SABTU, 17 SEPTEMBER 2016

LOMBOK TIMUR --- Selain penghasil lobster dan rumput laut, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) bagian selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu daerah penghasil garam terbesar di NTB, dengan produksi garam setiap minggu mencapai puluhan ton.


Desa Tanjung Luar misalkan merupakan salah satu daerah penghasil garam yang berdekatan langsung dengan pantai Tanjung Luar, setiap minggu para penambak garam mampu menghasilkan puluhan karung garam dengan gumpalan besar dan dipasarkan di sejumlah pasar tradisional Lombok Timur, maupun beberapa Kabupaten lain di NTB.

Meski demikian banyak masyarakat penambak garam yang mengeluhkan harga garam yang tidak banyak mengalami kenaikan, meski sudah sekian lama menambak garam, harga garam dinilai masih sangat murah dan belum sesuai harapan.

"Harga garam masih murah, tidak pernah ada perubahan, satu karung pupuk, hanya dihargakan 50 ribu oleh para pengepul" kata Suhirman, penambak garam penggarap, Desa Tanjung Luar kepada Cendana News, Sabtu (17/9/2016).

Padahal, tambah Suhirman, untuk bisa menghasilkan gumpalan garam dari tambak yang dikelola, butuh proses dan kesabaran di tengah sengatan sinar matahari yang terasa menyengat dan membakar kulit.

Wirhanudin, penambak garam penggarap lain berharap harga garam bisa ada kenaikan, dari harga sekarang, supaya masyarakat penambak garam, terutama penambak penggarap bisa mendapatkan keuntungan.

Mengingat, dengan harga 50 ribu satu karung pupuk urea, keuntungan didapat tidak seberapa, karena belum lagi harus dibagi dua dengan pemilik penambak.

"Sebagian besar penambak garam di Tanjung Luar merupakan penambak garam penggarap, hanya satu dua yang memang murni milik warga Desa Tanjung Luar, artinya kalau harga garam satu karung pupuk 50 ribu, berarti harus dibagi dua dengan pemilik menjadi 25 ribu, dengan hasil panen garam satu kali panen, antara 10 sampai 12 karung, jelas tidak seberapa" pungkasnya.
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: