SENIN, 26 SEPTEMBER 2016

CATATAN KHUSUS---Kantor Istana Gubernur DKI Jakarta, laksana Istana Hastina yang gemah ripah lohjinawi, penuh kemilau dunia dan gemerincing uang di berbagai sudutnya. Puluhan Triliun Rupiah ada di dalam APBD DKI Jakarta. Itu yang kelihatan. Sebagai ibukota Negara, 80% uang Negara berseliweran di Provinsi ini. Berbagai uang yang tidak terdeteksi oleh perbankan, juga berseliweran di Batavia. Betapa tidak membuat Ngiler setiap yang ingin berkuasa! 



Apalagi, selepas Jokowi menjadi Presiden, Jakarta ibarat sebuah kursi emas yang mampu melontarkan ke puncak kekuasaan Indonesia. Meskipun di era demokrasi liberal modern Indonesia, dalam perbincangan para Mafia kekuasaan, kekuasaan seorang Presiden hanyalah sosok wayang tanpa keris dan senjata, mahkota imitasi semu belaka. Isu tentang Sembilan Naga yang mengendalikan Jokowi dan Ahok, telah menjadi obrolan akrab di pasar dan gardu ronda.  Tapi, mahkota Gubernur Jakarta, sudah telanjur disepadankan dengan Wahyu Cakraningrat (wahyu kepemimpinan dalam dunia pewayangan).   

Kenyataan sekarang, dua tahun terakhir, Ahok telah menjadi raja kecil dan memakai Mahkota yang ditinggalkan Jokowi. Dialah penguasa DKI Jakarta, hingga beberapa hari lagi, sampai benar-benar dalam posisi cuti untuk maju Pilkada. 

Sebagai pemegang sisa mahkota Jokowi di Jakarta, Ahok tampil sebagai sosok Buldoser yang tidak peduli untuk menggusur apa pun dan menggasak siapa pun. Dia tidak peduli dengan nasib kalangan bawah. Yang penting membangun Jakarta dengan megah. Tak jarang, ia tampil dengan pongah, congkak, songong, dan tengil. Di berbagai sudut Jakarta, bahkan hingga seluruh pelosok Nusantara, Ahok muncul sebagai sosok yang sangat dibenci dan menjadi musuh bersama. 

Pergub Halal Kandas di Tangan Ahok Penggemar Babi

Bagaimana tidak pongah, ada sebuah Peraturan Gubernur tentang Program Halal DKI Jakarta yang telah ditandatangani oleh Jokowi, dimasukkan peti es oleh Ahok. Seorang pejuang Pergub Halal itu sempat bilang, berulangkali menyurati dan menemui Ahok. Tapi, Ahok tidak bergeming. Ahok bersikap persetan dengan Pergub Halal yang ditandatangani Jokowi. Kandas sudah mimpi peradaban halal. Selamat diajak makan babi dan segala yang haram bersama Ahok! 

“Saya saja makan babi. Ngapain saya meneruskan Pergub Halal itu!” jawab Ahok sambil bersungut ketus kepada Aktivis Halal yang sangat senior ini, beberapa waktu lalu. 

Di sisi lain, Ahok menyihir seluruh PNS DKI Jakarta, Guru, Kepala Sekolah, dengan gaji yang bejibun. Bahkan, pasukan tukang sapu berseragam oranye di seantero Jakarta, disihir dengan pendapatan empat juta rupiah! Mereka tersungkur dalam pelukan Ahok. Semua tersihir dan tidak sadar, bahwa ada belitan tirai bambu raksasa yang mengancam mereka. 

Bulan Februari 2017 mendatang, adalah momentum untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat yang pernah didapat oleh Jokowi. Ahok kembali maju dengan memakai Kapal besar dari empat Partai, didampingi Jarot Saiful Hidayat sebagai kader PDI-P.

Suasana Pilkada DKI Jakarta panas dan terkejut, ketika SBY dan tiga partai Islam, mengusung Mayor Agus Harimurti Yudhoyono yang masih berusia 38 tahun bersama Sylviana Murni (Deputy Gubernur DKI Jakarta). Sedangkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, dengan memakai tiket Gerindra dan PKS, maju menggempur Ahok sebagai Petahana.   

Ahok sudah dicap sebagai pesuruh Blok Cina Daratan (RRC) yang telah jamak dituduh akan mencaplok Republik Indonesia. Sedangkan Anies Baswedan disosokkan sebagai lambang dari Islam moderat, bahkan dituduh bagian dari Jaringan Islam Liberal. Artinya, Kelompok Tempo dan Kompas akan di belakang Anies. Sedangkan Agus Harimurti Yudhoyono, disosokkan bisa merangkul kepentingan Internasional Barat dan Singapura, karena ia sempat kuliah di Singapura dan Amerika. 

Situasi Menjelang Pilkada DKI Jakarta pada Februari 2017 mendatang, sangat mirip dengan situasi kisah perebutan wahyu Cakraningrat dalam Mahabharata. Wahyu Cakraningrat (wahyu kekuasaan) itu, dalam masa Pilkada DKI Jakarta ini, berwujud dalam mahkota Gubernur DKI Jakarta. Siapa yang memegang posisi Gubernur Ibukota Republik Indonesia, ia berpeluang mencalonkan diri menjadi Presiden Indonesia pada 2019.

Dalam jagad pewayangan, turunnya Wahyu Cakraningrat seperti peristiwa “lailatul qadar” di bulan ramadhan, tidak ada seorang pun yang akan tahu. Dewa Jagadnata pun tak tahu, kapan dan di mana tepatnya, dan siapa yang akan kejatuhan pulung ini. 

Dalam kisah pewayangan, ada tiga Ksatria yang dijagokan dan berebut Wahyu Cakraningrat ini. Jumlahnya sama dengan tiga Ksatria modern yang berebut Wahyu Cakraningrat di Pilkada DKI Jakarta. 

Anies Baswedan adalah Sosok Raden Samba, Putra Kresna

Ksatria pertama adalah putra mahkota kerajaan Dwaraka, Raden Samba, anak Prabu Kresna. Sosoknya sangat pandai, tapi ambisius. la seorang yang sangat elok roman mukanya, hingga kebagusannya ini dibuat perumpamaan orang yang beroman muka elok, dianggap sebagai Samba. Samba bermuka mendongak. bersuara nyaring bergema. Pandai bicara yang memikat hati. Samba pandai menjadi juru bicara. Ia berhasil menjadi juru bicara Arjuna untuk mempersunting Subadra. Tetapi ia tidak berkesaktian. Pamornya di masyarakat tidak terlalu mencorong. Sosok ini mirip dengan Sosok Anies Baswedan yang sempat menjadi Juru bicara Jokowi-Jusuf Kalla. 

Ahok adalah Sosok Raden Lesmana Mandrakumara, Putra Mahkota Kurawa

Sosok Ksatria kedua adalah Raden Lesmana Mandrakumara, penerus trah (dinasti) Kurawa yang sudah diplot ayahnya Prabu Duryudana akan menjadi raja Hastina berikutnya. Lesmana adalah anak yang amat dimanjakan orang tuanya. Didukung kedudukan ayahnya yang raja besar maka kemanjaan Lesmana makin menjadi-jadi. Semua kemauannya dituruti. 

Lesmana adalah anak yang bodoh dalam akademik, kalau sekolah sering bolos, suka dugem, dan suka menggoda perempuan. Lesmana termasuk anak yang kurang “tapabrata” atau prihatin. Lesmana tampak kendor dan matanya jelalatan atau pecicilan. Kelihatan sekali kalau Lesmana ini Ngawur dan bertindak tanpa pikir panjang. Sosok Lesmana ini sangat mirip dengan Ahok yang sering congkak dan pongah, tapi disukai oleh para kurawa pengikutnya yang mendapat keuntungan dari kesewenang-wenangan Lesmana. Ahok digadang-gadang kelompok Cina menjadi penerus Jokowi dan Megawati sebagai Presiden Indonesia.

Agus Yudhoyono adalah Sosok Abimanyu, Putra Mahkota Pandawa

Sosok Ksatria ketiga yang memperebutkan Wahyu Cakraningrat adalah Abimanyu. Salah satu tokoh pewayangan dalam legenda mahabarata yang merupakan putra Arjuna dan Subadra. Abimanyu memiliki sifat yang halus,tanggung jawab, pemberani, dan keras hati. Nama abimanyu berasal dari bahasa sansekerta yakni abdhi artinya berani dan manyu yang artinya tabiat sehingga abimanyu memiliki arti sebagai manusia yang berani dan berjiwa pahlawan. 

Dalam legenda mahabarata, Abimanyu merupakan ksatria termuda dari para pandawa. Abimanyu sangat mengabdi kepada keluarga dan bangsanya. Abimanyu tak akan pernah gentar walau harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar. Ia akan maju dan pantang menyerah demi membela kehormatan bangsanya. Baginya, kehormatan merupakan nyawa. Ketika kehormatan harus dibela, maka nyawa pun rela dilepaskan. Ia rela berjuang menumpahkan darah demi bangsanya. Sosok pemberani, jenius, dan ahli strategi perang ini dimiliki oleh Sosok Agus Harimurti Yudhoyono. Putra mahkota Susilo Bambang Yudhoyono yang berniat merebut kembali Mahkota keluarganya yang sempat direbut. 

Akhir Tragis Wahyu Cakraningrat

Dalam kisah Mahabharata, upaya memperoleh Wahyu Cakraningrat, yang konon pemegangnya akan menjadi penerus tahta Hastina, Lesmana Mandrakumara bersaing dengan Abimanyu dan Samba (Anak Kresna). 

Perjuangan mendapatkan Wahyu Cakraningrat tidaklah mudah. Sejumlah syarat harus dipenuhi agar Wahyu Cakraningrat bisa sejiwa dengan satria terpilih. Adapun syarat yang harus dipenuhi adalah: mampu handayani (membuat contoh yang baik) kepada rakyat, berpegang pada kejujuran, mampu memberikan keteladanan, mampu memberikan rasa tenteram kepada rakyat, mampu memberi rasa kasih sayang pada rakyat, mempunyai perilaku amanah, mampu merekatkan seluruh rakyat tanpa memandang latar belakang, agama, ras dan budaya, serta harus peduli terhadap lingkungan. 

Raden Lesmana Mandrakumara ingin memiliki Wahyu Cakraningrat, dan dia harus bertapa di hutan Gangga Warayang. Pada saat ditanya tentang kesanggupannya bertapa di hutan, maka Raden Lasmana Mandrakumara menjawab sanggup bertapa di hutan tersebut. Namun, dia ingin agar dijaga paman-pamannya, di antaranya adalah Sengkuni dan Drona. 

Yang paling penting bagi Lasmana Mandrakumara adalah membawa minuman dan makanan dengan tujuan agar tidak kelaparan pada saat bertapa meraih wahyu. Dengan demikian diri si tapa akan tenang sehingga wahyunya nanti akan mudah menyatu ke tubuh (manjing sarira), itulah pemikiran para sesepuh Hastina. Keberangkatannya di antar oleh para punggawa prajurit berkuda. Lasmana Mandrakumara naik Joli Jempana yaitu kereta yang ditarik lebih dari dua ekor kuda. 

Lain lagi dengan putra mahkota Dwarawati satriya Parang Garuda Raden Samba. Dia Ksatria yang pemberani juga ingin bertapa di dalam hutan Gangga Warayang untuk meraih Wahyu Cakraningrat. Kebertangkatannya diantar oleh para senapati sampai di perbatasan kraton. Selanjutnya berangkat sendiri dengan berjalan kaki. 

Ketika dalam perjalanan, Raden Samba bertemu dengan orang-orang Kurawa yang juga akan menuju ke hutan Gangga Warayang guna menyambut turunnya Wahyu Cakraningrat. Secara persaudaraan mereka saling bertegur-sapa tetapi setelah mengetahui keperluan masing-masing, mereka menjadi selisih pendapat. Awalnya hanya pertengkaran mulut, tetapi akhirnya menjadi pertengkaran fisik. Karena Raden Samba hanya sendirian, maka ia tidak mampu melawan Kurawa, dan akhirnya menyingkir. 

Ada satu kebulatan tekad dalam diri Raden Samba. Walaupun kalah perang melawan orang-orang Kurawa dari Hastina bukan berarti harapan untuk memiliki Wahyu Cakraningrat berhenti. Wahyu Cakraningrat harus bisa diraih dan bisa menjadi miliknya, begitulah pikiran Raden Samba. Agar tidak bertemu dengan orang Hastina yang urakan itu, maka Raden Samba melanjutkan perjalanan menuju hutan Gangga Warayang dari sisi lain. 

Sangat berbeda dengan nasib Raden Abimanyu yang dikeroyok lima raksasa hutan, dan nampak satriya tersebut agak kewalahan. Kebetulan di angkasa, terlihat Raden Gathotkaca yang sedang mencari Raden Abimanyu atas perintah sang paman Raden Arjuna. Dari angkasa, Raden Gathotkaca telah melihat dengan jelas kejadian yang menimpa Raden Abimanyu. Maka, dengan segera dan cepat-cepat turun untuk membantu Raden Abimanyu. Dalam sekejap, tamatlah riwayat lima raksasa pembegal itu di tangan Raden Gathotkaca. 

Setelah beristirahat sejenak, Raden Abimanyu menjelaskan kepada Raden Gathotkaca, bahwa dia sedang mencari Wahyu Cakraningrat. Maka, Raden Gathotkaca dimohon agar pulang dahulu. Setelah Raden Gathotkaca pulang maka Raden Abimanyu melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu gunung yang dijadikan sebagai tempat bertapa.

Sedangkan Punokawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong berada di tempat yang jauh menanti selesainya Raden Angkawijaya (Abimanyu) bertapa. Sudah berbulan-bulan belum ada tanda-tanda selesai bertapa.Tiba-tiba keempat panakawan tersebut di suatu hari waktu larut malam melihat cahaya sangat terang turun di hutan Gangga Warayang bagian timur yang disusul dengan suara gunung meletus. Panakawan bingung, khawatir terhadap tuannya (bendaranya) yaitu Raden Angkawijaya, jangan-jangan suara tadi mengenainya sehingga mengakibatkan kematian. 

Baru saja akan beranjak, tiba-tiba para punakawan mendengar sorak-sorai, yang ternyata adalah orang-orang Kurawa. Mengapa dan ada apa mereka bersorak-sorai? Wahyu Cakraningrat sudah turun dan berada pada diri Raden Lasmana Mandrakumara. Para Kurawa langsung mengajak Raden Lasmana Mandrakumara pulang ke negeri Astina. 

Rasa suka cita yang tiada taranya telah dirasakan oleh semua punggawa Hastina yang dalam hatinya masing-masing merasa sukses dan berhasil. Para golongan tua, di antaranya Drona, dan Sengkuni merasa berhasil dan sukses mendidik Raden Lasmana Mandrakumara. Yang muda merasa berhasil memberikan petunjuk dan arahannya kepada putra mahkota itu dan masing-masing merasa berjasa. Sehingga semua berkata “kalau tidak ada saya mungkin gagal untuk mendapat Wahyu Cakraningrat.” 

Rombongan Kurawa segera pulang untuk merayakan keberhasilan Raden Lasmana Mandrakumara. Dalam perjalanan pulang, rombongan Kurawa tidak merasa bahwa perjalanan kembali itu sudah mendapat separuh perjalanan. 

Tiba-tiba Raden Lasmana minta berhenti. Sebab, dia bertemu orang yang berjalan sedang membawa barang bawaan dan tidak menghormat saat berada di depan Raden Lasmana Mandrakumara. Maka, ditendanglah hingga orang itu terguling-guling di tanah dan barang bawaannya terlempar jauh serta hancur berantakan. Begitu ada kejadian seperti itu maka para punggawa yang merasa berjasa cepat-cepat ikut marah. Orang tadi terus dipukuli dan ditendang seperti bola. 

Tiba-tiba, orang itu hilang berubah menjadi cahaya dan kemudian masuk ke tubuh Raden Lasmana Mandrakumara dan keluar lagi bersama Wahyu Cakraningrat. Seketika itu, jatuhlah Raden Lasmana Mandrakumara hingga pingsan. Mereka bersama-sama lari mengejar Wahyu Cakraningrat dan saling mendahului. Raden Lasmana Mandrakumara ditinggal sendirian di tempat itu. Sejenak peristiwa itu berlalu, terlihatlah dua cahaya dari angkasa turun di hutan Gangga Warayang di bagian sebelah barat. 

Tidak lama kemudian, Raden Samba yang bersemedi di tempat tersebut, merasa bahwa dirinya sudah bisa mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Dia sangat bangga bahwa dengan kekuatan sendiri bisa mendapatkan wahyu tersebut. Maka, berangkatlah Raden Samba pulang ke Dwarawati dengan hati yang sombong karena Wahyu Cakraningrat sudah berada pada dirinya. 

Tiba-tiba Kurawa mengejar dan meminta wahyu yang sudah berada pada diri Samba. Sudah barang tentu, Raden Samba tidak memperbolehkan. Terjadilah peperangan yang sengit. Ternyata, tidak ada yang bisa melawan kekuatan Raden Samba. Mereka lari tunggang langgang dan tidak ada lagi yang berani berhadapan dengan Raden Samba. 

Dengan larinya para Kurawa itu, berarti mereka telah kalah dan tidak akan berani lagi mengganggu perjalanan Raden Samba. Demikianlah Raden Samba merasa dirinya paling kuat dan sakti mandraguna. Dia berani mengatakan ”akulah segalanya.” Bahkan Raden Samba telah berani mengukuhkan ”Akulah orang yang akan menurunkan Raja-raja”. 

Sesudah melontarkan kata-kata itu, Samba lalu terdiam sejenak, dia seperti mendengarkan lengkingan kata-kata sang ibu dewi Jembawati ”Anakku Samba, ingat dan hati-hatilah terhadap semua godaan, ingatlah angger”. 

Dasar Samba anak yang congkak dan sombong, kata-kata ibunya itu selalu diingat tetapi tidak diperhatikan. Dalam hati kecil Raden Samba berkata ”namanya orang kuat karena mendapat wahyu maka tak ada yang mampu mengganggu, contohnya Kurawa tak akan mampu mengalahkanku ha..ha..ha…” demikian kata-kata sombong Raden Samba. 

Sejenak, kesombongan Raden Samba sedang bertahta dalam singgasana hatinya. Seketika itu juga nampak di matanya seorang perempuan bersama seorang laki-laki tua. Si perempuan itu masih muda, cantik berkulit kuning langsat, bermata juling. Mereka menghaturkan sembah kepada Raden Samba. Dan tentu Raden Samba sangat rela untuk menerima sembahnya. 

Keduanya ingin mengabdi kepadanya. Itulah keperluan mereka berdua, mengapa keduanya menghadap ke sang penerima Wahyu Cakraningrat. Seketika itu juga Raden Samba berkenan untuk menerimanya. Tapi, si laki-laki ditolak dengan alasan sudah tua dan dipastikan tidak mampu bekerja, dan justru akan membuat kesal saja.

Dengan hinaan itu, menyingkirlah orang tua tersebut. Tentu saja si perempuan cantik itu mengikuti jejak si tua. Tetapi, Raden Samba telah mengejarnya, sambil merayu si perempuan cantik yang mengaku bernama Endang Mundhiasih. 

Mundhiasih menjawab sambil melontarkan kemarahan atas ketidak adilan serta tidak adanya rasa belas kasih terhadap orang tua. Hanya perempuan saja yang dikejar-kejar oleh Samba. Endang Mundhiasih berkata “Wahyu Cakraningratmu tidak pantas untuk menghujat”. Ternyata Mundhiasih dan orang laki-laki tua itu kemudian hilang bersamaan dengan sinar Wahyu Cakraningrat pergi meninggalkan Raden Samba. 

Seketika itu, badan raden Samba terasa lemas bagaikan orang tak berpengharapan dan tidak tahu apa yang akan diperbuat. Bukan main rasa kecewa Raden Samba terhadap watak sombong dan congkaknya ketika merasa wahyunya sudah pergi. Wahyu Cakraningrat tidak kuat menempati rumah (tubuh) yang congkak dan sombong. 

Akhirnya, Raden Samba menyadari bahwa Wahyu Cakraningrat bukanlah miliknya. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Maka, pulanglah Raden Samba ke Kadipaten Parang Garuda di negara Dwarawati.

Di tempat lain, di sebelah selatan hutan Gangga Warayang, terlihat empat punakawan, seperti biasa masih menanti selesainya tapa sang bendara. Pekerjaan seperti ini sudah terbiasa dilakukan oleh para panakawan sejak jaman Maharesi Manumayasa. Namun, pada malam hari, mereka berempat merasa seperti ada bayangan hitam berada tepat di tengah-tengah mereka.

Bayangan tersebut sambil berkata ”Dewata memperkenankan dia untuk menerima Wahyu Cakraningrat”. Demikian para panakawan bergembira ria karena bendaranya telah mendapatkan apa yang didiinginkan. Dan benar, Raden Angkawijaya telah keluar dari pertapaannya. 

Wajah Raden Abimanyu kelihatan cerah bersinar. Tubuhnya nampak segar utuh tanpa cela. Memang itulah tubuh yang telah berisi wahyu. Maka, berangkatlah pulang dan mereka memperhitungkan bahwa apa yang diidamkan telah terlaksana dan selesailah. 

Tapi, tiba-tiba datang para Kurawa mengejar Raden Angkawijaya yang telah mendapat Wahyu Cakraningrat. Para Kurawa mengejar Raden Abimanyu karena ingin merebut Wahyu Cakraningrat. 

Ternyata, para Kurawa tidak mampu mengejarnya hingga Raden Angkawijaya sudah sampai di istana Amarta. Pada saat itu, di Amarta, sedang ada rapat rutin (siniwaka). Mereka semuanya bersyukur karena apa yang diinginkan Angkawijaya telah menjadi kenyataan. Dan Angkawijaya-lah kelak yang akan menurunkan raja-raja di Jawa. 

Tak lama kemudian, terdengar suara ramai di luar. Ternyata, orang-orang Kurawa yang merasa bahwa Wahyu Cakraningrat sudah menjadi milik Raden Lasmana Mandrakumara, mereka inginkan agar Wahyu Cakraningrat dikembalikan kepada Raden Lasmana Mandrakumara. Peperangan antara Kurawa dengan Pandawa tak bisa dihindarkan. 

Dalam Pilkada DKI Jakarta Februari 2017 ini, kita akan melihat sosok Lasmana dalam diri Ahok yang suka semena-mena terhadap orang lain. Kemudian ada sosok Samba dalam diri Anies Baswedan yang pandai menjadi juru bicara, tapi bisa kandas mendapatkan wahyu cakraningrat. Yang terakhir, kita melihat sosok Abimanyu dalam dalam diri Agus Harimurti Yudhoyono yang berbakti kepada orang tuanya, dan berani mati membela bangsanya dengan menjadi Tentara Nasional Indonesia hingga berpangkat Mayor dan menyabet tiga gelar master.   

Apakah Wahyu Cakraningrat akan merasuk dalam diri Agus Harimurti Yudhoyono? Kita lihat saja apa suratan nasib ke depan.

Wahyu Cakraningrat pertamakali memang masuk ke tubuh Lesmana Mandrakumara. Sayangnya begitu tahu memperoleh wahyu, ia langsung berpesta-pora, mabok-mabokan, lupa bersyukur. Wahyu Cakraningrat pun keluar dari badan Lesmana.

Selanjutnya wahyu masuk ke tubuh Samba. Samba tidak berpesta, tapi lupa bersyukur juga. Di jalan tergoda perempuan yang tidak lain adalah jelmaan Batari Durga. Wahyu cakraningrat pun keluar dan masuk ke tubuh Abimanyu.

Langkah pertama Abimanyu adalah bersyukur. Godaan di jalan bisa diatasi. Wahyu Cakraningrat pun menetap di tubuh Abimanyu.

Namun, yang harus diwaspadai oleh Presiden ke VI RI Susilo Bambang Yudhoyono, di dalam perang Bharatayudha Jayabinangun, Lesmana Mandrakumara tewas di tangan Abimanyu. Kala itu, Abimanyu sudah luka parah karena dikroyok Kurawa. Lesmana ingin jadi pahlawan dengan mengakhiri sepak terjang Abimanyu. Tetapi Abimanyu masih mampu membunuh Lesmana Mandrakumara. Sedangkan Raden Samba sudah tewas paling dahulu. 

Yang jelas, kata Batara Narada, “Barang siapa bisa mendapatkan Wahyu Cakraningrat, kekuasaannya akan membentang dari barat sampai ke timur, dari utara  sampai ke selatan, melebihi kekuasaan raja agung Iskandar Zulkarnain. Dia akan menjadi raja bagi seluruh umat manusia di bumi! 

Wahyu Cakraningrat, sejatinya, adalah “sebuah ruh” Batara Cakraningrat, atau lebih tepatnya adalah “spirit” Cakraningrat. Dia bisa eksis di madyapada dengan syarat: yaitu harus ada “kurungan kencana” (jasad emas) yang memang tepat dan pantas buat dia. Ya, Cakraningrat! Cakra adalah roda, ningrat adalah kemuliaan. Dia adalah sesuatu yang terus bergerak, menggelinding dengan membawa unsur-unsur kemuliaan. Batara Cakraningrat selalu mencari dan mencari ‘kurungan kencana’ yang bersih lahir batin, yang cerdas, yang tahan godaan, yang tahan fitnahan, yang “sepi ing pamrih – rame ing gawe”, berbudi luhur, jujur, dapat dipercaya, mempunyai kesabaran tinggi, dan kepekaan sosial yang tinggi.

Apa itu kepekaan sosial yang tinggi? Yaitu yang dekat (tahu) dengan (masalah) rakyat, peduli dengan rakyat, dan suka menolong. Batara (spirit) Cakraningrat tidak akan bisa bersenyawa dengan kurungan (jasad) siapapun kecuali dengan ‘kurungan kencana’ ini. Jika mereka berhasil bertemu, kemudian bersenyawa, maka, kedahsyatannya akan tampak hingga mampu menggenggam dan mengelola dunia ini dengan baik.

Wahyu Cakraningrat akan menjelma menjadi satria agung karena lahir melalui proses persenyawaan antara pengalaman hidup, pengalaman batin, dan wahyu yang selalu menyadarkannya kepada Sang Hyang Akarya Jagad, bahwa dirinya adalah sang pembawa misi Tuhan di muka bumi ini. 

Hanya Raden Abimanyu yang mendapatkannya, tetapi sayang dia gugur muda di tangan Patih Aswatama, anak tunggal Resi Durna yang dendam karena ayahnya dibunuh Abimanyu pada perang Baratayuda. Satria Pilkada DKI Jakarta mana kira-kira yang akan dipilih Batara Cakraningrat? 

Saya sadar, tulisan ini akan membuat saya dituduh sebagai corong Susilo Bambang Yudhoyono. Persetan dengan tuduhan itu. Tapi, jika SBY tidak hati-hati, Agus Harimurti Yudhoyono bisa terancam nasibnya seperti Abimanyu. Kecuali sang Ayah dan seluruh pasukan terus mengawal Agus dan Sylviana untuk menggempur pertahanan Kurawa yang telah menerapkan strategi formasi perang Cakrawyuha. Agus pasti bisa menghancurkan formasi itu. Tapi, seluruh sesepuh harus ikut turun lapangan secara total. Agar Abimanyu tidak dihujani oleh panah dari kurawa dan mencabik-cabin tubuh Abimanyu! Semoga, Agus tidak bernasib seperti Abimanyu!

Salam Demokrasi dan Pancasila


THOWAF ZUHARON

Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih
Lahir di Klaten, pada September 1982. Ibunya adalah keluarga santri Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Babat Klaten, sedangkah ayahnya dari keluarga santri Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Sejak kecil, telinganya telah mendengar kisah nyata dari Nenek dan Ibunya tentang kejamnya para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak kerabat dekat kakek-neneknya dari kalangan NU yang gugur, dibunuh dengan keji oleh para PKI, beberapa waktu sebelum meletus peristiwa Gestapu 1965. Kakeknya yang ada di Klaten, sebenarnya juga menjadi target pembunuhan para PKI sebelum 1965, tapi berhasil lolos. Buku ini (Ayat Ayat yang Disembelih) adalah dedikasinya untuk para keluarganya yang gugur dibunuh PKI. Sejak masih SMA, Thowaf Zuharon banyak berkecimpung di dunia riset, organisasi sosial, penulisan, dan bisnis. Ia banyak menulis Jurnalistik, Sastra, Artikel, dan berbagai genre penulisan lain di berbagai media dan buku. Berbagai penghargaan kepenulisan tingkat nasional pernah ia raih. Thowaf Zuharon berumah di facebook.com/thowafzuharon.
Bagikan:

Sari Puspita Ayu

Berikan Komentar: