SENIN, 19 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Maraknya bus bus penumpang antar kota antar provinsi (AKAP) mengangkut satwa dilindungi dan tidak dilindungi dari wilayah Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu, Provinsi Lampung dan beberapa wilayah di Pulau Sumatera mengakibatkan Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I wilayah kerja Pelabuhan Bakauheni gencar melakukan operasi rutin. Upaya tersebut dilakukan untuk memberi kenyamanan dan keamanan penumpang bus dari bahaya penyakit flu burung (avian influenza) akibat berada dalam satu angkutan dengan hama penyakit hewan karantina (HPHK) khususnya unggas jenis burung.


Penyidik BKP Wilker Pelabuhan Bakauheni, Buyung Hadiyanto, mendampingi penanggungjawab kantor BKP Wilker Pelabuhan Bakauheni, Drh. Azhar, mengungkapkan secara khusus operasi rutin merupakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) karantina pertanian untuk mencegah pelalulintasan HPHK tanpa dokumen melalui pintu masuk Pelabuhan Bakauheni.

Lalulintas media pembawa organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) dan hama penyakit hewan karantina (HPHK) antar pulau melalui Pelabuhan Bakauheni dari beberapa wilayah di Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa menurut Buyung terjadi selama 24 jam dan selalu diawasi oleh petugas di beberapa titik meski kadang masih sempat lolos.

“Operasi rutin kepatuhan kita galakkan untuk mencegah media pembawa HPHK dan OPTK yang tanpa disertai dokumen dan kita sebagai petugas bekerja selama 24 jam memeriksa setiap kendaraan yang diduga membawa komoditas pertanian sesuai UU Karantina,“ terang penyidik BKP wilker Pelabuhan Bakauheni, Buyung Hadiyanto saat dikonfirmasi Cendana News, Senin pagi (19/9/2016)

Kecenderungan bus bus penumpang membawa satwa liar dilindungi dan tak dilindungi menurut Buyung terjadi dalam kurun waktu satu tahun terakhir meski telah dilakukan sosialisasi kepada perusahaan otobus (PO) AKAP. Beberapa perusahaan otobus bahkan telah membuat surat pernyataan tidak akan membawa satwa dilindungi atau tanpa dilindungi di dalam bus penumpang. Meski demikian bus bus lain mulai menjadi jalur ekspedisi baru yang mulai digunakan para penyelundup satwa dengan harapan tidak diperiksa petugas. Himbauan kepada pengurus bus, pemilik bus gencar disosialisasikan berkaitan dengan potensi penyakit sesak nafas, flu burung, serta ketidaknyamanan penumpang terutama saat satwa tersebut dijadikan satu dalam kabin penumpang.


Meski sebagian bus AKAP sudah tidak lagi menerima jasa ekspedisi satwa tersebut pihak karantina pertanian masih menemukan beberapa bus membawa satwa dan komoditas pertanian tanpa dokumen seperti yang dilakukan dalam operasi rutin sejak Minggu malam (18/9) hingga Senin pagi (19/9) dengan ditemukannya bus AKAP dari Pulau Jawa tujuan Sumatera dan bus AKAP dari Pulau Sumatera tujuan Pulau Jawa.

Buyung menerangkan dalam operasi sepanjang malam dilakukan di pintu keluar dan pintu masuk Pelabuhan Bakauheni petugas berhasil mengamankan satwa yang diangkut dalam bus penumpang tanpa dilengkapi dokumen resmi. Satwa yang diamankan diantaranya jenis burung Kolibri sebanyak 2 keranjang buah dengan total mencapai 100 ekor tujuan Bandung Jawa Barat asal Palembang dalam Bus Limberta. Keranjang berisi burung kolibri dimasukkan dalam kabin bus bagian belakang kursi penumpang yang di dalamnya terdapat resi pengiriman atas nama Fallah.

Di saat yang sama petugas BKP juga mengamankan dari bus BSI bernomor polisi D 7602 AL asal Tasikmalaya Jawa Barat tujuan Prabumulih yang membawa dalam bus penumpang sebanyak 4 sangkar berisi burung Beranjangan. Burung tersebut dimasukkan dalam kursi penumpang dan menimbulkan aroma tak sedap dari pakan. Selain satwa jenis burung petugas dalam razia rutin juga menemukan sekitar 50 kilogram madu dari bus  Pahala Kencana asal Palembang dengan kasus sama tidak memiliki dokumen  yang dipersyaratkan Balai Karantina Pertanian.


Buyung mengungkapkan sesuai Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan sebagian besar pengiriman media pembawa HPHK semua satwa tersebut tanpa disertai izin pengepul dan surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri (SATS-DN) dan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari daerah asal.

Operasi kepatuhan rutin yang dilakukan Balai Karantina Pertanian terus menerus selama 24 jam dengan terbagi menjadi beberapa regu petugas selama satu pekan juga berhasil menggagalkan upaya penyelundupan satwa liar dilindungi diantaranya satwa alap alap tikus sebanyak  14 ekor alap alap tikus dan elang brontok sebanyak 2 ekor, 6 ekor macan akar, 2 ekor elang brontok dan sebanyak 15 ekor musang bulan. Selain satwa satwa tersebut BKP juga mengamankan sebanyak 63 ekor burung jenis sutra, 3 ekor burung anis,13 ekor burung murai batu, 3 ekor burung cabe.

Pengamanan satwa satwa tanpa dokumen resmi dari karantina tersebut rata rata menggunakan bus penumpang antar kota antar provinsi diantaranya bus BSI bernomor polisi D 7206 AL asal Palembang dan Bus Ranau Indah bernomor polisi BG 1716 AU asal Palembang tujuan Jakarta.

Satwa satwa tanpa dokumen dari Karantina dan BKSDA tersebut selanjutnya diserahkan ke pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi wilayah III Lampung-Bengkulu untuk mendapat perawatan terutama jenis satwa dilindungi yang masih cukup muda. Sementara jenis burung liar yang tak dilindungi langsung dilepasliarkan di alam bebas sesuai habitat aslinya.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: