SABTU, 17 SEPTEMBER 2016

SUMENEP --- Memasuki musim kemarau yang belum berjalan lama, rupanya sudah mulai membuat petani di Desa Saronggi, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, resah. Pasalnya saat ini sudah banyak tanaman cabai garapannya mengering akibat tidak adanya sumber mata air yang bisa mengaliri sawahnya, sehingga terpaksa memanen tanaman cabai yang pohonnya sudah dalam kering dan mati.

Petani sedang memanen cabai yang sudah mengering
Dampak kekeringan yang terjadi setiap tahun membuat petani yang berada di lahan tadah hujan tidak bisa berbuat banyak, karena untuk melakukan bor sumur sangat kesulitan mendapatkan mata air. Akibatnya tanaman yang digarap pada akhir musim hujan tidak bisa bertahan lama, sehingga ia hanya bisa pasrah melihat kondisi tanamannya yang terus mengering dan tidak bisa dipanen kembali.

“Ya ini sudah banyak tanaman cabai milik petani yang mengering, karena di daerah ini tidak ada aliran air, makanya petani hanya mengandalkan dari air hujan saja. Jika musim kemarau memang banyak tanaman garapan petani yang mati, sehingga tanaman yang digarap pada saat musim hujan terkadang tanpa di panen sudah mengering,” kata Hanina (47), salah seorang petani di Desa Saronggi, Kecamatan Saronggi, Sabtu (17/9/2016).


Disebutkan, bahwa penderitaan petani ketika musim kemarau sudah terjadi sejak lama, namun sayangnya hingga sekarang tidak kunjung ada perhatian dari pemerintah daerah setempat, sebab kekurangan aliran air terhadap sawah yang ada di desa tersebut belum ada solusi. Padahal mayoritas penghasilan masyarakat di daerah itu hanya mengandalkan dari hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Jika sudah mengering seperti ini tidak akan bisa dipanen lagi, padahal kami baru panen cabai sebanyak empat kali. Jadi untuk biaya modal yang dikeluarkan saja belum kembali, sehingga kami akan mengalami kerugian,” jelasnya.

Selama memasuki musim kemarau tanaman cabai yang berada di lahan tadah hujan tidak disiram lantaran kesulitan air, sebab sejak dulu petani hanya bergantung pada air hujan. Sehingga ketika musim kemarau mereka mulai kelimpungan untuk merawat tanaman garapannya agar tetap bertahan hidup.
(M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: