JUMAT, 9 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Ratusan ekor unggas liar jenis Burung Pleci dengan jumlah total sekitar 750 ekor diamankan petugas Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandar Lampung Wilayah Kerja Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung. 


Ratusan ekor burung tersebut sebagian mati dalam perjalanan dan hanya bisa diselamatkan sebanyak 690 ekor burung hidup sehingga akhirnya jenis Pleci tersebut secepatnya terpaksa dilepasliarkan oleh petugas karantina di area kantor BKP Bakauheni untuk menghindari kematian jenis burung berkicau itu lebih banyak. Sebagian burung yang sudah mati dimusnahkan dengan cara dibakar untuk menghindari penyakit dari media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK).

Menurut Drh.Isasias Gilang Aditya mendampingi kepala balai karantina pertanian kelas I Bandar Lampung wilker Bakauheni Drh.Azhar ratusan ekor burung tersebut dibawa dalam sebanyak 16 keranjang buah yang diletakkan dalam bagasi kendaraan bus. Namun saat bus penumpang tersebut akan membeli tiket di pelabuhan Bakauheni petugas polisi di Seaport Interdiction Bakauheni mengamankan puluhan keranjang buah berisi ratusan ekor Burung Pleci tersebut.

“Dini hari petugas karantina mendapat laporan dari petugas seaport interdiction adanya temuan pengiriman satwa jenis unggas liar yang akan dilalulintaskan tersebut dan langsung ditangani petugas dengan melakukan pengecekan dokumen dan ternyata tidak ditemukan,” ungkap Drh.Isasias saat dikonfirmasi media Cendana News seusai pelepasliaran unggas jenis burung tersebut di kantor BKP Bakauheni, Jumat (9/9/2016)

Ratusan ekor burung tersebut menurut Drh.Isasias ditemukan dalam bagasi penumpang berikut barang barang bawaan penumpang pada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) bernomor polisi BH 7794 FU dikendarai oleh Heri yang akan menuju ke Jakarta.

Berdasarkan keterangan sopir ratusan ekor burung tersebut dibawa dari Solok Provinsi Sumatera Barat dan rencananya akan dikirim ke Pasar Rawangun Jakarta Timur untuk dijual ke sejumlah pasar burung.


Pelalulintasan satwa unggas liar jenis Burung Pleci tersebut menurut Drh.Isasias melanggar Undang Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan ikan dan tumbuhan. Pelanggaran yang dilakukan diantaranya karena hewan tersebut tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan oleh karantina pertanian yaitu surat keterangan kesehatan hewan dari daerah asal, tidak dilaporkan kepada petugas karantina di tempat pengeluaran serta tidak memiliki dokumen apapun dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

Menurut Drh.Isaias berdasarkan cara penangkapakan Burung Pleci dalam jumlah banyak tersebut dilakukan dengan sistem pengumpulan dan setelah banyak baru dilalulintaskan. Sesuai prosedur pengepulan satwa jenis burung harus mendapat izin dari BKSA setempat.

Pelepasliaran jenis burung tersebut dilakukan oleh BKP Bakauheni terutama akibat pemilik tidak bisa menunjukkan dokumen karantina dan dokumen yang lain. Sebelum melepaskan sebanyak 690 ekor Burung Pleci sebelumnya BKP juga melepasliarkan sekitar 1500 ekor burung berbagai jenis akibat dilalulintaskan tanpa dokumen karantina.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: