JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

LHOKSEUMAWE --- Awak media di Provinsi Aceh, geram dengan tingkah oknum TNI angkatan Udara yang menganiaya dua jurnalis di Medan. Perlakuan tersebut menambah daftar kekerasan yang kerap dialami oleh jurnalis saat menjalankan tugas jurnalistik dilapangan.


“AJI Indonesia mencatat sepanjang Mei 2015-April 2016, telah terjadi 39 kasus kekerasan pada jurnalis dalam berbagai bentuk,” ujar Agam Khalilullah, Ketua Divisi Advokasi AJI Kota Lhokseumawe, kepada Cendana News, Jumat (18/8/2016).

Agam menambahkan, kekerasan terhadap jurnalis paling banyak dilakukan oleh warga yang mencapai 17 kasus. Kemudian oleh oknum polisi 11 kasus, pejabat pemerintah 8 kasus, kemudian yang dilakukan oleh oknum TNI, Satpol PP, dan pelaku tidak dikenal, masing-masing 1 kasus.

“Kalau kita lihat catatan itu, tahun lalu, ada 14 kasus serupa yang juga dilakukan oleh warga dan pejabat pemerintahan. Kasus-kasus seperti ini tidak seharusnya kembali terjadi, karena kita wartawan bekerja dilindingi undang-undang,” katanya.

Sementara itu, Ketua AJI Banda Aceh, Adi Warsidi, meminta Panglima TNI bertindak tegas terhadap oknum TNI AU penganiaya wartawan. Ia menuntut agar pelaku dapat dijerat hukum dengan menggunakan UU No. 40 tahun 1999 tentang pers.

Bukan hanya di Lhokseumawe dan Aceh Utara, aksi solidaritas juga digelar oleh puluhan wartawan di Banda Aceh. Awak media di Ibu Kota Provinsi Aceh tersebut menggelar aksi damai dan doa bersama di depan Masjid Raya Baiturahman.

Para awak media tersebut, mengutuk tindakan yang penganiayaan yang dilakukan oleh oknum TNI AU terhadap dua rekan jurnalis di Medan, Sumatera Utara. Mereka meminta oknum tersebut dipecat dan diproses secara hukum.
[Zulfikar Husein]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: