MINGGU, 14 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Keterbatasan lahan untuk bercocok tanam yang dapat memperoleh hasil melimpah tidaklah sulit, hanya saja butuh ketelatenan dan keterampilan untuk memilih tanaman. Hal itu dilakukan oleh salah satu warga di Desa Dasuk Barat, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur yang memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya dengan tanaman obat-obatan (Herbal).

Salah seorang warga sedang merawat tanaman herbal di sekitar pekarangan rumah.
Sedikitnya lahan yang di milikinya bukan lantas harus berputus asa untuk bisa mendapatkan rezeki dalam bidang pertanian, namun keterbatasan tersebut harus dimanfaatkan dengan baik agar bisa membuat suatu produk yang memiliki nilai tawar. Karena dengan perkembangan zaman dan persaingan yang semakin ketat, maka harus bisa melihat peluang pasar dalam menggarap suatu tanaman.

"Kami ini tidak memiliki lahan banyak, makanya mencari tanaman yang memiliki peluang pasar sangat menjanjikan, jadi tanaman herbal ini cocok untuk digarap dilahan pekarangan rumah. Apalagi hasil yang diperoleh juga lumayan menjanjikan dibanding tanaman lain," kata Moh. Suhdi (30), salah seorang warga pembudidaya tanaman herbal di Desa Dasuk Barat, Kecamatan Dasuk, Minggu (14/8/2016).

Disebutkan, bahwa inisiatif menggarap tanaman herbal bermula ketika dirinya seringkali mengalami kerugian, sehingga ia beralih ke tanaman pegagan yang bisa dijadikan obat. Alhasil tanaman tersebut mampu memberikan hasil menjanjikan dibanding tanaman komuditas sebelumnya, seperti jagung dan singkong.


"Alhamdulillah tanaman herbal ini kan tidak banyak mengeluarkan biaya, sehingga hasilnya lumayan menjanjikan. Karena daun dari tanaman pegagan tersebut mengandung banyak khasiat, maka akan sangat menjadi penunjang terhadap peluang pasar di masyarakat," jelasnya.

Sejak menggarap tanaman pegagan ia sudah mulai banyak menerima pesanan dari masyarakat sekitar, sehingga ia selalu menyediakan tanaman tersebut yang sudah menjadi serbuk yang sudah siap diminum. Itupun harganya sangat terjangkau, para pembeli cukup dengan mengeluarkan uang sebesar Rp7.000 sudah bisa mendapat serbuk pegagan seberat 100 gram.

"Untuk saat ini kami menghaluskan pegagan dengan alat tradisional yaitu ditumbuk. Tetapi lumayan sudah mulai diminati oleh masyarakat di daerah ini," terangnya. (M. Fahrul)‎
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: