,” tuturnya.

Selain air bersih, warga Pemana juga sangat membutuhkan adanya kolam labuh agar kapal-kapal nelayan saat musim angin kencang dan badai bisa menambatkan dan tidak mengalami kerusakan.

Abdul Muis warga Pemana lainnya menuturkan, saat musim angin kencang nelayan pemilik kapal merasa was-was dan tidak bisa tidur nyenyak takut kapal mengalami kerusakan dihempas gelombang.

“Banyak kapal motor yang rusak sebab di perairan depan desa kami tidak ada kolam labuh yang berfungsi menahan gelombang,” ungkapnya.

Kolam labuh lanjutnya merupakan kebutuhan penting 2.172 kepala keluarga warga desa ini. Hampir semua warga desa Pemana memiliki kapal penangkap ikan dan kapal penumpang serta kapal barang.

“Hampir setiap orang memiliki perahu motor atau kapal berbagai ukuran. Ada kapal barang yang berlayar hingga ke Singapura,”paparnya.


Pantauan Cendana News, perairan di sekeliling pulau Pemana di penuhi oleh kapal motor berbagai ukuran. Hampir semua kapal yang ditambatkan merupakan kapal penangkap ikan berukuran besar seharga ratusan juta rupiah.
[Ebed De Rosary]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: