SENIN, 19 SEPTEMBER 2016

MATARAM --- Berdasarkan data Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia, masih banyak ditemukan masyarakat terutama yayasan dan lembaga pendidikan yang menampung tunanetra kekurangan Al-Qur'an braille.


"Masih terdapat sekitar satu juta delapan ratusan ribu orang atau masyarakat penyandang tunanetra yang membutuhkan Al-Qur'an braille di Indonesia," kata Ketua Gerakan Nasional Wakaf Qur'an Braille Digital Indonesia (QBDI), Arief Pribadi di Mataram, Senin (19/9/2016).

Disebutkan, Yayasan QBDI berusaha bekerja sama dengan para kepala daerah di seluruh Indonesia termasuk Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memenuhi kebutuhan Al-qur'an braille bagi kaum tunanetra.

Dalam gerakan wakaf tersebut, Yayasan QBDI memiliki target untuk mengumpulkan 10 ribu Wakaf Qur'an Braille Digital dari seluruh Indonesia, bahkan kalau bisa lebih banyak lagi.

"Alhamdulillah saat ini kita sudah mengumpulkan sekitar empat ribu dari berbagai wilayah di Indonesia, dengan melibatkan ribuan tunanetra,” ujarnya.

Menurutnya, mushaf braille digital ini telah disahkan dan dibenarkan, serta merupakan mushaf braile digital pertama di Indonesia.

Gubernur NTB, Zainul Majdi mengaku bangga dengan gerakan wakaf nasional yang dilakukan Yayasan QBDI sebagai gerakan sosial yang sangat mulia, membantu kaum tunanetra agar bisa membaca dan memahami Al-Qur'an dengan lebih praktis.

“Sesungguhnya jika mereka memiliki kesempatan untuk membaca alquran, maka tidak menutup kemungkinan para kaum tunanetra bisa menjadi penghafal Al-Qur'an,” ujarnya.

Lebih lanjut Majdi menyampaikan kesiapan NTB menjadi tuan rumah bagi acara Gerakan 10.000 Wakaf Qur'an Braille Digital seluruh Indonesia, karena ini adalah langkah nyata dalam membantu kaum tunanetra yang selama ini kurang mendapat perhatian.
[Turmuzi]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: