SENIN, 5 SEPTEMBER 2016

ENDE --- Potensi pariwisata di desa-desa yang berdekatan dengan danau Kelimutu yang mendunia belum banyak dikembangkan. Banyak wisatawan yang hanya mengangumi keindahan danau 3 warna Kelimutu saja dan pulang. Peluang ini yang coba ditangkap desa Waturaka kecamatan Kelimutu kabupaten Sikka. Beberpa potensi Wisata pun dikembangkan di desa ini guna menarik wisatawan.


Saat ditemui Cendana News di desa Waturaka  Senin (5/9/2016) kepala desa Waturaka Aloyisius Jira Loi banyak bercerita tentang Waturakan. Awalnya air terjun Murukeba di desanya belum dikelola dengan maksimal. Namun sejak ada pendampingan dari LSM Swiss Contact, warga desa mulai sadar untuk mengembangkannya.

“Kami mempunyai upaya, prinsip saya pemerintah desa dan kabupaten hanya menyediakan uang tapi yang penting masyarakat diberdayakan,” ujarnya.

Air terjun Murukeba sebutnya merupakan rangkaian dari pengembangan Eco Wisata. Selain wisata ke air terjun, wisatawan juga bisa menikmati pemandian air panas Kolorongo yang masih perawan dan berada di tengah sawah,agro wisata serta menyaksikan pentas seni budaya.

Melewati Sabana

Untuk menggapai air terjun Murukeba, wisatawan harus berjalan kaki. Dari jalan raya Kelimutu, wisatawan dipaksa meniti anak tangga hingga ke pos pennjagaan sejauh 100 meter, menanjak dengan kemiringan 45 derajat.

Tangga disusun dari batu-batu alam berbentuk pipih dan di kanannya terdapat pagar bambu sebagi pegangan yang dsambung menggunakan ijuk. Kedua sisi jalan merupakan kebun tomat dan sayuran yang ditanam usai memanen padi. Tantangan awal yang perlu dilewati. Tercatat ada 56 anak tangga hingga menuju pondok penjagaan berbentuk sederhana berdinding bambu dan beratap bambu belah.

Setelah membayar tiket masuk seharga 2.500 rupiah bagi wisatawan nusantara dan 5 ribu rupiah bagi wisatawan asing, perjalanan pun bisa dilanjutkan dengan menyusuri selokan air sejauh sekitar 200 meter hingga tikungan ke selatan.


Florida Higi wanita penjaga pos masuk mengatakan, tiap hari ada saja wisatawan yang datang. Paling banyak wisatawan lokal, bisa sampai 50 orang kalau hari biasa sementara turis asing paling cuma 5 orang saja sehari.

“Semalam ada 6 orang dari Jawa dan mereka membuat tenda dan menginap di air terjun karena besok subuh mereka akan ke danau Kelimutu,” tuturnya.

Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Mata terpana saat menyaksikan sebuah padang rumput di tanah rata seluas sekitar 1 hektar dan belasan ekor sapi terlihat sedang merumput di tempat ini.

Beberapa pengujung terlihat beristirahat sejenak di bawah pohon sambil mengabadikan keindahan sabana dengan latar belakang perbukitan. Jalan setapak berikutnya membelah hutan dan kebun kopi.

Terdapat dua buah jembatan bambu sepanjang sekitar 3 meter yang harus dilewati dimana dibahwanya mengalir air yang berasal dari air terjun. Hanya beberapa buah batu berukuran besar di sepanjang jalan setapak.

Bebas Sampah

Lokasi air terjun Murukeba berada merupakan sebuah tanah lapang seluas sekitar 20 meter persegi. Air terjun mengalir dari tebing setinggi 100 meter. Sebelum menyentuh tanah, air jatuh menimpa batu cadas yang tingginya 10 meter dari tanah.

Kiri kanan air terjun merupakan hutan yang dipenuhi pepohonan dan tanaman air yang lebat dan tampak hijau. Tak ada sampah yang berserakan di tempat ini. Pihak desa selaku pengelola menyediakan beberapa karung platik yang di gantung di tiang kayu untuk tempat sampah.

Juga terdapat beberapa kayu pamjang yang diletakan di atas batu-batu yang dipergunakan sebagai tempat duduk bagi wisatawan. Pengunjung pun diperbolehkan mandi di tempat ini namun jangan merusak susunan batu yang ditata.


“Kami selalu berupaya sesuai kemampuan kami untuk mengelola berbagai tempat wisata. Pemahaman warga memang masih kurang di bidang pariwisata, namun kami selalu berupaya dan yang terpenting kebersihan areal wisata harus terjaga,” terang kades Jira Loi.

Air terjun dibiarkan mengalir melewati bebatuan membelah hutan hingga ke areal persawahan milik warga di sekitar jalan raya Kelimutu. Saat berada di air terjun,pengunjung pun bisa mendegar kicauan berbagai jenis burung.

Saat melintas jalan pulang di sekitar kebun kopi, terlihat beberapa monyet sedang memakan buah kopi dan bergantungan di atas dahan beberapa pohon di sekitar kebun kopi.

Nando Watu pendamping kelompok di desa ini mengakui pihaknya menekankan kepada masyarakat agar memperhatikan sampah dan jangan membuang sampah sembarangan khususnya di daerah pariwisata.

Hal ini sebutnya membuat pihaknya meletakan karung sampah dan tempat sampah di lokasi air terjun. Setiap hari warga yang bertugas menjaga lokasi ini berkeliling membersihkan sampah plastik di jalan maupun di lokasi air terjun.
[Ebed De Rosary]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: