JUMAT, 12 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia dengan kekayaan budaya yang beragam, salah satunya adalah kekayaan Wastra (Kain) baik itu Songket, Tenun, maupun Batik. 

Ingrid Istami (Ami), inspirator muda lokal desa Ungga Lombok tengah sebagai salah satu pengelola Rumah dagang dan fashion berbasis wastra tenun lombok bernama NAMIA
Sudah mengemuka bahwa daerah penghasil kain tenun cukup besar di NTB adalah dari desa Sukarare Lombok tengah. Namun ternyata masih ada sebuah desa lagi di lombok tengah yaitu desa Ungga dengan hasil produksi kain tenun yang bisa diperhitungkan baik kualitas maupun kuantitasnya untuk masuk ke pasaran wastra nusantara.

Desa Ungga, Kecamatan Praya Kabupaten Lombok tengah NTB adalah sebuah desa dengan luas wilayah 4,7 kilometer persegi dengan penghuni kurang lebih 8.000 jiwa. Mata pencaharian warga setempat pada umumnya adalah sebagai petani dan buruh baik itu buruh tani maupun buruh serabutan di bidang lain. Pertanian yang berkembang bagus di desa Ungga adalah Padi dan Palawija yang akhirnya mampu menjadi sandaran hidup sehari-hari sebagian besar masyarakatnya. 

Disamping hasil pertanian, desa Ungga juga sudah lebih dahulu dikenal sebagai penghasil kerajinan perak kreatif di daerah lombok tengah. Penggabungan tempaan perak dengan mutiara lombok menjadikan produksi perak desa Ungga sudah dikenal khalayak luas baik di dalam negeri maupun mancanegara. 

Dalam Pameran Wastra Tenun Nusantara 2016 yang diadakan di Plasa Lobby Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto Jakarta, desa Ungga diwakili oleh rumah dagang dan rumah fashion lokal bernama NAMIA meretas pasar Megapolitan dengan wajah berbeda, yakni beragam Kain Tenun motif lokal khas lombok, NTB.

Sejak tahun 2012 NAMIA, berkedudukan outlet di Jalan Pendidikan No.11 Gomong Mataram Lombok milik pengusaha lokal Desa Ungga Maya Dhamayanti bersama putrinya Ingrid Istami (sebagai salah satu pengelola) berusaha menghimpun sekitar 25 pengrajin tenun lokal desa Ungga. Para pengrajin lokal diwadahi sekaligus dibina secara mandiri baik dari segi peningkatan kualitas maupun kuantitas hasil tenun berikut pemasarannya. 

Sama halnya dengan daerah penghasil tenun lain, kemampuan tenun para pengrajin lokal desa Ungga sudah dimiliki turun temurun. Mulai dari cara pemilihan serat benang untuk menenun, lalu penggunaan bahan-bahan alami untuk pewarnaan seperti daun pandan, akar pohon serta kulit pohon, sampai proses pencelupan benang diikuti proses penenunan adalah keahlian yang sudah dimiliki sekaligus dilakukan para pengrajin secara turun temurun. 

Dalam perkembangannya, motif yang lahir dari para pengrajin desa Ungga selain dari motif baku tenun lombok yaitu subhanaleh dan Rangrang, turut pula lahir motif-motif lain dengan mengambil inspirasi dari alam sekitar desa khususnya tumbuh-tumbuhan seperti pohon cemara, daun semanggi, atau dari wujud hewan seperti kupu-kupu dan kepiting.

Maya Dhamayanti menjelaskan, motif-motif yang lahir baik dari pengembangan motif baku Subhanaleh dan Rangrang maupun motif-motif baru, amat erat kaitannya dengan budaya maupun kearifan lokal masyarakat lombok khususnya masyarakat Desa Ungga. Selain itu ada pula pengaruh yang cukup kuat dari motif-motif asal Pulau Bali. 

"Dari keterikatan emosional akan budaya, kearifan lokal masyarakat Ungga yang sebagian besar adalah petani, ditambah pengaruh motif-motif dari Bali maka motif yang mendominasi biasanya seperti motif Subhanale, Rangrang, Barong, Kembang komak, dan Nanas," jelas Maya lagi.

"Sebagai informasi, motif kembang komak adalah pola tenun menggunakan warna dasar hitam dipadukan dengan motif kotak-kotak putih dan motif ini biasa digunakan masyarakat lombok untuk acara kedukaan dan khitanan," tambahnya.

Motif klasik wastra tenun lombok yaitu Keker dengan permainan warna pastel produksi asli pengrajin tenun desa Ungga lombok tengah NTB
Peran NAMIA sebagai sebuah wadah lokal penghimpun para pengrajin tenun desa Ungga terbilang cukup mempengaruhi produktivitas sekaligus permainan warna hasil-hasil tenun desa tersebut. Banyak perkembangan teknis dari eksplorasi motif sampai permainan warna yang dialami para pengrajin lokal desa Ungga sebagai hasil dari proses pembinaan berkesinambungan NAMIA kepada para pengrajin dengan tujuan merangsang imajinasi kreatif mereka. 

Menurut Ingrid Istami atau akrab disebut Ami, salah seorang pengelola NAMIA, awalnya para pengrajin memang sangat tradisional dan bergerak sesuai keterbatasan fasilitas dan inventaris teknis yang mereka miliki. Contohnya untuk penggunaan serat benang digunakan benang apa saja yang mereka temui di rumah masing-masing. Permainan warna seperti garis-garis gradasi awalnya juga terbilang agak kaku untuk dikonsumsi mata publik sebagai konsumen.

"Kami ajak mereka duduk bersama, lalu berbagi informasi tentang semua itu. Intinya bagaimana agar hasil tenun mereka bisa dipasarkan sekaligus bersaing dengan hasil-hasil tenun dari daerah lain," terang Ami kepada Cendana News.

Ami juga menambahkan, bahwa hal penting lain yang bisa diperbaiki setelah duduk bersama berbagi informasi dengan para pengrajin adalah bagaimana menjaga kerapatan hasil tenun. Hal ini dilakukan karena memang salah satu ciri khas hasil tenun NTB khususnya lombok adalah kerapatan hasil tenun.

Sekarang ini, NAMIA dan para pengrajin lokal tenun Desa Ungga sedang memproduksi kain tenun dengan warna-warna yang sedang digandrungi konsumen dewasa ini yakni warna-warna pastel (warna terang namun teduh dipandang mata). Seiring eksplorasi warna pastel, sentra tenun desa Ungga juga sudah bisa menghasilkan beragam motif baru yang menarik seperti motif kepiting, kupu-kupu, dan beberapa pola motif lainnya. 

Beragam motif baru tersebut pembuatannya berjalan seiring dengan motif klasik khas lombok seperti Subhanale sampai motif-motif mainstream lain seperti motif keker (dengan gambar sepasang burung berhadapan), dan Ragi Genep yaitu motif berwarna dasar putih dengan garis-garis vertikal maupun horizontal yang silang warna. 

Khusus untuk motif Ragi Genep, pesan moral yang tersimpan didalamnya adalah, bahwa kemanapun seseorang pergi maka dimanapun nanti kakinya berpijak ia harus bisa menyesuaikan diri dengan norma-norma atau tata cara yang berlaku di masyarakat sekitarnya. Dengan begitu maka ia akan tenang menjalani kehidupan di tanah rantau sekaligus mendapatkan hormat dari orang lain.

Perjalanan NAMIA bersama pengrajin lokal desa Ungga dalam memperbaiki sekaligus mengangkat hasil tenun lokal bukanlah tanpa kendala. Salah satu kendala dengan efek domino yang cukup signifikan adalah terhentinya produksi disaat musim panen tiba. Penghasilan dari musim panen yang mencapai lima kali lipat dari hasil menenun otomatis menghentikan aktivitas tenun mereka untuk tenggang waktu cukup lama yaitu satu sampai dua bulan. Hal ini bukan terjadi di desa Ungga saja tetapi juga terjadi di seluruh sentra-sentra tenun lombok lainnya.

Bagi Maya Dhamayanti pemilik NAMIA, tidak ada masalah tanpa solusi. Ia pun menempuh sebuah solusi dengan cara meningkatkan penjualan kain tenun para pengrajin tenun desa Ungga. Agak membingungkan memang keputusan ini, namun ia memiliki pertimbangan subyektif yaitu jika penjualan lancar (mengalir deras) maka pemesanan kain tenun kepada para pengrajin akan semakin besar, sehingga pengrajin akan terpacu untuk terus menenun karena otomatis juga penghasilan mereka akan meningkat. 

Efek lain yang diharapkan adalah dengan meningkatkan penjualan maka NAMIA juga secara otomatis akan melakukan pemesanan besar demi menjaga stok atau ketersediaan barang sebagai antisipasi terhentinya produksi saat waktu panen padi dan palawija datang.

"Jika penjualan serta pemesanan bagus, maka penghasilan para pengrajin tenun lokal desa Ungga akan bertambah besar sehingga ada kemungkinan suatu saat mereka tidak akan menghentikan kegiatan menenun walau di musim panen sekalipun," jelas Maya.

Selain solusi itu, Ingrid Istami puteri Maya sekaligus pengelola NAMIA turut menambahkan bahwa mereka kerap juga melakukan pemesanan ke sentra tenun lokal lombok lainnya, salah satunya adalah ke desa Sukarare.

Motif klasik Rangrang dengan 3 warna dasar (bawah) dan Motif klasik Rangrang dengan permainan warna pastel yang memikat
Semua solusi tersebut diatas sudah mereka jalani dan sejauh ini berjalan dengan baik. Sehingga eksistensi Wastra Tenun Lombok khususnya dari sentra tenun desa Ungga lombok tengah bisa terus terjaga hingga kini.

Saat ditanya Cendana News terkait peran pemerintah baik daerah maupun pusat dalam mengangkat kreasi tenun desa Ungga, Maya dan Ami mengakui hal tersebut memang memberikan pengaruh positif bagi desa Ungga dalam mengembangkan diri menjadi salah satu sentra tenun lombok yang diperhitungkan. 

Akan tetapi bagi NAMIA dan para pengrajin yang tergabung didalamnya peran pemerintah baik berupa bantuan maupun bentuk lainnya dijadikan sebagai stimulan bagi mereka untuk lebih meningkatkan kemampuan berkreasi agar suatu saat bisa mandiri.

Salah satu peran pemerintah yang hingga kini selalu digunakan NAMIA beserta para pengrajin tenun desa Ungga adalah kesempatan untuk mengikuti acara-acara pameran seni budaya wastra tingkat nasional serta informasi-informasi dari pemerintah berupa peluang pasar kain tenun lainnya.

Tidak dapat dipungkiri, Wastra Tenun nusantara sekarang sudah mulai memasuki fase perambahan fashion modern berbasis tenun ke seluruh kota besar di Indonesia. Suatu saat nanti kain tenun dari berbagai daerah nusantara dapat merajai setiap kota dari sabang sampai merauke di Indonesia. Hal tersebut diyakini berimbas pada meningkatnya taraf hidup para pengrajin tenun di masing-masing daerah.

Disamping itu, para pelaku industri kreatif maupun rumah dagang lokal seperti NAMIA yang perduli kepada pengrajin lokal juga turut berkembang menjadi lebih besar ke arah industri fashion profesional berbasis wastra nusantara khususnya tenun. 

Desa Ungga, Lombok tengah Nusa Tenggara Barat sebenarnya memiliki segala potensi untuk mencuat menjadi sesuatu yang lebih besar dari impian mereka. Pertama, letak desa Ungga ada di jalur transportasi utama menuju Bandara Internasional Lombok (BIL). Kedua, desa Ungga memiliki tanah subur dengan hasil pertanian yang begitu bagus. Ketiga, desa Ungga memiliki sentra kerajinan perak dan mutiara yang sudah dikenal sampai ke mancanegara. Dan terakhir, para pengrajin tenun lokal desa Ungga bersama NAMIA sudah mengepakkan sayap mereka untuk meretas jalan menjadi sentra wastra tenun besar di lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Sudah ada potensi di beberapa sektor, dengan kerja keras serta pengelolaan yang baik maka tinggal menunggu waktu saja bagi mereka untuk terbang tinggi khususnya di dunia wastra tenun nusantara," pungkas Maya Dhamayanti.(Miechell Koagouw)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: