KAMIS, 1 SEPTEMBER 2016

LARANTUKA --- Sebanyak 15 rumah yang dibangun pemerintah melalui dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Flores Timur di Translok Lewokeda di Kecamatan Ile Boleng dibiarkan terlantar karena tidak ditempati warga.

Rumah di Translok Ile Boleng yang tidak ditempati warga.
Dari 40 rumah sederhana beratapkan seng dan berdinding bambu belah (Keneka) ini terlihat beberapa bagian dindingnya sudah mulai berlubang. Selain itu kaca jendelanya pun banyak yang lepas.

Kepada Cendana News yang menemuinya Rabu (31/8/2016) di lokasi pengungsian ini, Jais Lewokeda dan Lambertus Kopong Keda mengatakan rumah di Translok Ile Boleng ini dibangun tahun 2007.

Rumah yang dibangun dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Flores Timur ini sebut Jais tidak dilengkapi fasilitas seperti air dan listrik. Hal ini membuat warga harus menyediakannya sendiri.

Kapela, rumah ibadah umat Katolik yang dibangun secara swadaya oleh warga di lokasi Translok Ile Boleng.
“Mungkin karena tidak ada fasilitas jadi cuma 25 rumah saja yang ditempati karena warga yang lain mengungsi ke tempat lain usai terjadi konflik antar desa,” ujarnya.

Selain itu, untuk bersekolah saja lanjutnya, anak-anak TK dan SD harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer ke Desa Bedalewun Kecamatan Ile Boleng.

“Kami sudah usulkan bangun TK atau PAUD namun belum juga terealisasi apalagi bangun SD. Kasihan anak-anak kami harus jalan kaki setiap hari 6 kilometer,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Lambertus Kopong Keda. Dirinya mengaku kesal karena pemerintah terkesan masa bodoh dan membangun rumah berukuran 4X6 meter ini asal jadi saja, tidak sesuai standar.

“Ini aneh, bangun rumah transmigrasi tapi air dan listrik tidak ada,” ungkapnya kesal.

Padahal tiang listrik milik PLN kata Lambertus cuma berjarak 2 meter dari lokasi perumahan yang berada persis di samoing jalan raya trans Adonara. Bila fasilitas ini tersedia warga tentunya bersedia pindah.

Rumah di Translok Ile Boleng yang ditempati warga
Paparnya, warga juga secara swadaya membangun kapela atau rumah ibadah bagi umat Katolik secara swadaya. Warga mengumpulkan uang sebesar 9 juta rupiah dan memotong kayu di hutan untuk membuat pintu dan jendelanya.

“Semua kami kerjakan sendiri karena kami merasa senasib dan sependeritaan sehingga kami kompak mengerjakan semuanya secara swadaya tanpa berharap bantuan pemerintah,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News, hampir semua rumah di lokasi pengungsian ini, kaca jendelanya beberapa yang terlepas. Jalan di dalam lokasi relokasi seluas sekitar 5 hektar ini sudah disemen.

Rumah yang sudah ditempati warga semuanya sudah memasang listrik. Lokasi pengungsian juga sudah mulai terlihat teduh dimana pohon mangga dan beberapa pohon lainnya yang ditanami warga, tingginya sudah mencapai 3 sampai 5 meter.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: