RABU, 31 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Meski telah beroperasi sejak tahun 1979, sebagian masyarakat ada yang belum menyadari jika di Yogyakarta terdapat pusat reaktor nuklir. Padahal, kendati telah dipastikan dibangun dengan persyaratan keamanan tingkat tinggi, kemungkinan bencana kegagalan teknologi nuklir dimungkinkan terjadi.


Karena itu, berbagai upaya kewaspadaan perlu dibangun sejak dini, demikian pula dengan langkah sigap tanggap darurat perlu dilatih sejak dini pula. Apalagi, dengan potensi gangguan keamanan seperti adanya aksi terorisme yang mungkin saja terjadi, sehingga kewaspadaan tidak hanya ditujukan untuk keamanan (safty), namun juga pengamanan (security).

Selain itu, upaya penanggulangan pengurangan resiko bencana juga perlu dilakukan dengan melibatkan semua unsur. Maka, sebuah latihan bersama pengurangan bencana kegagalan teknologi nuklir perlu diadakan guna menekan atau mengurangi resiko bencana teknologi secara bersama-sama.

Demikian dipaparkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta, Krido Suprayitno, dalam gelar pers, terkait rencana pelaksanaan simulasi bencana teknologi nuklir di Kantor Pusat Sains dan Teknologi Akselerator Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) DI Yogyakarta, Rabu (31/8/2016).

Krido mengatakan, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2012 Tentang Kesiapsiagaan Nuklir, BPBD DIY ditunjuk sebagai koordinator pelaksana penanggulangan pengurangan resiko bencana teknologi. Upaya penanggulangan resiko bencana teknologi nuklir juga menjadi wilayah kerja BPBD DIY, sehingga perlu diadakan koordinasi lintas sektor melibatkan semua unsur, termasuk masyarakat yang justru merupakan unsur utama dalam setiap upaya pengurangan resiko bencana.

Sementara itu, menyadari adanya potensi dan resiko bencana itu, BATAN juga telah menyusun Rencana Kontinjensi Ancaman Bencana Kegagalan Teknologi Nuklir di Kawasan Nuklir BATAN Yogyakarta untuk memberikan perlindungan bagi seluruh masyarakat.

Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN DI Yogyakarta, Susilo Widodo mengatakan, sejak tahun 1990 pihaknya telah memiliki Standard Operating Procedure (SOP) dalam penanganan pengurangan resiko bencana kegagalan teknologi. SOP tersebut disusun berdasarkan riset dan pelatihan dan secara berkala direvisi sesuai perkembangan potensi bahaya yang ada. Seiring perkembangannya pula, dengan adanya BNPB dan BPBD, prosedur pengurangan resiko bencana kegagalan teknologi memerlukan koordinasi melibatkan banyak unsur sehingga perlu dilakukan upaya-upaya dalam rangka menjalin sinergitas penanggulangan bencana.

Susilo juga menegaskan, selama ini potensi bencana teknologi di PSTA BATAN DI Yogyakarta mendekati angka Nol (0). Namun demikian, kewaspadaan dan kesadaran dalam tanggap bencana memang perlu ditanamkan sejak dini. Menurut Susilo PSTA BATAN DI Yogyakarta yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Maret 1979, memiliki reaktor nuklir berkapasitas 250 Kilowhat, namun sesuai izin operasionalnya hanya 100 Kilowhat. Dengan kecilnya kapasitas reaktor yang diberi nama Reaktor Kartini, potensi bahaya sangat kecil.

Dikatakan Susilo, potensi bahaya radiasi nuklir bisa terjadi melalui air tanah dan udara. Namun dengan kecilnya kapasitas Reaktor Kartini, kemungkinan kebocoran hanya akan sejauh 50 meter. Karenanya, potensi bahaya kegagalan teknologi di PSTA BATAN DI Yogyakarta dikatakan mendekati nol, karena bangunan reaktor yang juga didesain anti gempa.
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: