SELASA, 6 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG---Ribuan petani di Kabupaten Lampung Selatan memiliki cara tradisional dalam mempercepat musnahnya sisa hasil pertanian berupa jerami padi dengan cara melakukan pembakaran. Pembakaran jerami tersebut kerapkali menimbulkan polusi berupa asap yang mengganggu pernafasan berupa aroma tak sedap, mengganggu penglihatan yang sudah pasti mengganggu perjalanan para pengendara. 



Selain gangguan tersebut diatas, pembakaran juga mengakibatkan unsur tanah menjadi keras (bantat) dan bahkan mengakibatkan unsur hara tanah menghilang berimbas pada berkurangnya kesuburan tanah. 

Kebiasaan tersebut kini mulai berkurang dengan adanya himbauan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Pertanian berupa larangan melakukan aktifitas pembakaran jerami.

Mualimin, Kepala Unit pelaksana tekhnis daerah (UPTD) Tanaman Pangan dan Hortikultura Kecamatan Penengahan mengungkapkan himbauan tersebut sudah diberlakukan sejak masa kepemimpinan Bupati  Rycko Menoza hingga kini. 

Sosialisasi, himbauan, larangan diberikan melalui para penyuluh pertanian yang ada di setiap kecamatan diantaranya di Kecamatan Penengahan melalui Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K). 



Dampaknya, dalam kurun waktu beberapa semester sebagian besar petani mulai mengurangi aktifitas membakar jerami bahkan ada petani yang menghentikan aktifitas membakar jerami dan mulai dimanfaatkan secara ekonomis.

"Kini jika kita lewat melalui jalan lintas Sumatera di ruas Kecamatan Penengahan hampir jarang ditemui petani yang melakukan aktifitas membakar jerami karena mereka sudah mengindahkan himbauan penyuluh pertanian, dampaknya tentu positif dengan kondisi udara lebih segar, dan tak ada polusi udara," terang Mualimin saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (6/9/2016).

Mualimin mengungkapkan peranan para penyuluh pertanian dalam meneruskan himbauan dari pemerintah tersebut diikuti oleh kesadaran para petani akan pentingnya manfaat jerami dalam mempertahankan unsur kesuburan tanah. 

Ia mengungkapkan dengan memanfaatkan jerami justru akan memberi nilai positif bagi petani , diantaranya dengan cara ditumpuk di satu lokasi jerami bisa dijadikan media untuk proses tumbuhnya jamur merang yang bisa dikonsumsi. Selain itu jerami yang tidak dibakar kini dimanfaatkan oleh sebagian petani sebagai bahan pakan untuk ternak sapi dan kerbau. Sementara bagi para petani yang tidak memiliki ternak, jerami mulai dimanfaatkan secara ekonomis dengan cara menjualnya ke peternak besar yang mencari jerami sebagai sumber pakan.



Mualimin mencatat beberapa petani bahkan telah melakukan proses pengumpulan jerami dengan cara mengikat jerami sisa panen dan dijual ke peternak dengan harga Rp2.000,- per ikat. 

Potensi ekonomi tersebut berdampak pada penghasilan tambahan dan mencegah serta mengurangi aktifitas petani yang selama ini masih membakar jerami di lahan pertanian sawah. Sebagian petani nampak menyediakan lokasi khusus untuk mengumpulkan jerami dengan tujuan untuk digunakan untuk berbagai keperluan diantaranya untuk bahan baku membakar batu bata, membuat bendungan dan sebagian memanfaatkan untuk campuran pembuatan batako dan paving blok.

Hingga pekan pertama bulan September, sejumlah petani di Kabupaten Lampung Selatan telah memasuki masa panen. Luasan panen terbesar berada di Kecamatan Simomulyo, Kecamatan Penengahan, Kecamatan Way Panji dengan rata-rata 50 persen lahan pertanian sudah dipanen. 

Meski demikian, beberapa petani di wilayah tertentu masih melakukan aktifitas membakar jerami dengan alasan lebih cepat memusnahkan sampah sisa pertanian tersebut. Kebiasaan petani setempat masih membakar jerami dilakukan akibat kurangnya sosialisasi dari penyuluh dan keinginan petani untuk membersihkan lahan sawah lebih cepat. 

"Sudah semacam tradisi karena proses pembakaran jerami lebih mudah digunakan untuk membersihkan lahan pertanian agar bisa melakukan aktifitas lanjutan menggarap lahan," ungkap Mualimin.

Mualimin mengaku tak pernah lelah memberi sosialisasi sesuai himbauan dari Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Selatan untuk tidak membakar jerami. Ia selalu memberikan penyuluhan kepada petani terkait banyaknya manfaat jerami diantaranya dapat menjadi kompos atau pupuk organik dengan cara dikubur di persawahan tersebut atau dibiarkan menumpuk saja di satu lokasi. Jika dibiarkan menumpuk secara otomatis akan menjadi kompos sehingga tanah menjadi subur. (Henk Widi)

Bagikan:

Redaksi Cendana News

Berikan Komentar: