SELASA, 27 SEPTEMBER 2016

MALANG --- Di Negara kita, istilah literasi baru muncul sekitar dua tahun yang lalu dan mulai banyak di perbincangkan setelah Anies Baswedan saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Salah satu kegiatan GLS yang kini sudah dilakukan adalah kegiatan membaca 15 menit membaca buku non-pelajaran sebelum waktu belajar resmi untuk menumbuhkan minat baca siswa. 


Hal tersebut disampaikan Ahmadun Yosi Herfanda, sebagai ketua lembaga literasi Indonesia di hadapan para peserta seminar nasional di Universitas Negeri Malang (UM), Senin (26/9/2016). Menurutnya, gerakan literasi menjadi penting, mengingat peringkat literasi bangsa Indonesia berada di urutan ke-2 dari bawah. 

"Berdasarkan jurnal pemeringkatan literasi internasional, The World's Most Literate Nation Ranked, Indonesia berada pada urutan ke-60 dari total 61 negara, hanya satu tingkat di atas Bostwana dan kalah jauh dari Singapura yang berada di peringkat 36 dan Malaysia peringkat 53" ungkapnya. 

Namun anehnya, fakta tersebut berbanding terbalik dengan semangat Indonesia dalam membangun perpustakaan yang jika di rangking Indonesia menempati urutan 36 mengungguli Malaysia dan Singapura yang berada di peringkat 44 dan 59, tandasnya.

Menurutnya, hal tersebut dapat terjadi karena secara umum minat baca orang Indonesia rata-rata masih rendah sehingga pengunjung perpustakaan sepi.

"Berdasarkan penelitian dari UNESCO pada tahun 2014, indeks tingkat membaca  orang Indonesia hanya 0,001. Yang berarti, dari 1.000 penduduk Indonesia, hanya satu orang saja yang mau membaca buku dengan serius" jelasnya.

Ironisnya, data tersebut juga berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang pada tahun 2014 mencapai 88,1 juta orang. Angka pengguna internet tersebut terus meningkat hingga sekarang, sedangkan minat pembaca buku malah merosot.

Melihat fakta tersebut, Yosi berpendapat bahwa adanya gerakan literasi sekolah yang dimulai dengan gerakan gemar membaca dan tulis menjadi sangat penting agar minat baca siswa tumbuh dengan baik sehingga nantinya minat baca masyarakat dapat meningkat pesat dan kemudian dapat meningkatkan peringkat literasi Indonesia di kancah Internasional.
(Agus Nurchaliq)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: