JUMAT, 23 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Berada jauh di pedalaman dengan infrastruktur pendukung yang belum memadai diantaranya akses jalan yang sulit, fasilitas penerangan masih menggunakan listrik tenaga surya yang hanya bisa digunakan beberapa jam tidak menyurutkan pelayanan bagi para pengerja di wilayah tersebut. 


Beberapa pendeta atau pemuka umat dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) bahkan bersedia ditempatkan di wilayah terpencil jauh dari ibukota kecamatan dengan jarak tempuh sekitar 60 kilometer. Kegigihan para hamba Tuhan tersebut bahkan ditunjukkan dengan memberi pelayanan bagi umat Kristiani yang ada di pedalaman dan berprofesi sebagai pekebun dan petani di dekat hutan kawasan tampang dan belimbing (tambling).

Keterbatasan umat Kristiani yang ada di wilayah pesisir Selatan Samudera Indonesia tersebut mendorong sejumlah sukarelawan memberikan bantuan untuk meringankan beban umat dan memberikan fasilitas penunjang untuk umat yang ada di wilayah terpencil. Sukarelawan dari Yayasan Transformasi Bangsa di Tangerang bahkan rela melakukan kunjungan ke sejumlah gereja terpencil di Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Pesisir Barat dan Kabupaten Tanggamus Lampung untuk memberikan bantuan berupa alat musik, buku buku tulis, alat tulis, buku bacaan, makanan ringan dan kitab suci umat Kristiani berupa Alkitab.

Salah satu sukarelawan, Hindarso Susianto mengungkapkan umat Kristiani di beberapa wilayah yang dikunjunginya merupakan umat Kristiani yang tinggal di wilayah tersebut selama bertahun tahun. Meski demikian kondisi keluarga dan umat yang ada di wilayah tersebut masih sangat memerlukan uluran tangan dari donatur dan bantuan fasilitas untuk semakin menumbuhkan iman mereka.

"Kami melihat kebutuhan umat dengan melakukan komunikasi terlebih dahulu hal hal apa yang dibutuhkan untuk membantu aktifitas mereka dalam beribadah dan tentunya keperluan mereka sehari hari terutama bagi anak anak mereka yang masih sekolah,"ungkap Hindarso Susianto saat berbincang dengan Cendana News, Jumat (23/9/2016).

Hindarso mengaku bantuan dari donatur yang dikumpulkan tersebut merupakan bentuk kepedulian umat Kristiani yang tinggal di kota besar dan diberikan kepada umat Kristiani di tempat terpencil tanpa memandang denominasinya. Ia mengaku meski berbeda denominasi namun tidak menimbulkan perbedaan untuk semakin mendekatkan diri dengan pencipta melalui ibadah. Selain tinggal di sejumlah tempat yang terpencil dan jauh dari infrastruktur yang layak, sejumlah gereja bahkan masih beralaskan tanah, beratapkan asbes dan dengan hanya memiliki umat yang sedikit. Meski demikian kepercayaan umat Kristiani di wilayah tersebut untuk tetap beribadah membuat sejumlah donatur tergerak untuk memberikan bantuan pelengkap sarana ibadah.

Salah satu bantuan berupa alat musik organ diakui Hindarso setelah sebelumnya para sukarelawan juga memberikan bantuan berupa alat musik jenis gitar. Alat musik yang digunakan sebagai bagian dari pelayanan gereja Kristiani di wilayah terpencil tersebut diharapkan bisa membantu umat semakin khusuk dalam beribadah. Selain alat musik, sejumlah anak anak yang membutuhkan buku buku pelajaran dan alat tulis yang masih duduk di bangku sekolah tak luput dari kepedulian donatur dengan bantuan yang disalurkan para sukarelawan.

Para sukarelawan yang biasa tinggal di kota bahkan rela membaur dengan masyarakat di tempat yang dikunjungi diantaranya dengan menempuh perjalanan yang sulit melewati beberapa kawasan hutan dengan akses yang sulit. Tinggal bersama warga sekitar dan melihat kondisi terkini umat yang ada di wilayah terpencil untuk bisa memberikan bantuan yang diperlukan bagi umat di wilayah tersebut. Sebelumnya sukarelawan juga memberikan bantuan berupa seperangkat alat listrik tenaga surya untuk membantu umat dalam menyediakan kebutuhan listrik khususnya untuk keperluan ibadah diantaranya menghidupkan musik organ.


Salah satu pendeta di wilayah terpencil, Petrus Salosa, mengaku ia sangat bersyukur mendapat bantuan Alkitab serta bantuan alat musik lain terutama bantuan diberikan justru oleh umat dari denominasi lain. Ia mengaku meski berbeda namun ia mengaku kebersamaan dan persatuan tetap dijaga dengan harapan bahwa ibadah yang dilakukan semata mata untuk memuji dan memuliakan Tuhan Yang Maha Esa. Meski dengan keterbatasan tempat ibadah yang seadanya ia mengaku tetap mengajak umat bertahan dalam keterbatasan sambil tetap bersyukur menjadi umat Kristiani yang tinggal di tempat terpencil.
[Henk Widi]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: