SENIN, 26 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Warga pra sejahtera berdasarkan pendataan dari Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia di wilayah Desa Bagelen Kecamatan Gedong Tataan mulai menerima penyaluran sebanyak 4725 kg beras sejahtera (Rastra) yang sebelumnya disebut dengan beras untuk rakyat miskin (Raskin). Penyaluran rastra tersebut merupakan peruntukan untuk warga pra sejahtera yang ada di wilayah sasaran untuk membantu perekonomian masyarakat terutama untuk kebutuhan pangan berupa beras.


Penyaluran Rastra tersebut menurut Kepala Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan merupakan kelanjutan dari program rastra tahap sebelumnya. Ia mengaku beras yang diperuntukkan bagi masyarakat yang tinggal di desanya sudah didistribusikan  dari Bulog sejak Minggu (25/9) dan akan segera didistribusikan melalui masing masing ketua RW dan selanjutnya ketua RT akan memberitahukan kepada warga untuk mengambil di rumah kepala RW.

“Pemberian rastra sudah sesuai prosedur dan distribusi langsung dilakukan oleh pihak Bulog selanjutnya akan dibagikan kepada warga yang berhak memperolehnya,”ungkap Totok Pujiono kepada Cendana News terkait pendistribusian rastra tersebut, Senin (26/9/2016).

Berdasarkan data yang ada di kantor desa saat ini  warga yang mendapat jatah Rastra di Desa Bagelen seluruhnya berjumlah 1.180 kepala keluarga (KK) atau rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM). Jumlah warga sebanyak tersebut mendapat pembagian rastra dengan jatah satu KK mendapat sekitar empat kilogram beras yang dibagikan secara merata tanpa pengecualian.

Ditambahkannya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) warga miskin yang ada di Desa Bagelen hanya berjumlah sekitar 315 KK yang mendapat jatah Rastra. Namun, data tersebut tidak akurat, karena masih ada masyarakat yang membutuhkan Rastra itu.

“Kalau didata yang ada, belum bisa mengakomodir warga pra sejahtera di desa ini, jadi kami berdiskusi dengan warga penerima Rastra agar saling berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Dijelaskannya, setelah mengadakan musyawarah dengan warga penerima Rastra, kemudian, warga setuju apabila Rastra tersebut dibagikan kepada masyarakat lain yang lebih membutuhkan.

“Hasil musyawarah dengan warga, kita menemukan solusi, saling berbagi, jadi jatah per KK, empat kilo dari jatah yang semestinya lima belas kilogram,” jelasnya.

Ia pun menerangkan, bahwa selama ini jatah Rastra itu, sebenarnya sudah sering disalurkan, namun lantaran adanya keluhan masyarakat yang memang kondisi ekonominya kurang mampu justru tidak mendapatkannya, maka musyawarah pun dilakukan. Kebijaksanaan pembagian Rastra tersebut merupakan kesepakatan dan kebijaksanaan dari masyarakat yang melihat warga lain tidak memperoleh jatah.

“Proses pembagian Rastra sudah  sesuai data yang ada, tapi itu lama-kelamaan menimbulkan kecemburuan sosial, karena yang dapat itu kondisi ekonominya lebih baik daripada yang tidak menerima. Makanya, kalau kita bagikan sesuai dengan data itu bisa menjadi polemik dimasyarakat,” ungkapnya.


Meski demikian sejauh ini tidak ada respon negatif terkait kebijaksanaan tersebut karena sebagai kepala desa dirinya berharap semua warga pra sejahtera yang ada di wilayahnya memperoleh. Namun ia memuji langkah positif warga yang ikhlas agar beras jatah yang diterima berkurang agar warga lain juga menerima.

Ia juga mengajak semua pihak terutama setiap aparat desa untuk bisa membantu proses penyaluran Rastra tersebut. Selain berharap proses pendistribusian raskin tersebut lancar ia berharap proses penebusan Raskin bisa dilakukan lebih lancar agar proses penyaluran pada tahap selanjutnya.
[Henk Widi]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: