RABU, 14 SEPTEMBER 2016

MALANG --- Seringnya terjadi penyalahgunaan senapan angin untuk berburu mendapat sorotan tajam dari berbagai lembaga perlindungan satwa liar di berbagai daerah di Indonesia. Centre for Orangutan Protection (COP) merupakan salah satu dari 11 lembaga perlindungan satwa liar yang turut menyoroti penyalahgunaan senapan angin tersebut.


Rabu pagi mulai pukul 10.00-11.00 WIB lebih dari 10 orang aktivis COP menggelar kampanye di depan Balai Kota Malang. Dalam kampanye tersebut mereka menyerukan agar pengawasan terhadap penggunaan serta peredaran senapan angin agar bisa di perketat lagi.

"Sepanjang kurun waktu 2004 hingga bulan Agustus 2016, setidaknya sudah ada 23 kasus penembakan Orangutan dengan senapan angin. Dari kasus tersebut, sebagian Orangutan mengalami kondisi kritis, cacat permanen hingga mengalami kematian,"ungkap koordinator kampanye COP Malang, Nathanya Rizkiani kepada Cendana News, Rabu (14/9/2016).

Untuk kasus Orangutan, pemburu biasanya akan menembak induk untuk mendapatkan anaknya sebelum diperdagangkan. Ada juga ditemukan bayi Orangutan yang ditembak dengan senapan angin yang pelurunya tersebut itu sampai tembus dari bawah mata sampai ke tengkorak belakang.


Menurutnya, upaya konservasi satwa liar akan terhambat jika perburuan dan pembunuhan dengan senapan angin masih terus berlangsung. Oleh karena itu, dalam kampanyenya mereka menuntut agar kepolisian Republik Indonesia sebagai pemegang otoritas pengawasan peredaran senjata api dan senapan angin perlu memperketat. Selain itu mereka juga meminta penegak hukum untuk melakukan razia karena sudah banyak kasus penyalahgunaan senapan angin untuk berburu.

Ia juga mengatakan, sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2012 tentang pengawasan dan pengendalian senjata api untuk kepentingan olahraga. Dalam pasal 4 ayat 3 disebutkan bahwa senapan angin digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target, yang kemudian dilanjutkan di pasal 5 ayat 3 bahwa penggunaannya di lokasi pertandingan dan latihan.

"Dari pasal-pasal tersebut kami bisa mengambil kesimpulan bahwa senapan angin tidak boleh digunakan untuk berburu,"ucapnya.

Sementara itu ia juga menyampaikan bahwa aksi ini juga dilakukan oleh 10 lembaga perlindungan satwa liar lainnya serempak di sembilan kota lainnya (Aceh, Palembang, Pekanbaru, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, dan Palangkaraya). Disebutkan selain COP, sepuluh lembaga lainnya terdiri dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animal Indonesia, International Animal Rescue (IAR), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Information Centre (OIC), Orangutan Land Trust (OLT), With Compasion and Soul (WCS), Orangutan Outreach, Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ) dan Orangutan Veterinary Aid (OVAID).
[Agus Nurchaliq]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: