KAMIS, 11 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Ibarat seorang anak bayi yang belajar merangkak sampai tiba saatnya berdiri tegak dan berlari-lari kecil, maka proses tumbuh kembangnya industri kerajinan masyarakat berupa Wastra (kain) Nusantara khususnya tenun khas Baduy juga memiliki proses yang sama.


Secara budaya dan nilai yang dianut, Orang Baduy yang juga memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda menjunjung tinggi kesederhanaan serta tradisi turun temurun yang sangat kuat. Ciri khas kehidupan masyarakat Baduy dengan selalu menjaga eksistensi nilai moral diri berhasil membentuk keutuhan karakter kultural suku Baduy itu sendiri walau diterpa era transisi jaman yang semakin modern.

Perlu diketahui terlebih dahulu, masyarakat Baduy sejak dahulu kala secara umum terbagi menjadi dua kelompok yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam memiliki ciri khas sebagai masyarakat dengan kehidupan yang secara ketat mengikuti aturan adat istiadat. Maksudnya adalah, Suku Baduy Dalam sangat menjaga kehidupan tradisional mereka dengan tidak menggunakan sarana transportasi umum modern, alas kaki, dan peralatan elektronik. Pakaian yang mereka gunakan sehari-hari adalah dari kain atau bahan hasil tenunan tradisional berwarna hitam atau putih (tidak boleh menggunakan pakaian modern).

Kelompok kedua adalah masyarakat Baduy Luar. Kelompok ini berasal dari Masyarakat Baduy Dalam namun terpaksa harus terpisah karena memilih untuk mengenal dunia luar. Maksudnya adalah mereka yang masuk dalam kelompok Baduy Luar adalah orang-orang Baduy yang biasanya memilih untuk mengenal dunia luar, melakukan pelanggaran adat suku Baduy Dalam sehingga harus keluar dari lingkungan kelompoknya, dan terakhir adalah menikahi orang diluar wilayah Baduy Dalam. Ciri khas mereka adalah sudah menggunakan alat transportasi umum modern, alas kaki, menggunakan peralatan elektronik sesuai perkembangan teknologi, dan busana yang mereka kenakan terbuat dari kain berwarna hitam dan biru. Warna-warna gelap yang dikenakan oleh masyarakat Baduy Luar biasa disebut warna tarum. Akan tetapi baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, hingga kini mereka tetap menjaga budaya warisan leluhur mereka sejak dahulu, salah satunya adalah Wastra atau disebut juga Kain.

Maha karya seni budaya Wastra Baduy salah satunya adalah kain tenun dari desa Kanekes, Kecamatan Lemdamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa Kanekes memiliki sekitar 200 pengrajin kain tenun dengan kemampuan alami secara turun temurun. Saidam adalah anak dari penenun tradisional desa Kanekes yang melanjutkan keahlian menenun orangtuanya sejak tahun 2005 hingga sekarang. Bahkan Saidam juga sudah memasuki era pemasaran modern secara mandiri dengan menggunakan media sosial sebagai alat utama untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan kain hasil tenun mereka keluar desa Kanekes.

"Berawal dari meneruskan tradisi menenun dari orangtua saya sendiri, lalu setelah menikah dengan istri yang juga adalah seorang penenun maka coba kami berdua kembangkan sendiri pemasaran kain tenun buatan kami ini secara mandiri," Saidam mengawali penjelasannya saat ditemui Cendana News di Jakarta.

"Untuk mendukung pemasaran kami maka kami mengajak kerjasama 3 pengrajin tenun dari sekitar 200 orang pengrajin tenun yang ada di desa Kanekes," tambahnya.

Sama dengan daerah penghasil tenun lainnya, maka di Baduy, proses mengolah kain tenun secara tradisional juga adalah sebuah proses yang sangat panjang dan menyita waktu serta kejelian yang cukup tajam. Terhitung sejak proses pemilihan serat benang yang akan digunakan, pembuatan cairan pewarna benang, pencelupan benang dengan warna yang diinginkan, sampai proses menenun dapat memakan waktu dari satu hingga tiga bulan.

Proses pengolahan kain tenun di Baduy menurut Saidam adalah sebagai berikut ; terlebih dahulu disiapkan benang-benang dari berbagai warna dasar. Setelah itu, dilakukan proses pembuatan cairan pewarna benang berupa air rebusan yang berasal dari bahan-bahan alami seperti kulit pohon mahoni, kulit pohon nangka, kulit pohon rengrang, akar mengkudu, dan jawer kotok.

"Namun harus diperhatikan bahwa setiap kulit pohon ada yang muda dan tua. Jika kulit pohon muda maka warnanya pasti akan kalem atau warna muda. Dan jika kulit pohon yang sudah tua maka warna yang dihasilkan nantinya adalah warna gelap," terang Saidam.

Setelah seluruh cairan pewarna benang disiapkan, maka dilakukan proses pencelupan. Untuk mendapatkan warna benang yang alami maka pencelupan benang tersebut harus dilakukan berkali-kali. Maksudnya adalah, jika sudah dicelupkan satu kali maka tunggu sampai kering baru dilakukan proses pencelupan berikutnya, begitu seterusnya sampai diperolah warna alami yang diinginkan.

Setelah semua benang selesai diwarnai, maka dilanjutkan dengan proses 'ngincir' (nguluran) yakni mengurai benang untuk kemudian dijadikan gulungan-gulungan sesuai warnanya masing-masing. Setelah itu masuk ke proses berikut yaitu 'mehane' atau menjejerkan gulungan-gulungan benang yang sudah 'ngincir' tersebut diatas alat tenun (dalam bahasa Baduy disebut alat tinun). Selanjutnya adalah melakukan proses 'diliar' atau mengurai benang-benang tersebut di alat tenun. Jika sudah melalui proses-proses tersebut, maka serat-serat benang sudah siap untuk ditenun atau disebut 'tinunan' (menenun).

Proses menenun atau oleh orang Baduy disebut 'tinunan' dilakukan menggunakan alat tenun tradisional khas Baduy yang disebut 'alat tinun'. Alat tenun tersebut memiliki bagian-bagian dimana masing-masing bagian saling memiliki keterkaitan antara satu sama lain agar dapat bergerak menghasilkan sebuah kain tenun. Berikut bagian-bagian dari alat tenun khas Baduy :

1. Cangcangan, yaitu sepasang tiang penyanggah terbuat dari bambu sebagai sentral dari seluruh bagian alat tenun.

2. Totogan, sebuah papan tebal untuk menggulung benang yang akan ditenun.

3. Barerak, alat penggulung serat-serat benang agar dapat dipilah sesuai warnanya masing-masing.

4. Sisir, untuk memilah setiap serat atau helai benang dalam proses menenun.

5. Jingjingan, untuk pembentukan motif kain tenun dalam proses menenun.

6. Limbuhan, sebagai tuas pengganti sisi kain tenun untuk membentuk motif di setiap sisi kain dalam proses menenun.

7. Caor, adalah penggulung benang yang sudah terbentuk menjadi satu kesatuan utuh berupa kain tenun berikut motifnya.

8. Dadogong, adalah sebagai alat penguat 'Caor' yang ditempatkan dibelakang penenun untuk merapatkan proses penggulungan kain tenun yang sudah jadi.

9. Rorogan, sebagai alat penyanggah Dadogong agar kinerja antara Dadogong dan Caor dapat menghasilkan gulungan kain tenun yang rata.

10. Kerekan, sebuah batang kayu atau bambu kecil sebagai media penggulung serat benang sesuai warnanya masing-masing.

11. Toropong, sebuah alat kecil terbuat dari bambu untuk memasukkan 'Kerekan' agar benang-benang yang akan dipintal tidak tercerai berai berantakan. Biasanya Toropong ditampatkan diatas alat tenun.

Dari semua proses menghasilkan kain tenun dari pemilihan warna benang, pembuatan cairan pewarna, sampai mesin yang digunakan, jika ditambah dengan seorang penenun lokal tradisional yang mumpuni maka akan menghasilkan kain-kain tenun berkualitas dengan motif khas mewakili daerah dimana kain tenun itu dibuat.

Baduy memiliki banyak motif kain tenun lokal yang saat ini perlahan sudah mulai merambah ke tingkat nasional bahkan sampai ke mancanegara. Dari sekian banyak motif, ada 3 (tiga) motif utama wastra tenun Baduy yang coba dihimpun Cendana News dari Saidam, yaitu ;


1. Motif Adu mancung, dengan warna dasar hitam, motif ini berbentuk kerucut dimana bagian kerucut yang runcing saling berhadapan. Inilah yang menyebabkan motif ini dinamakan Adu mancung. Motif ini memiliki filosofi bahwa kehidupan memiliki pasang surut dengan jangka waktu tertentu. Oleh karena itu pesan moralnya adalah manusia harus bisa memanfaatkan kehidupan yang diberikan Tuhan dengan cara seksama berdasarkan norma-norma yang berlaku.

2. Motif Suat samata, masih dengan warna dasar hitam, motif ini berbentuk garis-garis kecil terputus dengan diakhiri titik putih di ujung garis (diandaikan sebagai mata). Motif ini menyimpan filosofi bahwa hidup ini tidak selamanya sebuah rangkaian benang yang lurus, melainkan ada tantangan (berupa garis benang putus-putus) namun semua pada akhirnya menuju kepada satu tujuan murni yaitu titik putih terang diujung jalan kehidupan.

3. Motif Susuatan, dapat dengan dasar warna apapun dimana motif ini juga merupakan motif hasil tenun awal dari masyarakat Baduy sebelum lahir motif-motif lainnya. Dengan kata lain motif Susuatan adalah embrio awal dari beragam motif tenun Baduy yang ada sekarang ini.

Perkembangan, perubahan, atau juga transformasi motif dan corak wastra tenun Baduy dari motif Susuatan menjadi beberapa motif lainnya terjadi karena permintaan atau masukan dari para konsumen wastra tenun Baduy itu sendiri. Hal ini diakui oleh Saidam kepada Cendana News di sela-sela kegiatan Pameran Wastra Tenun Nusantara 2016 di Plasa Lobby Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta kemarin (10/8/2016).

Masih menurut Saidam, melalui aplikasi WA (WhatsApp) ia melayani setiap permintaan motif yang diinginkan konsumen. Bahkan terkadang ada konsumen yang meminta motif berupa sebuah gambar tertentu untuk dibuatkan menjadi Kain Tenun khas Baduy. Namun begitu, setiap permintaan tidak begitu saja diikuti sesuai kemauan konsumen, akan tetapi Saidam tetap membuat kain tenun dengan dasar motif berciri khas tenun Baduy kemudian baru ditambahkan motif gambar yang diinginkan oleh konsumen.

" Hal itu untuk menjaga ciri khas kami sendiri. Jadi siapapun yang melihat kain tenun tersebut akan menyadari (baik itu karena sudah mengetahui maupun karena baru mendapatkan info) bahwa itu hasil tenun asli atau khas Baduy. Dan sejauh ini konsumen menerima hal itu, malah mereka senang bahkan ada yang akhirnya berkunjung melakukan wisata ke Baduy sekaligus membeli kain maupun melihat dari dekat proses pembuatannya," jelas Saidam.

Sama dengan para pengrajin tenun di belahan nusantara lainnya, kendala utama untuk menghasilkan sebuah kain tenun adalah proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama yakni sekitar 1-3 bulan. Semakin sulit motif yang akan dibuat maka semakin lama proses pembuatannya. Solusi dari kendala ini hanya satu, yaitu menghimpun para pengrajin untuk kemudian diatur dengan seksama waktu atau periode produksinya. Dengan cara tersebut sedikit banyaknya dapat mengatasi kendala pembuatan kain tenun yang cukup memakan waktu lama tersebut.

Terkait peran Pemerintah melalui badan-badan yang berkompeten maupun peran serta institusi yang bergerak dibidang wastra tenun dinilai Saidam memberi efek yang cukup signifikan dalam mengangkat wastra tenun Baduy ke tengah-tengah masyarakat sekaligus meningkatkan pemasaran wastra tenun itu sendiri. Peran Pemerintah biasanya dengan memberikan kesempatan bagi para pengrajin maupun pengusaha lokal Baduy untuk mengikuti Pameran wastra skala nasional. Sedangkan peran institusi swasta lainnya seperti CTI (Cinta Tenun Indonesia) biasanya dalam bentuk memberikan pelatihan atau masukan secara langsung kepada pengrajin lokal bagaimana cara memperhalus hasil tenun mereka agar lebih kompetitif lagi di pasaran kain tenun nusantara.

Harapan kedepan dari Saidam sebagai pengrajin sekaligus pengusaha lokal Baduy, khususnya dari desa Kanekes, Baduy Luar, bahwa wastra tenun Baduy bisa terus mewakili budaya serta kearifan lokal setempat tanpa mengurangi minat masyarakat terhadap wastra tenun Baduy itu sendiri. Perlu perjuangan dan kegigihan tentunya, akan tetapi selama semua dijalankan sesuai kata hati maka hasilnya akan bisa dinikmati dengan semestinya.

"Bagaimana menjaga ciri khas wastra tenun Baduy ditengah permintaan motif beragam dari konsumen, dan harapan saya kedepannya bisa menyeimbangkan keduanya. Satu sisi kami memerlukan penghasilan dalam mengangkat taraf kehidupan kami, di sisi lain kami harus menjaga warisan budaya kami sendiri. Keduanya harus berjalan seimbang, itu harapan kedepannya," pungkas Saidam.
[Miechell Koagouw]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: