RABU, 21 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Dua Kelompok Ternak di Kabupaten Kulonprogo menerima bantuan dana dari Kementerian Pertanian untuk pembangunan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), masing-masing senilai Rp. 275 Juta. Penyerahan dilakukan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Soeharto, disaksikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo serta sejumlah muspika setempat.

Titiek Hediati Soeharto bersama Kadinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo, Sudarna dan penerima bantuan UPPO
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Soeharto, pekan ini kembali menyalurkan bantuan dana program UPPO kepada dua kelompok ternak di Kulonprogo. Penyerahan bantuan dilangsungkan secara simbolis di komplek kandang ternak sapi Kelompok Ternak Sapi Ngudi Makmur Dusun Bendungan Lor, Bendungan, Wates, Kulonprogo. 

Dalam sambutannya, Titiek Soeharto mengatakan, program UPPO merupakan upaya Pemerintah mendukung petani dalam membangun kemandirian pupuk organik. Melalui program UPPO, Pemerintah memberikan bantuan dana untuk membangun rumah kompos, alat pengolah pupuk organik, kendaraan roda tiga sebagai sarana angkutan, dan bangunan kandang ternak komunal. Pengembangan UPPO, kata Titiek, dipandang penting untuk memperbaiki struktur tanah dengan penggunaan pupuk organik.

Penyerahan bantuan UPPO
Melalui program bantuan UPPO pula, lanjut Titiek, Pemerintah memfasilitasi petani untuk bisa menggunakan pupuk organik secara optimal. Dengan UPPO, katanya, petani bisa memiliki fasilitas terpadu pengolahan bahan organik seperti jerami, sisa tanaman, limbah ternak dan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk organik, mengoptimalkan pemanfaatan limbah kotoran hewan sebagai bahan baku kompos, dan menyediakan kebutuhan pupuk organik bagi para petani secara mandiri dan meningkatkan populasi ternak serta membuka lapangan usaha di pedesaan.

“Berbagai bantuan yang ada tersebut, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara langsung. Saya titip kepada kelompok-kelompok yang telah mendapatkan bantuan, agar bisa memanfaatkan sebaik-baiknya berbagai bantuan itu, agar bisa meningkatkan kesejahteraan anggota, khususnya, dan masyarakat di sekitarnya pada umumnya. Tentu tidak semua bisa memperoleh berbagai bantuan Pemerintah, karena keterbatasan dana dan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi” ujar Titiek.

Subarman, Ketua Kelompok Ternak Ngudi Makmur
Sementara itu, Ketua Kelompok Ternak Sapi Ngudi Makmur, Subarman (41), mengaku sudah lama menginginkan adanya fasilitas Unit Pengolah Pupuk Organik tersebut. Pasalnya, kelompok ternaknya yang terdiri dari 30 orang itu selama ini seringkali menghadapi kendala keterbatasan pakan di saat musim kemarau panjang. Kelompok Ternak Sapi Ngudi Makmur, katanya, selama ini menanam sendiri rumput kolonjono sebagai pakan sapinya. Namun, di saat musim kemarau seringkali tanaman rumput kolonjono tidak bisa berkembang dengan cepat. Selain itu, keterbatasan lahan juga menjadi kendala dalam meningkatkan sumber pakan.

Kelompok Ternak Ngudi Makmur, selama ini mengembangkan sapi jenis limosin dan PO untuk dijual anakannya. Saat ini, ada 59 ekor sapi terdiri dari 53 indukan dan sisanya merupakan anakan yang sebantar lagi siap dijual. Subarman mengatakan, anakan sapi biasa dijual pada usia 4-5 bulan dengan harga jual untuk sapi betina sebesar Rp. 8 Juta dan sapi jantan sebesar Rp. 12 Juta. Dengan menjual anakan sapi tersebut, Subarman mengaku bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp. 10-12 Juta Per Tahun. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: