SABTU, 3 SEPTEMBER 2016

PONOROGO --- Kurun waktu empat bulan terhitung dari Mei-Agustus 2016 sudah tercatat 176 warga Ponorogo terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD), meski pada bulan-bulan tersebut bukan musim penghujan. Hal tersebut menunjukkan bahwa nyamuk Aedes Aegypti tak lagi mengenal musim.


Asal ada air genangan meski hanya setinggi 5 cm, jentik nyamuk sudah dapat berkembang biak. Bahkan nyamuk ini mampu terbang sejauh 5 km sehingga tak jarang meski keadaan lingkungan rumah bersih belum tentu lingkungan tetangga atau bahkan yang dekat dengan areal persawahan masih berpotensi terkena penyakit DBD.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo, Rahayu Kusdarini menyebutkan, Rincian penderita DBD di Ponorogo bulan Mei sebanyak 78, bulan Juni sebanyak 23, bulan Juli sebanyak 61 dan bulan Agustus sebanyak 14. Dari data tersebut didapatkan DBD tak hanya menyerang saat musim penghujan saja namun juga bisa saat musim kemarau.

Dijelaskan, meski warga yang terjangkit mencapai ratusan orang, belum ada laporan meninggal.

"Belum ada laporan kalau warga yang terkena DBD sampai meninggal," jelasnya saat diwawancarai Cendana News melalui telepon, Sabtu (3/9/2016).

Rahayu sapaan akrab Rahayu Kusdarini bahkan membuat guyonan bahwa keberadaan nyamuk yang sekarang tak terdeteksi manusia harus terus belajar dan waspada.

"Bagaimana ritme kerja nyamuk dan dimana sarangnya, bagaimana antisipasinya dan seterusnya. Jadi kita harus selalu belajar," cakapnya.

Dan menjaga lingkungan agar selalu bersih harus berasal dari kesadaran warga. "Yang paling penting harus menjaga kebersihan lingkungan terutama saluran air jangan sampai menggenang," tandasnya.

Biasanya setelah adanya laporan warga yang terkena DBD, petugas kesehatan segera turun ke lapangan dan mengecek keadaan sekitar lingkungan tempat tinggal pasien.

"Dan hasilnya 90 persen akibat adanya air yang menggenang di sekitar rumah pasien," pungkasnya. 
[Charolin Pebrianti]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: