SENIN, 19 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Cuaca tidak tentu yang masih terus berlangsung sangat dirasakan dampaknya oleh petani cabe merah keriting di wilayah Pakem, Sleman. Hujan dan panas yang bergantian secara mendadak membuat cabe yang siap panen justru membusuk.

Mardihartono memetik cabe
Dampak merugikan dari cuaca tak tentu salah satunya dialami oleh Mardihartono (77), petani cabe Dusun Turgosari, Harjobinangun, Pakem, Sleman. Mbah Mardi, demikian ia disapa, saat ditemui Senin (19/9/2016) mengaku akibat cuaca tidak tentu hasil panen cabenya menurun lebih dari 50 Persen.

Dari luas lahan 3.000 meterpersegi, pada petikan keenam ini Mbah Mardi hanya mendapatkan cabe sebanyak 75 Kilogram. Sangat jauh dari hasil panen tahun kemarin ketika cuaca baik yang bisa menghasilkan 2,5-3 Kwintal.

Menurut Mbah Mardi, akibat seringnya terjadi hujan dan panas ekstrim yang kerap berulang membuat cabe yang sedianya dalam sehari atau dua hari ke depan dipetik tiba-tiba busuk. Karenanya, Mbah Mardi terpaksa memetiknya lebih cepat, dan menyendirikan cabe-cabe yang setengah busuk itu dalam sebuah wadah tersendiri.

Mardihartono menunjukkan cabe yang busuk akibat cuaca tak tentu
Selain hasil panen yang menurun, Mbah Mardi juga masih dipusingkan dengan harga jual cabe yang pada setiap pekan mengalami penurunan. Menurut Mbah Mardi, sejak hari raya kurban kemarin harga jual cabe terus merosot dari Rp. 35.000 Per Kilogram menjadi Rp. 30.000, Rp. 25.000 dan terakhir menjual pekan kemarin harga jual semakin turun menjadi Rp. 23.000 Per Kilogram.

Mbah Mardi mengatakan, meski banyak cabe yang mengalami busuk akibat cuaca tidak tentu, namun secara umum hasil panen cabe kali ini dinilainya tergolong bagus. Karenanya, Mbah Mardi mengaku heran harga jualnya justru terus menurun.

Namun demikian, Mbah Mardi pun juga masih merasa beruntung, karena cabe-cabe yang membusuk masih bisa dijual untuk dikeringkan dan dibuat sambal. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: