SABTU, 17 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Masyarakat nelayan di pesisir pantai Timur Lampung masih mempertahankan hutan mangrove yang digunakan sebagai tempat mencari ikan dan menjadi habitat burung burung penghuni kawasan pantai. Hutan mangrove atau hutan bakau yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai di wilayah pantai Timur masih dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Akibatnya warga masih menggantungkan hidup dengan cara memasang jaring, membuat keramba dan memancing di sekitar hutan bakau seperti dilakukan nelayan tangkap di Muara Piluk Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung.


Menurut Subandi (40) warga Muara Piluk, warga masih mempertahankan hutan bakau terutama di muara muara sungai dan sebagian di lahan masyarakat yang berbatasan dengan pesisir pantai karena mempertahankan bakau merupakan upaya mempertahankan habitat ikan.

Hutan bakau menurut  Subandi tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik dan tumbuh secara alami. Sementara sebagian ditanam secara sengaja oleh masyarakat sebagai penahan abrasi dan terjangan angin dan ombak laut.

“Kalau dihitung luasnya mencapai ratusan hektar tapi setelah banyak perusahaan masuk sebagian sudah ditebang dan dilakukan reklamasi namun beruntung masih ada yang dipertahankan,”terang Subandi saat ditemui Cendana News sedang mencari ikan menggunakan jaring di sekitar hutan Bakau Muara Piluk, Sabtu (17/9/2016).

Hutan bakau yang membentang dari Kecamatan Bakauheni hingga Kecamatan Ketapang hingga perbatasan Kabupaten Lampung Timur diakui Subandi sebagian sudah rusak meski di Muara Piluk dengan kesadaran masyarakat hutan bakau masih dipertahankan. Selain digunakan sebagai tempat mencari ikan, masyarakat pesisir masih merasakan manfaat dari keberadaan pohon pohon bakau di sekitar mereka untuk beragam kepentingan jangka panjang.

Sementara itu,salah satu pegiat lingkungan sekaligus kelompok pemuda orang Bakau (OB), Boby, mengaku prihatin dengan sebagian wilayah pantai yang sudah direklamasi dan berubah fungsi menjadi pelabuhan dan perusahaan.Meski demikian masih ada beberapa hutan bakau yang masih dipertahankan diantaranya di wilayah Yogaloka,Pegantungan,Muara Piluk dan sekitar Pulau Rimau Balak.

Boby mengungkapkan, manfaat keberadaan hutan mangrove atau bakau diantaranya teluk-teluk terlindung dari gempuran ombak, selain itu di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Rumah rumah warga nelayan yang berada di sekitar hutan bakau bahkan bisa terlindung dari terjangan ombak dan angin.

Ia mengungkapkan ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya pertukaran udara tanah, kadar garam tanahnya yang tinggi serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

“Kami para pemuda di sini ingin menyelenggarakan penanaman bakau bekerjasama dengan pegiat lingkungan namun terkendala lokasi karena sebagian tanah sudah dimiliki perusahaan,”ungkapnya.

Upaya mempertahankan hutan mangrove tersebut bukan tanpa alasan karena manfaat dan fungsi hutan mangrove secara fisik antara lain: Penahan abrasi pantai, penahan intrusi (peresapan) air laut ke daratan, penahan badai dan angin yang bermuatan garam, menurunkan kandungan karbondioksida (CO2) di udara (pencemaran udara), penambat bahan-bahan pencemar (racun) di perairan pantai.

Selain itu manfaat langsung berkaitan dengan kelangsungan satwa yang tinggal di sekitar bakau dan fungsi hutan bakau secara biologi antara lain: tempat hidup biota laut, baik untuk berlindung, mencari makan, pemijahan maupun pengasuhan, sumber makanan bagi spesies-spesies yang ada di sekitarnya, tempat hidup berbagai satwa lain semisal kera, buaya, dan burung. Beberapa hewan yang bisa dimanfaatkan nelayan dapat dimanfaatkan nelayan secara ekonomis diantaranya

Manfaat dan fungsi hutan bakau secara ekonomi antara lain: tempat rekreasi dan pariwisata, sumber bahan kayu untuk bangunan dan kayu bakar, penghasil bahan pangan seperti ikan, udang, kepiting, dan lainnya, sumber mata pencarian masyarakat sekitar seperti dengan menjadi nelayan penangkap ikan dan petani tambak.

Meski manfaat cukup banyak namun sebagian perusahaan diakuinya banyak yang melanggar penggunan hutan bakau bahkan ada yang melanggar Kepres. Boby mengungkapkan untuk konservasi hutan mangrove dan sempadan pantai, Pemerintah R I telah menerbitkan Keppres No. 32 tahun 1990. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai, sedangkan kawasan hutan mangrove adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat hutan mangrove yang berfungsi memberikan perlindungan kepada kehidupan pantai dan lautan. Sempadan pantai berupa jalur hijau adalah selebar 100 m dari pasang tertinggi ke arah daratan.

“Faktanya masih banyak perusahaan yang melanggar karena merasa memiliki tanah di sepanjang pantai dan sebagian direklamasi dan melenyapkan hutan bakau,”terang Boby.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki dan melestarikan hutan mangrove antara lain diantaranya bekerjasama dengan masyarakat peduli pesisir dengan melakukan penanaman kembali mangrove melibatkan masyarakat.

Ia mengakui perbaikan ekosistem wilayah pesisir secara terpadu dan berbasis masyarakat harus dilakukan. Artinya dalam memperbaiki ekosistem wilayah pesisir masyarakat sangat penting dilibatkan  yang kemudian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain  itu juga mengandung pengertian bahwa konsep-konsep lokal  (kearifan lokal) tentang ekosistem dan pelestariannya perlu ditumbuh-kembangkan kembali sejauh dapat mendukung program ini.


Terkait kebutuhan bibit untuk konservasi hutan mangrove, persemaian permanen Karangsari melalui manajer persemaian Permanen, Slamet, mendukung dengan menyediakan bibit mangrove yang jumlahnya mencapai ribuan bibit.

“Sekarang masyarakat mulai sadar pentingnya konservasi pesisir pantai seperti di Lampung Timur yang mulai menanam di sepanjang pantai dan kita dukung penuh,”terang Slamet.

Ia mengakui kesadaran masyarakat mempertahankan dan merehabilitasi pesisir pantai seiring dengan banyaknya manfaat keberadaan hutan mangrove. Hutan mangrove tersebut digunakan untuk berbagai fungsi ekologis termasuk sumber ekonomi masyarakat nelayan pesisir pantai Timur Lampung.
[Henk Widi]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: