KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016

PONOROGO --- Belajar memang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sepertinya hal itulah yang menjadi acuan belajar sejarah Jawa kuno bersama Mahija Wengker. Dimana komunitas ini dibentuk untuk para pecinta sejarah bumi Wengker yakni Ponorogo, Madiun dan Magetan.


Koordinator Mahija Wengker, Dwi Satya Meirianto menjelaskan komunitasnya memang berisikan orang-orang yang antusias dalam mempelajari sejarah, khususnya sejarah Jawa kuno. Satu kali tiap bulannya, komunitas yang beranggotakan 15 orang ini berkumpul.

"Kami memang biasa blusukan dari satu situs sejarah ke situs sejarah lainnya" jelasnya kepada Cendana News di Pendopo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo, Kamis (29/9/2016).

Komunitas ini merupakan wadah bagi para penghobi sejarah jawa kuno. Mereka kerap blusukan belajar sejarah jawa kuno di berbagai situs-situs sejarah.

"Saat pertemuan biasanya ada penjelasan soal penggunaan senjata tradisional di masa kerajaan kuno di Jawa. Materi yang dipaparkan, jarang didapat dari sekolah. Materi seperti itu didapat dari belajar langsung ke situs-situs Jawa kuno" ujarnya.


Berbagai situs sejarah disambangi untuk mempelajari prasasti dan tulisan kuno yang tertera disana. Menurut Dwi, belajar sejarah mau tidak mau juga harus mempelajari tulisan-tulisan yang tertera di setiap prasasti. Maka, komunitas pun mau tidak mau juga harus belajar aksara Jawa kuno dan perkembangannya.

"Tulisan itu harus dibaca untuk mengetahui. Bahkan ketika usai diterjemahkan, tafsir satu orang dengan orang lainnya pun bisa saja berbeda. Apalagi jika tidak dibaca" imbuhnya.

Dwi menceritakan, ia dan para anggota lainnya awal mula bertemu secara tidak sengaja di Trowulan, Mojokerto. Saat itu tahun 2012, getol isu pembangunan indsutri di area situs bersejarah, Trowulan. Para pegiat dan penghobi sejarah pun ramai-ramai berkampanye menolak wacana tersebut. Disana, Dwi pun kaget lantaran rupanya dia bukan satu-satunya penyuka sejarah dari bumi reyog.

"Ternyata orang Ponorogo banyak juga yang antusias dengan sejarah. Makanya kami pun sepakat membentuk komunitas, tahun 2015 baru diberi nama Mahija Wengker yang artinya Putra Bumi Wengker" pungkasnya. 
(Charolin Pebrianti)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: