JUMAT, 23 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Panen buah semangka di wilayah Kecamatan Sragi pada musim tanam semester kedua tahun ini mulai dinikmati oleh para petani semangka dan pedagang pengecer buah semangka yang ada di Kecamatan Sragi dan Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan. Beberapa pedagang pengecer di jalan lintas Palas ikut menikmati hasil panen raya semangka yang mulai banyak dilakukan oleh petani di wilayah tersebut. Membanjirnya panen buah semangka di wilayah tersebut bahkan membuat buah berwarna hijau dengan warna merah di dalamnya tersebut banyak dijual keluar Pulau Sumatera.


Salah satu pedagang pengecer di jalan raya Palas Aji,Sabihis Gunawan (30) mengaku sudah berjualan semangka sekitar 10 tahun dan menekuni bisnis tersebut sejak pertanian semangka gencar dilakukan sebagai alternatif masyarakat petani yang rata-rata memiliki lahan sawah. Sebagai pedagang semangka Sahibis bahkan mengaku berjualan sebanyak 20 ton buah semangka berbagai jenis diantaranya semangka madu atau dikenal dengan semangka inul,semangka biji serta semangka tanpa biji dengan harga bervariasi. Jumlah yang cukup banyak tersebut selain dijual secara langsung di warung miliknya juga dijual kepada para pedagang pengecer lain.

“Saya melayani pembelian buah semangka terutama bagi pedagang pengecer lain dengan harapan usaha ini mengalami perputaran meski untung sedikit tapi saya bisa memberi hasil bagi pedagang keliling” ungkap Sahibis saat ditemui Cendana News di gerai penjualan buah semangka miliknya di Desa Palas Aji Kecamatan Palas,Jumat (23/9/2016)

Untung sedikit namun mampu membantu perputaran modal diakuinya banyak dibantu oleh para tukang buah keliling,penjual buah jenis petisan, serta penjual buah yang memiliki lapak lapak buah di pasar atau pinggir jalan. Stok yang cukup banyak kadang disediakan untuk pelanggan yang akan menjual semangka tersebut dan harga dipatok berbeda dibandingkan dengan harga semangka yang akan langsung dikonsumsi.

Lelaki yang menekuni usaha agro bisnis tersebut menerangkan saat ini harga buah semangka di tingkat pengecer mencapai Rp4.000,- perkilogram untuk jenis semanga biji,sementara semangka jenis madu dihargai Rp5.000,- perkilogram dengan rata rata buah yang dijualnya memiliki bobot timbangan sebesar minimal 2 kilogram. Harga tersebut menurutnya merupakan harga konsumen sementara hara yang dijual kepada pedagang keliling akan lebih murah menyesuaikan dengan jumlah pembelian sebab ia mengakui bisnis buah terutama semangka tergantung dari tingkat hasil pertanian petani semangka.


“Jika petani sedang banjir mereka mengirim pada kita dan menyerahkan nota saja baru nanti kalau sudah terjual kita bisa membayarnya namun kadang hasil sedang sedikit harganya menjadi mahal dari tingkat petani,” ungkapnya.

Harga yang kadang berubah sewaktu waktu tersebut diakui oleh Sahibis justru lebih dominan banyak terjadi penurunan sementara kenaikan jarang terjadi di tingkat petani sebab jika terjadi kenaikan para pedagang akan kesulitan memasarkan hasil pertanian buah berasa manis tersebut. Meski demikian dari hasil bisnisnya ia mulai mampu membeli sebuah kendaraan mobil yang digunakan sebagai sarana angkut dari lahan petani ke gerai miliknya atau dijual ke sejumlah pasar.

Pasokan buah semangka yang dijadikan lahan bisnis bagi Sahibis dan pedagang buah lainnya pada musim panen kali ini diakuinya justru banyak dipasok dari wilayah kabupaten lain meski sebagian buah semangka diperoleh dari petani lokal di Kecamatan Palas dan Kecamatan Sragi dan Kecamatan Sidomulyo. Cuaca yang bagus bagi para petani semangka dengan curah hujan sedikit namun masih bisa mencari sumber air dengan sistem bor membuat lahan pertanian semangka bisa tetap menghasilkan dan mulai membanjiri pasar lokal saat musim panen.

Salah satu petani yang memanfaatkan usaha pertanian semangka sebagai usaha yang   menjanjikan diantaranya dilakukan oleh Doni (45) laki laki asal Sleman Yogyakarta yang hijrah ke Lampung untuk mencari lahan pertanian meskipun dengan sistem sewa.

Doni menyebutkan, bagi dirinya menjadi petani merupakan pekerjaan yang sudah mantap ditekuninya. Meski profesi petani tak dilanjutkan oleh beberapa anaknya, hanya dua orang puteranya yang mengikuti jejaknya menjadi petani dan meneruskan usaha yang sekarang ditekuninya.

"Disamping lahan semakin sedikit, sejak kecil anak-anak sekarang memang diajari untuk menjadi pegawai kantoran, pegawai negeri sehingga akan susah untuk mengajak menjadi petani," ungkap Doni.

Doni mengaku hanya memiliki sawah serta ladang sendiri seluas dua hektar di wilayah Bandarjaya Lampung Tengah yang diolahnya menjadi lahan pertanian. Keterbatasan lahan yang ada tak menyurutkannya untuk melihat peluang wilayah yang masih bisa digunakan untuk melakukan usaha menanam buah semangka. Ia bahkan mengontrak rumah berikut lahan pertanian seluas dua hektar dengan sistem sewa sebesar Rp.3juta untuk per hektar.

"Pemilik lahan tak berani menyewakan tanah dengan waktu lama melainkan berdasarkan usia buah semangka, sebab sambil menunggu musim hujan petani menyewakan lahan untuk pertanian buah semangka," ungkap Doni.

Masa tanam buah Semangka menurut Doni bisa dipanen setelah memasuki bulan kedua, ia mengaku sudah menyewa lahan di Desa Napal Kecamatan Sidomulyo hampir selama dua tahun. Musim kemarau panjang membuat petani pemilik lahan tak menggarap dan menyewakan lahan tersebut kepadanya. Selama dua tahun tersebut Doni mengaku mengajak anak anaknya yang masih muda untuk membantu proses penanaman hingga pemasaran.

Ia mengaku menanam semangka jenis non biji serta semangka biji. Menanam semangka yang dilakukan sejak tahun 1992 sejak di Yogyakarta menurut Doni dilakukan meskipun membutuhkan modal sekitar Rp20juta-Rp24juta sekali masa panen. Modal tersebut dihitung berdasarkan biaya operasional pengolahan, perawatan, hingga pemasaran. Keuntungan yang ia peroleh digunakan untuk menyewa lahan serta untuk tabungan.

Modal yang cukup besar dan lahan bukan milik sendiri membuat Doni kadang mengalami kerugian. Kerugian tersebut tak menyurutkan niatnya untuk menularkan manisnya buah semangka kepada anak anaknya bahkan kepada pemuda pemuda desa yang tinggal di wilayah tempatnya menyewa lahan.

"Saya banyak mengajarkan teknik budidaya semangka yang baik sehingga beberapa pemuda banyak belajar kepada saya, mulai dari penanaman hingga pangsa pasar, banyak pemuda yang akhirnya ikut jejak saya," ungkap Doni.

Doni bahkan mengaku pernah mengalami kerugian hingga puluhan juta karena salah perhitungan musim. Saat kemarau panjang ia mengaku hasil semangka yang ditanamnya cukup bagus dengan hasil penjualan menjanjikan namun terkadang mendekati musim hujan banyak semangka yang ditanamnya busuk. Harga Rp3.000,- perkilogram semangka miliknya terkadang dibeli dengan harga Rp2.500,- perkilogram oleh para pedagang keliling.

"Jika harga sedang bagus saya kirim semangka ke Jakarta dan banyaknya permintaan di pasar lokal juga tetap saya penuhi karena semakin cepat laku saya lebih cepat mengembalikan modal," ungkapnya.


Beberapa pemuda yang semula enggan menjadi petani, berkat pengalaman Doni selama hampir belasan tahun menjadi petani semangka merangsang pemuda pemuda di Sidomulyo untuk melakukan usaha pertanian. Beberapa bahkan menanam cabai, tomat serta tanaman lain. Bahkan beberapa ikut mengikuti jejaknya menanam semangka setelah mengetahui manisnya berbisnis semangka.

Selain memberi dampak positif bagi pemuda yang ingin menekuni usaha pertanian, beberapa pemuda yang selama ini menjadi pengangguran merupakan ujung tombak untuk pemasaran buah semangka miliknya. Semangka yang sudah dipanen sebagian bahkan habis terbeli oleh pedagang keliling menggunakan kendaraan motor.

"Mereka daripada menganggur berjualan semangka keliling dan saya kasih harga miring agar mereka juga memperoleh keuntungan, intinya saling membantu," ungkap Doni.

Doni mengaku meski saat ini lahan pertanian semakin sempit, namun ia percaya jika pola pertanian intensif dilakukan maka akan memberikan keuntungan. Pola intensif tersebut dilakukan mulai dari pengolahan lahan, perawatan serta paska panen yang benar sehingga produksi pertanian bisa meningkat. Ia berharap pemuda pemuda mau menjadi petani dan mengolah lahan pertanian dengan menggunakan teknologi yang lebih baik.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: