JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

TMII --- Festival Merah Putih " Toedjoeh Poeloeh Satoe " Pekan Agustus 13-21 Agustus 2016 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam memperingati HUT ke-71 Kemerdekaan RI menampilkan beragam pameran seni dan budaya masing-masing provinsi nusantara, mulai dari tarian tradisional maupun tradisi kreasi sampai kerajinan tangan. Salah satu peserta mempertontonkan Wastra (kain) Besurek khas Bengkulu di Anjungan provinsi Bengkulu di TMII.


Bengkulu adalah salah satu provinsi nusantara yang amat dikenal di dunia dengan Bunga Rafflesia serta memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia sebagai daerah asal sekaligus tempat kelahiran Ibu Negara pertama di Indonesia, yakni Ibu Fatmawati penjahit Sang Saka Merah Putih pertama bagi republik ini.

Buah tangan hasil jahitan beliau berupa kain merah dan putih seakan mengirim sebuah pesan bahwa masyarakat Bengkulu akrab dengan pembuatan Wastra. Pesan yang tersirat itu semakin teguh kala mengetahui ada Wastra khas Bengkulu bernama Besurek yang dalam bahasa melayu Bengkulu kata Besurek artinya tulisan atau bersurat atau tersurat.

Berawal dari abad ke-17 kala para pedagang Arab dan pekerja-pekerja asal India memperkenalkan corak kain berbentuk tulisan kepada masyarakat Bengkulu, maka seiring bergantinya waktu pola motif tersebut berkembang dengan sendirinya menjadi salah satu motif dalam pembuatan Wastra tradisional khas Bengkulu. Motif Besurek adalah motif menyerupai tulisan Arab namun tidak ada artinya, dengan kata lain tidak bisa dibaca. Oleh karena itu, masyarakat kerap menjuluki motif Wastra batik Besurek khas Bengkulu dengan motif huruf arab gundul.

Wastra atau Kain Besurek dibuat menggunakan teknik tradisional berupa pencelupan kedalam cairan warna dan pemalaman atau menulis menggunakan lilin (malam). Oleh karena teknik pembuatannya tersebut maka kain Besurek masuk dalam kategori Wastra Batik Nusantara atau disebut juga Kain Batik khas Indonesia.

Pembuatan kain batik Besurek secara tradisional dapat memakan waktu kurang lebih satu bulan. Namun seiring perkembangan dunia industri yang menginginkan percepatan untuk perputaran roda ekonomi maka pembuatan kain Besurek sekarang ini sudah mulai dibuat dengan teknik cap. Kain yang digunakanpun bisa dari tiga jenis yakni dari jenis sutera (paling tinggi), dobbi, dan katun.

Untuk membedakan antara Besurek hasil proses pembuatan tradisional dengan proses pembuatan industri juga tidak terlalu sulit. Untuk Batik Besurek tradisional maka kecerahan kain sebelah menyebelah akan sama. Sedangkan untuk Batik Besurek yang dibuat untuk industri kecerahan warna kain sebelah menyebelah tidaklah sama.

Meninggalkan pembahasan diatas, maka jika dibandingkan dengan kerajinan tangan khas Bengkulu lainnya yaitu kerajinan tangan kulit kayu lantung, maka kain Besurek sudah lebih dahulu mendunia sejak tahun 1988 ketika Elly Sumiati dan Donni Roesmandai pengrajin kain Besurek lokal Bengkulu pertama kali memperkenalkannya ke seluruh nusantara sekaligus dunia internasional.


Robby Alman, staff Promosi dan Informasi bidang seni dan budaya di kantor perwakilan provinsi Bengkulu Jakarta mengisahkan beberapa waktu lalu pernah juga ada sepasang penari Bengkulu (Alm) Ibu Sri serta suaminya Pak Bambang yang dikirim untuk memperkenalkan alat musik tradisional khas Bengkulu bernama Doll ke Eropa khususnya Italy, Belanda, serta Prancis. Sambil menari, mereka turut pula membawa serta kain Besurek. Masyarakat di setiap negara yang mereka kunjungi heran karena bagi mereka Batik identik dengan Tanah Jawa saja akan tetapi mengapa di Sumatera khususnya Bengkulu ada kain Batik.

"Akhirnya, kedua penari misi budaya Bengkulu tersebut pulang hanya dengan baju di badan serta tas pribadi mereka saja ke Indonesia. Semua kain Besurek, alat musik Doll, serta cinderamata lainnya (yang sebenarnya bukan untuk dijual) ludes dibeli," kenang Robby sambil tersenyum.

Dalam Festival Merah Putih di TMII pun animo masyarakat akan kerajinan khas Bengkulu sangat menggembirakan. Dari 30 buah baju Batik kain Besurek yang dibawa langsung dari Bengkulu hanya tersisa 5 buah saja saat ini. Artinya sebanyak 25 buah dibeli pengunjung yang datang ke Anjungan provinsi Bengkulu TMII.

Dari sekian banyak kisah indah terkait perkembangan hasil kerajinan khas provinsi Bengkulu, ada kesedihan yang tersembunyi di benak Robby Alman sebagai salah satu putera daerah Bengkulu. Ia mengisahkan bahwa jauh dari era sekarang ini, kurikulum membatik merupakan kurikulum wajib di Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun ia menyelesaikan pendidikan di bangku SMP hingga sekarang ini, kurikulum wajib tersebut tidak ada lagi. Efek dari hilangnya kurikulum wajib terkait salah satu seni budaya nusantara yaitu generasi era sekarang ini sudah tidak mengenal seni dan budayanya sendiri.

Contoh mudahnya adalah dalam pameran Festival Merah Putih saat ini di TMII. Dari semua pengunjung anak muda baik asli Bengkulu maupun bukan, tidak ada yang mengetahui Batik Besurek.

"Harga yang sangat mahal dari menghilangkan kurikulum membatik khususnya batik Besurek," tandas Robby.

Namun jika semua pihak harus menekur diri meratapi nasib serta keadaan maka keadaan tidak akan berubah. Oleh karena itu, Pemprov Bengkulu sangat intens memanfaatkan setiap acara seni dan budaya dari TMII untuk melakukan edukasi khususnya bagi generasi muda lokal terkait seni dan budaya Bengkulu khususnya Wastra Batik Besurek.

Sebenarnya pekerjaan yang dilakukan oleh Pemprov Bengkulu adalah pekerjaan dua kali yang akhirnya berimbas pada terlambatnya pergerakan mereka terkait mengembangkan budaya lokal mereka.

"Maksudnya begini, jika pemerintah tidak menghapuskan kurikulum wajib membatik tersebut, maka tugas kami sekarang sudah dalam tingkat percepatan putaran roda ekonomi kreatif. Tapi sekarang kan kami harus memulai dari awal lagi, sehingga dapat dikatakan ini sama halnya mempersulit diri sendiri. Akan tetapi apa mau dikata, kami harus melakoni semuanya karena jika tidak maka kebudayaan asli Bengkulu khususnya akan hilang dari generasi muda kami," lanjut Robby lagi.

Dibalik perjalanan panjang secara historis, motif tanpa makna dari kain Besurek menyimpan sejuta harapan emosionil. Rakyat Bengkulu memiliki harapan yang sangat besar baik dari masyarakat nusantara maupun masyarakat Internasional. Kenalilah Bengkulu bukan hanya sebatas kasus kriminalitas Yuyun saja, kenalilah Bengkulu bukan hanya sebatas bunga Rafflesia, kenalilah Bengkulu bukan hanya sebatas Ibu Fatmawati serta Bendera Merah Putih, kenalilah Bengkulu bukan hanya sebatas dua jam teori mata perlajaran sejarah di kelas masing-masing, akan tetapi kenalilah Bengkulu juga sebagai satu kesatuan utuh dari wilayah nusantara dengan nilai historis berikut beragam kekayaan seni dan kebudayaan.

"Seni serta budaya tersebut bukan hanya untuk dinikmati wisatawan saja, melainkan untuk dipelajari setiap generasi demi menumbuhkembangkannya menjadi salah satu penggerak roda ekonomi kreatif juga. Salah satu contoh adalah adalah Wastra Batik Besurek khas Bengkulu," pungkasnya mengakhiri pembicaraan.
[Miechell Koagouw]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: