SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Bersamaan Hari Tani Nasional menjadi momentum tersendiri bagi Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pasalnya, Kabupaten yang berada di Lereng Gunung Lawu sisi barat ini didaulat menjadi salah satu Kabupaten yang menjadi Pencontohan Tanaman Organik di Indonesia. Setidaknya empat Kecamatan di Kabupaten ini telah ditunjukkan sebagai percontohan tanaman organik. 


“Kemarin Karanganyar telah ditunjukan dari Kementrian Desa ditunjuk menjadi salah satu percontohan tanaman organik. Di Indonesia yang menjadi percontohan tanaman organik ini tidak lebih dari 20 Kabupaten/Kota,” papar Bupati Karanganyar Juliatmono saat memberi sambutan dalam Pagelaran Jagat Tala, di Desa Pendem, Kecamatan Mojogedang, Jumat malam (23/9/16). 

Disebutkan Bupati, empat Kecamatan yang ditunjuk sebagai percontohan tanaman organik diantaranya, Kecamatan Matesih, Karangpandang, Mojogedang, dan Jenawi. Penggunaan pupuk organik itu, menurut Bupati selain lebih sehat, harga jual hasil pertanian jauh lebih tinggi disbanding dengan menggunakan pupuk kimia. 


“Satu kilo beras bapak-bapak atau ibu-ibu dihargai berapa? Paling banyak Rp 12 ribu. Berbeda jika dengan pupuk organik, berasnya kita kemas dengan baik dan harganya per kilogramnya sampai Rp 40 ribu,” jelasnya. 

Pemerintah Kabupaten Karanganyar melalui Dinas Pertanian telah melakukan pendataan terhadap petani di empat Kecamatan yang menjadi percontohan tanaman organik. Selama menjadi percontohan, Pemkab Karangnyar juga akan terus melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap petani. ‘Baik melalui Gapoktan ataupun melalui dinas terkait. Setelah berjalan sukses, diharapkan hasil pertanian organik Karanganyar  dapat dikenal masyarakat luas,” tandasnya. 

Sementara itu, salah satu petani di Desa Pendem, Mbah Paiman  menuturkan adanya kekhawatiran akan  pupuk kimia  yang diterapkan bidang pertanian.  Sebab, kesehatan manusia sebagian besar ditentuan oleh pola makan. 


“Kalau yang dimakan sehat banyak kemungkinan baik dan juga sehat. Tetapi kalau yang dimakan tidak sehat, ya menyebabkan tidak sehat juga,” ungkap Mbah Paiman. 

Sebagai Petani Kolot yang suduh bertani sejak 1950, hingga saat ini suah berapa banyak jumlah racun yang ditumpahkan di lahan pertanian Indonesia. Sebagai petani yang sudah merasakan 50 tahun lebih, banyak makanan yang sudah tidak sehat lagi. Tak heran jika saat ini banyak masyarakat yang mudah sakit karena makanan yang dikonsumsinya tidak sehat.

“Yang diderita masyarakat sekarang banyak yang kencing batu, ginjal membatu, pembuluh darah tersumbat batu, saraf tersumbat batu. Padahal jaman batu waktu dahulu adalah manusia menggunakan alat kerja memakai batu, saat ini menjadi jaman batu modern, karena batu menjadi penyakit. Mudah-mudahan kekhawatiran itu salah,” pungkas Mbah Paiman. 
(Harun Alrosid)  
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: